
Alesya pulang ke rumah diantar oleh Alvi. Mereka sepakat akan pergi ke hotel bersama dan pulang bersama.
Alesya membaringkan tubuhnya di atas kasur. dia sangat lelah. Tubuhnya hampir remuk semuanya. dia yang selama ini tidak pernah membereskan kamarnya sendiri sekarang malah menjadi housekeeping di hotelnya.
"Non Alesya pasti sangat lelah. Ini bibi buatkan skoteng kesukaan non Alesya. Di makan ya non." bibi meletakkan mangkok diatas meja rias.
"terima kasih bibi. Bibi emang tahu betul kesukaan aku. Bibi nomor empat yang paling the best." kata Alesya sambil mengacungkan jempolnya.
"nomor empat? Apa maksudnya non?" tanya bibi yang tidak mengerti.
"bibi yang terbaik nomor empat. Setelah Oma, mami, papa. Bibi selalu tahu apa yang aku suka dan butuhkan." puji Alesya.
"tentu saja dong non. Bibi harus bisa tahu segala hal tentang kesukaan penghuni rumah. Agar bisa bekerja dengan sangat baik. Ini juga bibi belajar dari mami cara bikin skotengnya. Semoga seenak bikinan mami ya non. Kalo mau tambah di bawah masih ada satu panci besar." ucap bibi sambil senyum-senyum.
"okeh, bi. Siap aku akan coba. Sekali lagi terima kasih ya bi." Alesya beranjak dari kasur dan mencicipi skoteng buatan asisten rumah tangganya.
Alesya menghirup wangi aroma jahe dan susu dari mangkok yang berisi skoteng. Wanginya sangat menggugah seleranya. Dia langsung menyendok dan melahapnya.
Alesya lalu membuka matanya lebar. "Skoteng buatan bibi hampir seenak buatan mami. Ternyata bibi pintar juga memasak." Alesya menghabiskan semangkok skoteng yang membuat tubuhnya menjadi relaks dan hangat.
"Alhamdulillah, kenyang." ujarnya sambil mengelus perutnya yang sudah terisi.
"Aku sebaiknya melihat Tasya dan Devano dulu. Tasya sebentar lagi akan naik ke sekolah menengah pertama dan Devano akan segera naik ke kelas satu sekolah dasar. Mereka semua harus tambah rajin belajar dan lebih bersemangat lagi." Alesya berjalan keluar kamar dan pergi ke kamar adik-adiknya.
Alesya melihat Tasya sedang menghafal ulang perkalian dan pembagian. Sedangkan Devano sedang asik membaca buku cerita. Mereka berdua ternyata sangat sadar akan belajar. Mereka sudah menjadi anak yang mandiri. Alesya tersenyum melihat kedua adiknya sangat semangat.
"Sepertinya gajianku Minggu ini akan aku pakai membeli hadiah untuk mereka berdua. Mereka pasti sangat suka."
Alesya dan teman-temannya memang magang di hotel. Hanya saja, mereka mendapatkan uang transportasi dan juga uang makan yang akan dibagikan setiap satu Minggu sekali di hari Sabtu. Sedangkan hati Minggu mereka libur bekerja.
besok adalah hari Sabtu. Berarti Alesya akan gajian mingguan. Alesya sudah memikirkan hadiah apa yang akan diberikan untuk Tasya dan juga Devano.
Alesya kembali ke kamarnya. Dia mandi dan langsung pergi tidur. Tubuhnya sangat letih dan harus segera dibawa istirahat. Malam ini dia tidak menunggu mami dan papanya pulang sangking lelahnya.
.
.
.
Pagi harinya Alesya di jemput oleh Alvi agar tidak terlambat dan harus berlari hingga sampai ke hotelnya.
"hati-hati ya bawa motornya. jangan ngebut-ngebut. kalian juga harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas. kakak pegangan." pesan Dinniar panjang lebar.
"tenang aja Mami aku pasti akan hati-hati membawanya." jawab Alvi.
Alesya sementara tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk membawa kendaraan dulu terutama kendaraan sepeda motor. beberapa bulan lalu Alesya mengalami jatuh dari motor dan membuat tangannya tergores.
Dinniar dan Jonathan sangat panik saat mengetahui Putri mereka terjatuh dari motor. maka dari itu Dinniar tidak mengizinkan Alesya untuk membawa motor sendiri.
Alesya sebenarnya sudah bisa membawa kendaraan roda empat, hanya saja Dinniar tidak mengizinkannya membawa di jalanan besar.
Selesai mengganti pakaian dengan seragam magang. Alesya dan teman-temannya berkumpul untuk briefing sebelum memulai pekerjaan. Mereka mendapatkan pengarahan dari ibu Tuti dan juga dari ibu Nisa.
"Dengar ketika tamu datang kalian dari menyambutnya dengan senyuman yang penuh. Senyuman yang berbentuk seperti bulan sabit. Dengan begitu tamu akan merasa tersanjung dengan pelayanan dari hotel kita." jelas Bu Tuti.
"Ingat pakaian kalian juga harus selalu rapih. Jangan sampai ada baju yang keluar. Pakai ikat pinggang." perintah Bu Nisa.
Mereka mendengarkan dengan seksama semua yang harus di kerjakan mereka juga mengingat semua hal yang di katakan oleh kedua seniornya itu.
Keempat anak sekolah itu di bagi menjadi empat kelompok. Mereka masuk dalam kelompok housekeeper yang sudah profesional. Mereka akan menyambut artis dari Indonesia yang lama tinggal di luar negeri yang akan menginap di hotel mereka.
satu kelompok terdiri dari tiga orang. Orang orang bertugas di depan kamar sedangkan satu orang lagi menjadi pengawas.
Alesya satu kelompok dengan mba Lena dan juga Bu Nisa. Sunggu sangat menyebalkan satu kelompok dengan Bu Nisa. Itu yang dipikirkan oleh Alesya saat ini.
Dua puluh lagi artis itu akan sampai di hotel. Dinniar dan juga Jonathan sudah menunggu di depan pintu hotel untuk menyambut kedatangan artis tersebut.
mereka semua berjajar di depan pintu untuk menyambutnya. karena habis itu bukan hanya akan menginap saja. tapi dia juga akan menjadi bintang tamu dari acara yang akan diselenggarakan oleh Jonathan di hotelnya.
big hotel mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah dalam acara kontes model yang akan diselenggarakan selama satu minggu ke depan. maka dari itu mereka semua bersiap dengan sangat matang. kita tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayakan kepada big hotel untuk menjadi tempat terselenggaranya acara kontes modeling.
"selamat datang." Dinniar menyambut kedatangan model cantik berambut pirang dan ikal.
"halo diniar Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. udah menyangka akan kembali bekerja sama dengan kalian." dia memeluk Dinniar.
"aku juga tidak menyangka ternyata kamu adalah salah satu juri tamu yang mereka pilih." Dinniar membalas pelukannya.
"selamat datang dan semoga kamu bisa menikmati pelayanan dari hotel kami." Jonathan ikut menyambut dengan senyuman.
"sudah pasti Nathan. aku sudah tahu kualitas hotel kalian. kalian pasti akan memberikan kenyamanan dan akan memberikan senyuman kepada kami semua." ujarnya sampai sedikit terkekeh.
model itu sangat hafal dengan slogan dari big hotel. memang dia pernah menjadi salah satu model yang mengiklankan big hotel sehingga sukses merambah pasar Asia dan juga internasional.
Mereka sibuk merapikan pakaian karena takut akan tidak terlihat rapi.
"Alesya Saya harap kamu tidak melakukan kesalahan. kalau kamu sampai melakukan kesalahan saya tidak akan segan-segan memberikan kamu hukuman." belum apa-apa Bu Nisa sudah mengancam Alesya .
"baik bu Nisa Saya akan bekerja dengan sangat baik." janji Alesya.
model itu berjalan menyusuri lorong hingga sampai ke lorong tempat dia akan menempati kamar tamu.
"selamat datang di big hotel. kami akan memberikan Anda kenyamanan dalam pelayanan dan anda akan pulang dengan senyuman."
Mereka menyambut sang model dan mengucapkan slogan hotel mereka. Model itu tersenyum ramah. Sebelum masuk ke dalam kamarnya model itu dikalungkan bunga dan juga di berikan souvernir. Alesya yang mengalungkan bunga itu. Ketika mengalungkannya, Alesya tak mampu menahan bersin. Dia alergi terhadap bunga.
Melihat hal itu Bu Nisa sangat kesal karena Alesya membuat kesan buruk di mata tamu.
"maafkan, saya. Saya sungguh tidak sengaja." kata Alesya sambil menunduk.
"Alesya Kamu ini bagaimana sih. kamu lihat itu bunganya jadi terkenal bersinmu. seharusnya kamu bilang kalau kamu alergi bunga. nggak tahu kamu ada di bunga Saya tidak akan menyuruh kamu untuk membawa rangkaian bunga itu." Bu Nisa memarahi Alesya di depan para tamu.
"maafkan dia. Dia adalah anak magang di sini. saya akan segera memberikannya hukuman."
bisa lalu menarik tangan Alesya. dia membawa Alesya ke ruangan khusus housekeeper.
"Alesya kamu telah membuat malu kita. kalau seperti ini saya akan mendapatkan penilaian buruk dari atasan. pokoknya saya tidak terima dengan ini. Kamu harus menerima hukumannya." Bu Nisa terus memarahi Alesya bahkan menjewer telinganya hingga merah.
"hentikan!" teriak seseorang dengan nada suara tinggi.
"Pak Niko." Bu Nisa langsung merendahkan suaranya.
"Ada apa ini? kenapa kamu menjewer telinganya?" tanya Niko dengan keras.
"Dia bersin di depan tamu, pak. Saya ingin mendisiplinkannya." kata Bu Nisa.
"Apa begini caramu mendisiplinkan juniormu?"
"Maaf, tapi dia memang salah." Bu Nisa terus menyelahkan Alesya.
"Apa kamu tidak melihat biodatanya? Di hotel selalu ada yang pertanyaan tentang alergi. Dan di sana sudah tertulis jelas kalau alergi terhadap bunga atau berbau Bunga."
"Sa- saya tidak tahu." Bu Nisa bicara tidak tahu, tapi wajahnya seperti orang yang sengaja melakukannya.
"Kamu tidak tahu?" tanya manajer housekeeping.
"Maaf, sebenarnya saya hanya ingin memberikan Alesya pelajaran. Dia sedang menggoda pak Jonathan ketika pak Jonathan berkunjung ke room housekeeping. Saya tidak suka karena saya tahu pak Jonathan sudah memiliki istri. tidak sepatutnya Alesya tersenyum genit kepada pak Jonathan." jujur Bu Nisa.
"Maafkan saya nona. Karena kurang memberikan pemahaman kepada mereka. Membuat hal ini terjadi." Niko membungkuk di hadapan Alesya.
"tidak apa-apa Pak Niko. semua adalah kesalahpahaman saja." kata Alesya.
"Alesya kamu tidak apa-apa?" tamu yang tadi dia layani menanyakan kondisinya.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya.
"Tante sangat khawatir kepadamu. Jadi Tante minta pak Niko untuk menyusul ke sini. Alesya, Tante senang sekali kamu yang menyambut tadi." Evelin memeluk Alesya.
Bu Nissa tercengang melihat Alesya dipeluk oleh model yang sangat terkenal itu.
"Nona Alesya, mami dan papa anda memanggil." seorang pria muncul mencari Alesya.
"Alesya, Tante ikut kamu untuk menemui mami ya." kata Evelin dan Alesya mengangguk.
"banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada Dinniar. mami kamu itu teman yang sangat baik." Evelin merangkul Alesya.
"Nisa. Apa yang kamu lihat?" tanya Niko.
"ti-tidak, pak."
"ini terakhirnya saya dengar kamu bersikap semena-mena terhadap orang baru. Kalau tidak berubah saya akan memecatmu." tegas Niko.
"Nisa. Kamu ini kenapa sampai seperti itu? Kamu tahu siapa Alesya?" tanya Bu Tuti.
"memangnya siapa dia? Aku tahunya dia penggoda suami orang." ujar Bu Nisa sembarangan.
"huush! jangan asal bicara saja. Dia itu anak Bu Dinniar dan pak Jonathan. Anak sulung mereka." tutur Bu Tuti.
"Apa!" Bu Nisa tercengang
"Aku juga baru tahu tadi ketika pak Niko memanggilku. Aku sunggu sangat terkejut dan hampir saja jantungku mau copot. Untung saja kamu tidak langsung di pecat." ujarnya sambil meninggalkan Nisa.
Nisa masih shock. Dia tidak menyangka ternyata telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Nisa terduduk lemas dan hampir saja pingsan.