Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 190 - jarum yang siap ditajamkan



Dinniar selesai mengisi acara di sekolah harapan. dia yang pernah menjadi kepala sekolah di sana masih mendapatkan tempat di hati rekan kerjanya, murid dan wali murid. Dinniar senang karena dia masih dihargai dan diterima meskipun sudah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah di sana.


"Mamih sangat keren sekali. mami emang paling top." Tasya mengacungkan kedua ibu jari tangannya.


"Terima kasih sayang. tadi kak Alesya dan kak Tasya juga sangat hebat tampil di atas panggung. Mami dan papa sangat bangga kepada kalian berdua sayang. Kalian memang dua kakak terbaiknya Devano." Dinniar tersenyum bahagia.


"Sayang, nanti kalian pulang sama supir ya. papa sudah meminta supir untuk menunggu kalian berdua. karena acaranya sampai sore. mami kalian tidak bisa terus di sini. kasian adik Devano di rumah. takut nenek juga kerepotan menjaganya." ujar jonathan memberi pengertian kepada dia putrinya yang sudah dewasa dan tumbuh semakin cantik.


"Siap, Pah. aku dan Tasya akan berhati-hati di sini." Janji Alesya sambil memegangi bahu adiknya.


"Aku juga akan terus dekat dengan kak Alesya." janji Tasya.


"Kalau begitu mami dan papa pulang ya sayang." Dinniar mengusap kepala kedua putrinya.


Mereka yang sudah sangat tumbuh dewasa mengerti kondisi maminya yang harus memberikan Asi untuk Devano adik bayi mereka berdua.


"Kak, aku ke toilet dulu ya. Aku mau ganti baju." Tasya izin pergi ke toilet.


Alesya menatap adiknya pergi ke toilet. Meski dia sibuk dengan teman-temannya. dia tetap mengawasi adiknya dari jauh. dia tidak mau melepas pandangannya dan pikirannya dari Tasya.


Betapa sayangnya dia kepada Tasya. dia sangat takut kehilangan Tasya meski dia tahu sudah satu tahun ini mereka hidup begitu damai dan tidak ada hal yang mengganggu mereka.


.


.


.


"Kamu yakin mereka tidak akan mengetahui dimana kamu?" tanyanya.


"Aku yakin, karena aku sudah punya rencana." Cornelia menikmati minuman yang ada di tangannya saat ini.


"Cornelia, aku tidak mau sesuatu hal buruk menimpaku. kamu tahukan aku sudah sangat sulit hidup sendiri. aku bahkan sekarang tidak memiliki pekerjaan apapun. Jadi aku mohon jangan semakin membebani hidupku." Pinta Oliv sahabat dari cornelia.


"tenang saja. aku sudah berjanji bukan kepadamu akan memberikanmu pekerjaan dan kamu hanya cukup menuruti semua perintahku saja." Tutur Cornelia sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja.


Suka semena-mena dirinya masih saja sama seperti dulu. entah kenapa semua orang bisa tertipu lagi oleh Cornelia yang berpura-pura menjadi wanita tidak waras.


"Kamu lihat Erika. apa yang tidak bisa aku lakukan. sekarang kamu akan mendapatkan ganjaran dari sikap sombong dirimu waktu itu. jangan pernah berani-beraninya bersikap kasar kepadaku." Cornelia tertawa di dalam hatinya.


Dia kembali mengingat bagaimana bisa di keluar dari penjara dan dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa untuk mendapatkan rehabilitas selama setengah tahun di sana.


"Aku mungkin pernah mengalami goncangan. namun, aku bukan orang lemah yang akan terus masuk dalam kegelapan itu." Seringainya.


Flashback on


Cornelia bertingkah seolah-olah dia mengalami tekanan yang begitu kuat dan guncangan batin yang begitu keras. sehingga ia mengacaukan satu sel. dia mengacau teman-temannya yang sama-sama di dalam ruangan dengannya. lalu parasipir dan juga para tahanan sel penjara mengajukan protes kepada kepala kepolisian karena sikap dari Cornelia terlalu berbahaya dan juga sangat mengganggu ketenangan mereka semua.


Erika dipanggil untuk kembali melihat kondisi Cornelia dan saat itu dia memberikan sebuah surat tentang kondisi Cornelia yang tidak mengalami gangguan jiwa sedikitpun dan sudah sembuh. namun, ternyata salah satu dari sipir membantu Cornelia untuk mengubah isi surat tersebut. dan menyatakan bahwa Cornelia mengalami gangguan jiwa yang berat. sehingga mereka memutuskan untuk memberikan rehabilitas kepada Cornelia di rumah sakit jiwa.


flashback off


Cornelia masih saja terus memiliki pemikiran-pemikiran yang licik. dia bahkan bertahan di rumah sakit jiwa itu selama enam bulan lamanya. dia bersikap seakan-akan dia adalah orang yang mengalami gangguan mental berat selama di rumah sakit jiwa.