Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 11 - Mertua



Hari sabtu, Darius memang berada di rumah, tapi entah kenapa dia sibuk dengan ponselnya, seakan ponselnya tidka dapat ditinggal sedetikpun.


"Kamu berpacaran dengan ponsel?" Dinniar duduk di atas busa empuk panjang bersama suaminya.


Darius langsung terkesiap. " Apa maksudmu?" tanyanya.


"Hei, kenapa wajah kamu jadi tegang sih sayang?" Dinniar menggerakkan kepalanya hingga tepat melihat kearah suaminya.


Dinniar menyeringai. "Kamu terlalu fokus dengan ponselmu, bahkan tidak bisa berpaling. orang akan menganggap kamu sedang selingkuh dengan ponselmu sendiri."


Mendengar penjelasan istrinya, Darius langsung tersenyum ragu. Dia benar-benar kaget ketika istrinya berucap tadi.


"Mas, akhir-akhir ini, kamu terlalu sering berkutat dengan ponselmu. Rasanya aku cemburu," ujarnya.


"Cemburu? Dengan benda benda mati ini?" tanya Darius sambil mengangkat ponselnya.


"Benar." Dinniar mengangkat bahunya.


"Kamu tahu, Mas, benda mati ini bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain dan bisa membawa duka juga untuk orang lain," tuturnya lagi.


Suara Dinniar seakan menggema ditelinga Darius. Kalimat yang dituturkan istrinya seakan tengah menusuk dirinya. Baru kali ini Dinniar terdengar menggunakan kata-kata sebagai senjata, yang seolah sedang membuat perangkap besar untuk menjebak incarannya.


"Sayang, aku sedang serius mempelajari beberapa file. Besok aku akan ada meeting besar dengan beberapa saluran televisi. Beberapa modelku, menjadi juri diajang berbakat." jelas Darius.


Dinniar mengembangkan senyumannya, lalu memeluk suaminya. Dia memberikan pelukan versi terbaiknya. Dinniar tidak akan pernah melepaskan apa yang telah dimilikinya.


"Sayang, aku percaya kepadamu. Apa yang kamu lakukan adalah yang terbaik untuk Agencymu, tapi kamu juga harus melakukan yang terbaik untuk keluarga kita." Dinniar mengurai pelukannya dan bangkit meninggalkan suaminya.


Darius begitu merasa aneh dengan kelakuan istrinya beberapa hari ini. Sikap Dinniar memang biasa saja, tapi sorot matanya, raut wajahnya dna caranya amenatap Darius tidka biasa.


"Adapa dengannya? Kenapa aku merasa ada hawa aneh yang menempel dengannya." Darius kembali sibuk dengan ponselnya.


.


.


Dinniar menangis di kamarnya sambil menatap foto pernikahannya. Pernikahan yang sudah sangat menajdi impian banyak orang, yang selalu diagung-agungkan oleh semua orang, ternyata pernikahan itu kini tengah goyah. Dinniar tidak menyangka suaminya benar-benar mengkhianatinya.


Flashback.


"Aku ke toilet dulu." Izin Dinniar saat mereka sedang asik makan bersama.


Dinniar berjalan ke arah toilet namun ditengah perjalanannya dia malah berbelok kearah lain.


"Permisi, saya ingin bertanya bisa?" tanya Dinniar kepada seorang pelayan restoran.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya pelayan itu.


"Mba, apa pernah melihat istri dari Bapak yang duduk dengan anak kecil di sana?" tanya Dinniar.


"Bapak itu, sepertinya belum pernah, tapi tunggu saya tanyakan dengan teman saya dulu." Pelayan itu bertanya kepada salah satu temannya.


"Oh, Bapak di sana ya, sepertinya memang beberapa kali pernah kesini dengan seorang wanita, cantik dan masih muda. Mereka terlihat sangat dekat. Sepertinya bukan istri, tapi masih pacar." Jelas pelayan itu.


Hati Dinniar begitu sakit. Dia memang belum menemukan bukti, tapi perasaan seorang istri tidak dapat dibodohi.


Flashback Off.


.


.


Darius bersiap untuk meeting dengan salah satu siaran televisi. "Kamu akan pergi?" tanya wanita yang baru terbangun dari tidurnya.


"Hmm ... meetingnya setelah makan siang," ujarnya


"Kamu akan meninggalkanku?" tanyanya.


"Ini untuk dirimu juga, aku ingin kamu lebih bersinar lagi." Darius mengecup kening Cornelia.


Sejak pagi setelah berangkat dari rumahnya, Darius langsung pergi ketempat kekasih gelapnya, kerinduan sudah sangat padat menumpuk di hatinya.


"Aku pergi dulu."


Cornelia nampak senang, sepertinya hatinya sudah benar-benar terpikat dengan pesona pria beranak satu itu.


Senyuman yang mengantar kepergian prianya sungguh terlihat tulus.


.


.


Dinniar mengantar Tasya ke rumah ibu mertuanya, Darius memiliki seorang ibu yang dirawat di rumah sakit.


"Assalamualaikum." Dinniar dan Tasya masuk kedalam ruangan yang aromanya khas sekali.


"Ibu apa kabar?" Sapa Dinniar.


"Ibu sehat sekali, ditambah kalian datang menjenguk." Senyum Susi.


Susi mengalami sakit gagal ginjal, dia harus terus berada di rumah sakit. Proses cuci darah dan lain-lainnya, membuat Susi harus bertahan tinggal di rumah yang menjadi tempat orang-orang singgah karena sakit.


"Oma, Tasya kemarin makan di restoran Jepang sama Papi dan Mami." Cerita Tasya.


"Restoran Jepang?" Susi terkejut.


"Iyah, Bu. Mas Darius ngajakin aku dan Tasya makan di sana." Dinniar tersenyum saat menceritakannya.


Raut bahagia yang dia tunjukan dihadapan ibu mertuanya sebenarnya hanyalah pura-pura. Dia ingin ibu mertuanya tidak mencemaskan apapun.


Dinniar menyayangi ibu mertuanya, begitu juga sebaliknya. Susi juga sangat tahu apa kebiasaan putranya dan apa kesukaan putranya.


"Dia makan masakan Jepangnya?" tanyanya kepada Dinniar.


"Papi makan dengan sangat lahap." Dengan cepat Tasya menjawab pertanyaan Omanya.


Dinniar tersenyum getir saat mendengar putrinya menjawab pertanyaan yang diajukan untuk dirinya.


"Itu bukan kebiasaannya. Dinniar ...," Susi memanggil.


"Ada apa?" Lanjutnya ketika Dinniar berada di sampingnya.


Dinniar menyentuh lembut bagian tubuh ibu mertuanya yang selalu menggenggam erat tangan.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Kami baik-baik saja." Dinniar kembali mengulas senyuman.


Bahkan orang yang sakit saja tahu dan merasakan ada kejanggalan yang terjadi, apalagi Dinniar yang menjadi istrinya.


"Jangan memberinya ampun, jika dia melakukan kesalahan. Jika dia menyakitimu, Ibu tidak akan pernah menganggap dirinya anak lagi," oceh Susi.


Dinniar tersenyum, dia merasa menjadi anak SD yang sedang diberikan saran ketika bertengkar dengan seorang teman.


"Oma, Mami dan Papi baik-baik saja, Tasya saksinya, cuma sekarang Papi suka pulang terlambat ke rumah, Papi ...,"


"Tasya, sudah. Kamu duduk di sofa ya, makan bekalmu." Pinta Dinniar.


Tasya sudah sangat pintar bicara, apa yang dia ketahui sudah pasti dia bicarakan. Kata orang di usia emas seorang anak jangan menunjukkan sikap buruk atau berkata buruk di depannya, anak-anak akan menirunya. Selain itu Dinniar tidak mau kalau ibu mertuanya menjadi khawatir.


Kisahnya dengan Darius masih terus berlanjut dan dia merasa bisa kembali membenahi rumah tangganya sendiri tanpa harus mengeluhkan apapun kepada mertuanya.


"Ibu rasa, ada yang tidak beres," tutur ibunya penuh kecemasan.


"Bu, aku dan Mas Darius sangat baik-baik saja. Dia sedang sibuk belakangan ini, jadi dia agak pulang terlambat. Sebagai seorang pebisnis, itu biasa." Dinniar berusaha menghilangkan kecemasan Susi.


Dinniar memang menantu yang sangat baik, ibu mertuanya bahkan sangat bersyukur memiliki seorang menantu seperti Dinniar.


"Dinniar, ibu sangat bersyukur mengetahui, kamu adalah menantuku. Di Kehidupan selanjutnya, ibu juga akan tetap memilihmu sebagai menantu."


Dinniar merasa bersyukur, ditengah kegundahan hatinya. Dia tahu sudah ada satu orang yang akan mendukungnya.


.


.