
Alesya sedang berada di dalam kelas bersama dengan teman-temannya. mereka hari ini ada bimbingan konseling mengenai penentuan karier apa yang akan mereka ambil. dengan begitu mereka bisa dengan tepat menentukan jurusan apa yang cocok dengan karier tersebut.
"sebelum kalian menentukan apa karir yang akan kita pilih untuk masa depan. ibu akan bertanya kepada kalian semua. kalian lebih cenderung kan mengikuti keinginan masyarakat atau mengikuti keinginan diri sendiri? silakan kalian vote yang ada di layar tablet." jelas sang guru.
semua anak kemudian menekan salah satu pilihan yang muncul di layar tablet di depan mereka semua.
"baiklah di sini ibu menemukan banyaknya pilihan yaitu memilih mengikuti keinginan sendiri. ibu akan sedikit tentang pertanyaan ini." sang guru berdiri di depan kelas dan siap menerangkannya.
"di dalam sikap bermasyarakat terkadang kita akan menemukan pro dan kontra untuk pilihan kita sendiri. itu datang dari keluarga, dari teman, atau dari masyarakat luar. di saat seperti itu hal yang harus kamu lakukan adalah menunjukkan reaksi bahwa kamu memiliki keinginan kuat atas apa yang akan kamu lakukan di masa depan." jelas sang guru.
"bagi kalian yang menjawab mengikuti keinginan sendiri maka kalian harus berusaha meyakinkan mereka seperti meminta izin kepada kedua orang tua untuk tetap bisa bekerja atau melakoni di bidang pekerjaan yang kita sukai. kalian suka sekali menulis atau membaca buku maka cenderung kalian akan menjadi seorang penulis. atau juga bisa jadi kalian menjadi seorang pembawa berita acara. bagi kalian yang memiliki pendirian teguh, tidak mudah goyah dalam mempertahankan sesuatu yang kamu yakini dan senang. maka kamu akan bisa merubah pikiran orang tua atau orang-orang di sekitarmu dan membuat mereka semua mendukung akan pilihan yang kamu yakini." lanjut sang guru.
Alesya kemudian berfikir apa yang akan dia jalani di masa depan. Dia memiliki sebuah perusahaan di bidang perhotelan yang sudah pasti akan diwarisi kepadanya. dan dia juga mengetahui seperti apa baik buruk berada di dalam perusahaan sukses yang sudah bertahun-tahun dibangun oleh keluarganya. bukan hanya orang yang suka kepadanya saja yang harus dihadapi bahkan orang-orang yang tidak menyukai dirinya. dia juga harus bersiap menghadapi mereka.
Alesya sangat serius mendengarkan konseling bimbingan karir pada pelajaran kali ini. dia ingin mengupayakan yang terbaik untuk perusahaan yang sudah dibangun turun menurun oleh keluarganya. dia juga berusaha dengan baik untuk belajar di masa kini agar bisa menjadi anak yang berprestasi. tidak hanya ingin dikenal sebagai anak pengusaha kaya. akan tetapi dia juga ingin dikenal sebagai anak yang memiliki prestasi. terkenal karena kemampuan sendiri adalah suatu kebanggaan. Alesya meyakini bahwa dirinya mampu dan bisa memilih karirnya ke depan.
.
.
.
sepulang sekolah Alicia langsung menemui mania yang sedang bersantai di taman samping.
"Hai, kak. kamu sudah pulang?" sambut Dinniar yang menyadari putrinya sudah datang.
Alesya duduk di samping Dinniar dan bersandar di bahu sang mami. Dinniar melihat raut wajah tak biasa dari sang putri. Dia lalu menatapnya.
"sayang, ada apa? apa ada masalah di sekolah?" tanya Dinniar.
"apa?" tanya Dinniar.
"misalkan, sejak kecil aku sangat suka dengan membaca. ketika membaca, aku sangat menikmatinya hingga lupa waktu. aku sangat berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang penulis yang handal dan menghasilkan sebuah karya terbaik yang dapat dinikmati oleh banyak orang. lalu aku mendapatkan sebuah kesempatan bekerja sebagai penulis di sebuah perusahaan literasi kreatif yang bergengsi. sejak awal aku memang memiliki mimpi bisa melakoni sebuah bidang pekerjaan yang dapat memberikan ruang bebas yaitu berkreasi."
Dinniar menyimak dengan seksama apa yang dikatakan oleh Putrinya. entah kenapa dia sudah bisa membaca Ke mana arah pembicaraan putrinya saat ini. namun dia akan tetap mendengarkannya sampai selesai.
"oh no ia terjebak namun ketika aku berjumpa dengan sanak saudara aku hanya mendengar bisik-bisik dari mereka bahwa aku belum bekerja. Aku hanya berdiam diri di kamar dan sibuk dengan laptopku. apakah mami dan papa akan menyuruh aku menjalani pekerjaan yang berbeda? apakah mami dan papa akan mendengarkan mereka dan memintaku meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang penulis?" lanjut Alesya.
"sekarang Mami mau tanya sama Alesya. apa jawaban yang ingin didengar olehmu saat ini?" Dinniar berbalik bertanya dan putrinya menaikkan kedua bahunya menyatakan kegalauannya.
"baiklah Mami akan memberikan sedikit masukkan untuk Alesya. dan untuk jawabannya kamu yang menentukan. karena masa depanmu ada di tanganmu sendiri. bukan di tangan mami ataupun di tangan papa. kamu pasti tahu kalau suatu hari nanti. kamu yang akan memegang kendali bisnis hotel. tapi itu semua tergantung kamu. kamu mau teruskan usaha keluargamu atau memilih mandiri dan bekerja sesuai dengan apa yang kamu inginkan." Dinniar tersenyum.
"kalau memang Alicia yakin bahwa hobimu itu bisa membuat masa depanmu lebih cerah. bisa menjadikan kamu orang yang memiliki penghasilan. Mami akan menyetujuinya begitu pula dengan papa." lanjutnya.
"akan tetapi jika kamu tidak meyakininya dan merasa kesulitan tapi bukan berarti menyerah. kamu bisa meninggalkannya dan menjadi penerus perusahaan. kamu tidak perlu memikirkan pandangan orang lain tentang apa yang telah kamu pilih. semua pilihan itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. tidak ada manusia yang sempurna. jadi jangan pernah terpengaruh dengan pandangan mereka. Mami dan papa hanya bisa memberikan pandangan kepadamu akan tetapi kamu yang tetap memutuskan bagaimana masa depanmu."
Alisa langsung memeluk erat maminya. dia semakin merasa beruntung dan bahagia memiliki sosok seorang ibu seperti Dinniar.
"terima kasih Mami. Mami memang orang tua yang sangat bijaksana. aku sangat beruntung memiliki ibu seperti mami." ujar Alesya dengan tulus.
"Mami juga sangat beruntung memiliki anak seperti Alesya. Kamu adalah anak yang penuh dengan pengertian. Mami juga sangat bangga terhadapmu. raihlah mimpimu sayang. Mami dan papa akan terus mendukung setiap keputusan yang kamu ambil. asalkan keputusan itu dapat kamu pertanggung jawabkan."
ibu dan anak itu kembali saling berpelukan. memiliki sebuah keluarga yang saling mendukung, saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi. adalah sebuah kebanggaan dan juga rezeki yang sudah Tuhan atur untukmu. hidup ini memang terkadang penuh dengan keluhan. keluhan itu hanya untuk diutarakan. bukan berarti orang bisa menilai kita sebagai orang yang mudah.
manusia diciptakan untuk saling berbagi agar bisa bertahan hidup dan bisa saling menghargai. terciptanya sebuah hubungan yang penuh dengan keharmonisan, adalah bukti bahwa kita adalah orang-orang yang bisa membangun hubungan dengan baik.