
Mama Juwita tidak tahu lagi harus bagaimana menidurkan cucunya itu.
Akhirnya dia membacakan buku cerita untuk Tasya agar cucunya bisa segera tidur.
"Omma akan membacakan cerita tentang Tarsius si kera mungil" kata mama Juwita.
"Asik. aku suka." Tasya sangat antusias.
Mama Juwita mulai bercerita.
isi cerita tarsius si kera mungil.
Nina Ayah punya sesuatu untukmu panggil Ayah dari ruang tamu dengan riang Nina menghampiri ayahnya yang baru datang dia selalu mencium tangan dan tiba-tiba terbelalak saat melihat ayahnya memberikan 4 buah buku kepadanya ada buku dongeng buku tentang lalu lintas kisah sang putri dan tentu saja buku tentang dunia hewan kegemarannya meski baru kelas satu di sekolah dasar Nina sangat suka membaca terutama tentang dunia hewan Ayah ini semua untukku tanya Nina tak percaya Ayah mengangguk sampai tersenyum wow Nina merasa sangat gembira malamnya Ibu membacakan buku dongeng tentang kisah seekor kera kerak tersebut bertualang ke banyak tempat bersama teman-temannya ibu bercerita dengan menirukan suara keras suara harimau dan lain-lainnya Dina selalu senang setiap kali dibacakan cerita.
Mama Juwita bisa membuat sebuah kisah menjadi sangat menarik Tasya pun menjadi sangat senang dan penasaran dengan kisah kelanjutannya.
saat bercerita Mama Juwita sangat pintar menirukan suara sedih gembira marah atau kesal memang mama Juwita memiliki kelebihan dalam membacakan buku cerita Tasya ikut memegang buku cerita yang berjudul tarsius segera mungil bagi Tasya itu adalah judul yang sangat menarik dia mulai membuka halaman buku itu satu persatu dan mama juga mulai lebih antusias lagi dalam bercerita Tasya senang saat mengetahui ada hewan yang sangat lucu.
apa umah pernah melihat tarsius tanya Tasya kepada Mama Juwita melihat langsung sih belum Oma baru melihatnya dari buku dan televisi jawab Mama Juwita tarsius tergolong salah satu hewan unik yang ada di hutan Sulawesi mereka biasanya berburu pada malam hari sementara di siang hari tarsius justru tertidur.
Mama Juwita kembali melanjutkan penjelasannya.
tarsis itu bergerak dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon lainnya saat melompat kadang mereka bisa menangkap burung yang sedang terbang. biasanya mereka menandai tempat tinggal dengan satu cara jelas Mama Juwita yang membuat Tasya semakin penasaran
Apa itu Oma?
coba tebak tanya Mama Juwita dengan berteka-teki
Tasya mulai berpikir kira-kira bagaimana tarsius mengenali tempat tinggalnya ya tanya Tasya di dalam hatinya
apakah pohonnya dicat Oma warna-warni seperti rumah Tasya.
Mama Juwita tertawa mendengarnya hahaha tentu saja bukan Tasya. tarsius biasanya memberi tanda tempat tinggalnya dengan memberikan air seninya sama seperti harimau tujuannya adalah sebagai tanda daerah kekuasaannya.
wah ternyata tarsius jorok. kata Tasya sambil meringis jijik.
Tasya adalah penyayang hewan Dia pernah melihat kelinci kucing dan anjing namun dia belum pernah memelihara sejenis kera atau monyet entah kenapa Tasya tertarik dengan si monyet tarsius kelihatannya tidak akan sulit memelihara kera kecil di dunia ini kandang tidak harus berukuran besar pikirnya.
Oma bagaimana kalau kita memelihara tarsius satu ekor saja pintar Tasya tiba-tiba.
Omanya terkejut mendengar permintaan dari Tasya. memelihara tarsius kata Mama Juwita.
iya biar kita punya hewan banyak siapa tahu nanti kita bisa membuat kebun binatang kecil lagi-lagi Tasya mau minta permintaan.
Oma kembali terkadang tidak ada yang jual Tasya karena Tasya tergolong hewan langka Jadi tidak boleh ditangkap Tasya langsung cemberut dan wajahnya mendung.
Tasya tidak bisa hidup di kandang kalau di kandangnya mereka malah jadi cenderung stress dan melukai diri sendiri bahkan ada yang sampai mati lanjut Oma.
oh begitu ya akhirnya Tasya pun mengerti dan mengurungkan niatnya untuk memelihara binatang tarsius.
Dinniar dan jonatan sedang asik menonton film drama.
"Ayo kita lanjutkan menonton dramanya." ajak Jonathan.
Film drama yang sedang di lihat oleh Dinniar dan juga Jonathan.
di dalam film seorang wanita tengah sedang berada di atas panggung dan mulai bersiap ingin bernyanyi.
"Lagu ini, aku persembahkan untukmu yang setiap hari bersamaku, tapi tak pernah bisa aku gapai." Sefya bersiap menyanyikan lagu baru ciptaannya.
Kau yang di sana. Kita hanya terbatas tembok besar. Namun, kenapa rasanya tembok besar itu tak mampu untuk aku runtuhkan.
Sebuah rasa yang sudah hadir mengisi relung hatimu. Entah mengapa tak pernah bisa kau sampaikan.
Aku di sini masih menunggumu. Menanti perasaan itu tersampaikan kepadaku.
Mengapa kamu tak pernah mengungkapkannya padahal kamu tahu kalau rasa itu sudah datang dan singgah di dalam hatimu.
Aku di sini masih menunggumu. Menanti cinta yang akan kau berikan untukku.
Cinta tidak akan pernah bisa berbohong dan membohongi. Katakanlah bahwa kita sudah saling cinta.
"Filmnya sangat seru sayang." kata Dinniar.
tiba-tiba film beralih ke adegan yang sangat tak terduga.
"Kita, Cerai!" Terena bicara dengan lantang tanpa rasa bersalah.
Albi hanya bisa menuruti semua permintaan istrinya kala itu. Dia setuju karena sudah kecewa. Dia tahu ternyata istrinya bukanlah wanita yang bisa menjaga kehormatannya.
Pria yang tidak pernah bisa merasakan cinta di hatinya, menikah dengan seorang wanita yang juga tidak serius mencintainya.
Mereka berdua menikah atas paksaan dari pihak ke tiga, yaitu ayah dari pihak wanita yang menginginkan putrinya menikah dengan murid terbaiknya.
Albi menikah dengan Terena dan akhirnya memiliki seorang putri yang cantik. Dia merawat anaknya sejak lahir. istrinya tidak perduli dengan sang anak. Dia asik mencari dan mengejar pria yang dia inginkan. bergonta-ganti pasangan adalah hal lumrah untuk mantan istrinya.
Perceraian mereka tidak diketahui oleh sang putri yang kini sudah berusia tujuh tahun dan duduk di kelas satu sekolah dasar.
Saat dia diketahui sudah menikah oleh kedua orang tuanya. Albi mencari seorang wanita yang bisa dia nikahi untuk menjadi istri dan ibu dari putrinya.
Banyak hal yang rumit dalam kehidupan yang Albi jalani. Dia mengambil langkah yang berat di masa mudanya kala itu. Membuat kehidupan Albi kini terkena dampaknya.
Dinniar sangat sedih melihat adegan itu. dia kembali teringat tentang kisahnya dengan Darius yang telah di khianati dan sangat sakit hatinya karena dia mengalami hal yang sama.
"hei, kamu jangan menangis. ini hanya film." Jonathan mengusap air mata yang sudah lolos dari pelupuk mata istrinya.
"aku hanya merasa kasihan kepadanya saja. dan merasa kalau ini adalah hal yang pernah aku alami. dan benar rasanya sangat menyakitkan. semua yang mengalami pengkhianatan pasti tidak akan mudah untuk pulih dengan sangat cepat." kata Dinniar.