
Darius semakin tidak mengerti kenapa Tasya masih juga takut kepada dirinya. Tasya yang sedang berada di dalam gendongan manja Jonathan, mengalungkan tangannya di leher sang papa baru.
Melihat hal itu rasa cemburu dari Darius semakin tinggi. rasa marah di hatinya juga melonjak seakan dia ingin sekali meledak-ledak saat ini juga. kalau bukan karena dia ingin kembali mendapatkan hati putrinya sudah pasti dia menghajar wajah Jonathan.
"Aku pamit pulang dulu. Tasya, papi pulang dulu ya sayang. Nanti kita kembali bertemu." Darius berpamitan dan langsung keluar ruangan Erika.
Saat melihat Darius pergi dari ruangan itu, terbesit rasa iba dari hati Jonathan untuk pria yang merupakan ayah kandung dari anak sambungnya. Namun, mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Darius mendapatkan hukuman dari perbuatannya yang terlalu emosian.
"Erika, kita pulang dulu ya. terima kasih atas kerja kerasnya hari ini. aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak mengenalmu dan berteman denganmu. kamu sudah menjadi malaikat penolong untukku." Dinniar begitu berterima kasih kepada temannya itu.
Seiring waktu berjalan kondisi Tasya menjadi semakin baik karena perawatan yang diberikan oleh Erika. Erika tidak pernah menyarankan pemberian obat kepada pasien yang masih kecil. karena bagi Erika anak kecil masih bisa dibentuk dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah sulit diatur dan juga sudah banyak beban pikiran dan beban hidup.
Tasya hanya mendapatkan pengobatan selama seminggu dua kali saat awal dia dirawat. sekarang Tasya hanya perlu satu Minggu sekali sebab untuk memperbaiki hubungan Tasya dengan papinya.
...****************...
Darius sudah sampai di rumahnya dia membuang jadi yang tadi di kenalannya ke atas sofa. Dia juga mendengus kesal. melihat suaminya pulang dengan wajah yang sangat kesal. Cornelia lalu menghampiri Darius.
"apa pertemuan tadi tidak berjalan dengan lancar? aku lihat kamu sangat kesal sepulang dari sana." Cornelia mendekati Darius dan memeluk suaminya dari belakang.
Darius melepaskan tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya. Lalu dia duduk di sofa dengan menjatuhkan tubuhnya.
Cornelia tahu kalau pertemuan tidak berjalan lancar. suasana hati suaminya juga sekarang sedang bergejolak.
"Semua tidak berjalan dengan baik bagiku. Pria itu juga seakan mengambil kesempatan seperti ingin di pandang sebagai seorang pahlawan." Kesalnya sambil mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya sendiri.
"ada apa memangnya?" tanya Cornelia yang bersikap sangat lembut demi kembali mendapatkan perhatian suaminya.
"Tasya belum juga bisa menerima kehadiranku lagi. dia bahkan masih terlihat takut kepadaku. dia juga berlari kearah pria itu seakan dia adalah ayah kandungnya. Aku benar-benar muak dengan sikap mereka."Darius semakin melambungkan rasa marahnya hingga sulit untuk kembali turun.
"Semua ini adalah kesalahan Dinniar. seharusnya dia bisa mendidik putrinya dengan sangat baik. sebab mau bagaimanapun sikapmu. kamu adalah ayah biologisnya. sepertinya Dinniar mencuci otak Tasya agar membenci dirimu." Cornelia kembali berusaha merusak nama baik Dinniar.
Cornelia masih sangat merasa kalau Dinniar adalah saingan nyata dan kuat dalam hubungannya dengan Darius
Cornelia sangatlah ingin Darius semakin membenci mantan istrinya.
"Dinniar itu sepertinya sangat ingin menghapus dirimu dari hidup Tasya. Aku yakin saat ini dia sedang menertawakan dirimu yang gagal saat sesi pertemuan hari ini." Cornelia kembali menyelipkan kesan buruk.
"Aku tidak akan menerima hal ini. aku akan membuat dia sadar siapa Darius sebenarnya. aku juga akan mengambil hak asuh Tasya dari tangan mereka!"
"Aku akan membantumu untuk mewujudkan itu." kata Cornelia sambil bergelayut di pundak suaminya.
"Aku akan memastikan kamu menderita Dinniar. semua dongeng indah dan bahagia mu akan aku rusak. ini akibat kamu mengabaikan permintaanku."
Cornelia menyeringai dalam. dia begitu puas dengan kondisi hari ini yang bisa membuatnya mempengaruhi suasana hati suaminya dan juga memasukkan racun ke dalam cara berpikir suaminya.
...****************...
"Sayang, Tasya. kamu istirahat ya. mami dan papa mau ke kamar dulu." Dinniar lalu memberikan kode kepada baby sitter Tasya.
Tasya dan juga baby sitternya kemudian menaiki anak tangga satu persatu menuju ke kamar.
Dinniar dan Jonathan masuk ke dalam ruangan khusus keluarga. Dinniar langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan Jonathan menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jonathan sambil mendekat ke arah istrinya yang terlihat banyak pikiran.
"Tidak apa," jawab Dinniar sambil menghela nafas panjang.
"Aku bisa membaca raut wajahmu yang sedang mengkhawatirkan sesuatu. Ayo cerita saja. aku ini suamimu sekaligus teman bicaramu." Jonathan menyenderkan kepala istrinya di dada bidangnya.
Dinniar kemudian menghela nafas panjang dan begitu berat. dia kemudian memejamkan matanya.
"Aku memikirkan hubungan Tasya dengan mas Darius. aku tidak mau kondisinya terus seperti ini. aku takut Tasya akan semakin menjauh dan takut jika nanti mas Darius menyalahkan ku lagi." Dinniar menahan rasa sesak di hatinya agar air matanya tak berlinang.
"Sayang, ini semua bukan kesalahan mental Tasya ataupun kesalahanmu. ini murni kesalahan Darius. dia membuat putrinya sendiri menjauh darinya. sikapnya yang kurang bijak membuat putrinya sendiri merasa ketakutan dan membuat Tasya trauma. sikap kasar Darius dan emosi yang mudah meledak-ledak membuat Tasya menjaga jarak darinya."
Benar apa kata Jonathan semua ini murni kesalahan dari Darius yang tidak pandai mengatur emosi dan tindakannya sebagai seorang ayah dan sebagai seorang pria dia juga tidak bisa atau tidak boleh menyalahkan Dinniar yang sudah berusaha sekuat tenaga agar dia dan anaknya kembali dekat.
Jonathan memeluk istrinya erat. dia seolah ingin mentransfer beban yang dipikul istrinya ke pundaknya. Jonathan tidak suka jika Dinniar terlihat banyak pikiran dan bersedih. dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri dan juga orang tua Dinniar untuk tidak ada lagi air mata kesedihan dan kesusahan yang menetes di wajah cantik istrinya.
Jonathan menegakkan posisi tubuh istrinya dan dia memegang ujung dagu Dinniar dengan mesra. dia mendekatkan wajah tampannya ke arah sang istri dan menempelkan bibir mereka berdua.
Lambat, tapi pasti. Jonathan ******* daging kenyal, yang memiliki rasa manis yang membuatnya ketagihan. Dinniar membalas kecupan hangat dari suaminya. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut dan membuat sedikit ******* lolos diantara kecupan mesra mereka berdua.
Jonathan memegang tengkuk leher Dinniar agar mereka semakin dalam. Sedangkan satu tangan Jonathan yang lainnya membuka kancing satu persatu sang istri.
"Mas, pintunya kunci dulu." Dinniar melepaskan kecupan mereka sejenak.
"Sudah aku kunci sejak aku masuk ke ruangan ini." Jonathan kembali mengecup bibir istrinya dengan kecupan yang semakin liar hingga akhirnya mereka berdua kembali berusaha membuat adik bayi untuk Alesya dan Tasya.