
Dinniar sangking lelahnya tertidur dan menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan.
selamat perjalanan Jonathan begitu sangat menjaga keluarganya. jebakan rela tidak memejamkan mata dan fokus kepada jalanan.
dinia tidur sambil tangannya membelit di tangan Jonathan. melihat itu membuat Jonatan menjadi kembali bahagia.
"kok kamu bangun?"tanya Jonathan ketika melihat istrinya terbangun.
"iya aku takut kamu bahunya keram. pasti aku tidurnya terlalu lama ya kan?"tanya Dinniar.
"aku ini kan laki-laki dan aku juga sangat kuat. masa iya kamu tidur di bahuku saja langsung keram tanganku." ujar Jonathan.
"oh ya sayang selagi mereka semua pada tidur dan musik juga sudah dimatikan gimana kalau kita menonton film Korea. kamu pasti suka kan film Korea?"tanya Jonathan lagi kepada istri.
Dinniar mengangguk tanda ia memang suka dengan film drama Korea. selama ini banyak sekali pemain film Korea yang dia ketahui dan beberapa kali dia juga pernah ikut dalam jumpa fans.
"kamu sudah pernah melihat film ini?"tanya Jonathan sambil memperlihatkan ponsel genggamnya yang sebesar buku tulis.
"sepertinya ini film baru ya?"tanya Dinniar yang belum update tentang film Korea pada bulan ini.
"benar ini adalah film terbaru. kamu wajib lihat ini karena ini filmnya romantis banget." ucapnya.
"oh ya? Apa kamu sudah pernah menontonnya?" tanya Dinniar.
"baru lihat sinopsisnya sih. ya kayaknya sih pasti seru dan romantis. apa ini genrenya memang genre romance." info Jonathan sambil menunjukkan nama genre yang tertulis di sinopsis film.
mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menonton film Korea terbaru yang diperankan oleh beberapa artis korea tampan dan aktris Korea cantik.
mereka berdua bukan hanya menonton adegan romantis tetapi juga ada beberapa plot cerita yang begitu membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
...****************...
Mereka semua sampai di sebuah kota yang akan membuat nyaman dan bisa menikmati liburan mereka. Saat Jonathan akan melamar Dinniar mereka semua tidak sempat pergi ke manapun di daerah Bandung.
destinasi ya pertama kali yang akan mereka singgahi adalah saung angklung Udjo. Jonathan sengaja mengajak mereka ke sana untuk mengenalkan kebudayaan tradisional Sunda kepada Tasya dan juga Alesya.
di saung angklung Udjo tidak hanya bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional. di sana mereka juga bisa langsung memainkan instrumen musik tradisional seperti angklung atau calung.
mendengar alunan musik dari angklung atau calung Tasya begitu menikmati. informasi bahwa musik bisa menghilangkan stres. dan menurut Jonathan musik-musik tradisional yang cocok untuk anak-anak dan juga dewasa.
"bagaimana Tasya apakah kamu suka?"tanya Jonathan kepada Tasya.
"suka banget papa. Tasya baru pertama kali ini mendengar permainan angklung. ternyata suara yang dikeluarkan oleh alat musik angklung begitu indah."Tasya terus memperhatikan para pemain angklung.
"apa Tasya mau coba bermain angklung?"tanya Jonathan lagi.
"apa boleh papa?"
"tentu boleh sayang di sebelah sana nanti kita bisa belajar cara bermain angklung. kalau Tasya suka nanti kita beli alat musik angklungnya. biar bisa kita mainkan di rumah."
"hore Tasya suka."teriak Tasya dengan riang gembira.
mereka semua terhanyut dalam alunan musik yang dimainkan oleh para pemain angklung. bahkan diniar pun ikut terhanyut di dalam. musik tradisional memang sangat menyentuh hati.
setelah selesai melihat dan menikmati alunan musik dari alat musik angklung. mereka semua menuju tempat di mana bisa belajar cara bermain angklung.
"baik semuanya silakan diambil alat musik angklung yang untuk dimainkan. saya akan memberikan contoh cara bermain angklung yang benar."
salah satu pemain angklung itu memainkan angklungnya dan diikuti oleh para peserta yang ingin turut mengetahui bagaimana cara bermain angklung. Tasya dan Jonathan serta Alesya ikut memainkan alat musik. rona bahagia mulai muncul lagi di wajah Tasya.
Jonathan begitu menikmati perannya sebagai seorang ayah dari anak bawaan istrinya. bagi Jonathan ini adalah pengalaman pertamanya, tapi dia sudah sangat jauh lebih baik ketimbang para pria yang sudah lama menjadi seorang ayah.
senyuman yang dipancarkan oleh Jonathan adalah senyuman kebahagiaan dan ketulusan. pria seperti Jonathan memang begitu sangat langka. dia mampu ikhlas menerima anak bawaan istrinya dan begitu menyayangi Tasya seperti menyayangi anaknya sendiri.
Jonathan asik bermain angklung bersama Tasya dan juga Alesya. Setelah asik bermain angklung, Jonathan memborong beberapa jenis angklung untuk dibawa pulang.
"kita makan dulu ya. setelah itu kita langsung pergi ke villa. istirahat dulu, besok kita lanjutkan perjalanan kita. Papa punya tempat yang seru banget yang bisa menjadi tempat untuk kalian belajar dan juga berlibur."Jonathan merangkul kedua putrinya menuju ke dalam restoran untuk makan siang bersama.
setelah memasang beberapa menu makanan mereka berbincang-bincang kecil dan bercanda bersama sambil menunggu makanan mereka datang.
"seru banget Mami tadi bermain angklung ya. Tasya mau bermain angklung lagi nanti di rumah. Papa janji akan mengajari Tasya bermain angklung lagi. tadi papa jago banget loh main angklungnya." Tasya semakin senang memiliki Papa seperti Jonathan.
"papanya Siapa dulu dong, papanya Tasya." Jonathan membanggakan dirinya.
momen kebersamaan dengan keluarga ini begitu membuat nyaman dan hangat. momen ini tak dapat bisa digantikan oleh apapun.
kebersamaan dengan keluarga semakin membuat kita mensyukuri keberadaan mereka di dunia, kasih sayang yang begitu dalam yang diciptakan oleh keluarga Begitu berharga.
saat kita dilanda kegelisahan dan begitu penatnya menjalani aktivitas kehidupan. keluarga adalah seluruh rasa lelah ketika harus bergelut dengan riuhnya kehidupan di luar sana.
kebahagiaan bersama keluarga tidak harus melulu mengenai harta. bahkan kadang saking sibuknya mengejar harta kita melupakan keberadaan keluarga.
keluarga yang baik dan bahagia dimulai dengan cinta, dibangun dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan.
keluarga juga hal yang terpenting yang kita miliki. keluarga tidak akan pernah berubah dan akan selalu ada ketika kita membutuhkan mereka. kadang banyak orang yang lebih memilih hidup sederhana tetapi bermakna bersama dengan keluarga mereka.
Jonathan ingin membangun sebuah keluarga impiannya bersama dengan istri tercinta. sesibuk apapun dan sejauh apapun Jonatan pergi untuk bekerja. dia tetap tahu ke mana tempatnya pulang.
bagi Jonathan kebersamaan dengan keluarganya adalah momen yang terpenting dan saat ini momen terpenting itu bisa membuat rumah tangga mereka menjadi lebih bahagia dan bermakna. Jonathan berjanji tidak akan pernah menghianati diniar. dia tidak akan membuat dunia menitipkan air mata selama hidup berumah tangga bersamanya.
"terima kasih ya Mas. Aku senang banget bisa punya suami seperti kamu. suami yang selalu mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Hari terindah seperti inilah yang selalu aku tunggu-tunggu, dan hari bahagia itu aku lalui bersamamu." Dinniar memeluk Jonathan.
bagi Dinniar kemewahan hidup yang diberikan Jonathan bukanlah alasannya untuk berada di dekat suaminya itu. kemewahan yang diberikan Jonathan adalah pelengkap dari kebahagiaan rumah tangga mereka dan bukan keutamaan dalam rumah tangga mereka.
meskipun zaman terus berubah akan tetapi kebutuhan manusia tetaplah cinta, kebahagiaan, dan kehangatan dari keluarga.
"Kita nonton film lain lagi yuk." Jonathan mulai memilih beberapa film.
adegan dalam film.
"Kamu pakai bajumu sekarang. Adel mau bicara denganmu."
Terena mengikuti perintah mantan suaminya yang sedang melakukan video call dengannya. Terena sering sekali bergonta-ganti pasangan dan berhubungan badan dengan kekasihnya, meski dulu dia sudah memiliki suami yang tampan dan juga anak yang sangat menggemaskan.
"Sudah." Terena muncul kembali di layar ponsel.
Albi masuk ke dalam kamar kembali dan memberikan telepon genggamnya kepada Adel. Albi selalu menjauh dulu dari Adel sesaat sebelum menghubungi Terena. Dia sangat hafal betul sikap mantan istrinya itu. Albi tahu bagaimana sikap Terena di luar sana yang bisa bermain liar bersama kekasihnya dimana saja.
"Hallo anak mama sayang. Apa kabar Adel?" Terena berusaha bersikap ramah kepada putrinya.
Adel adalah putri kandung dari Albi dan juga Terena. Terena terpaksa memberikan keturunan kepada Albi demi mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya dan juga harta gono-gini dari sang mantan suami. Terena sangat tidak terlalu memperdulikan Adel karena baginya Adel adalah anak yang dipaksakan hadir ke dunia.
Selesai berbicara Adel mengembalikan telepon genggam milik papanya.
"Thank you, papa." Suara gemas itu begitu membuat Albi bahagia.
Putrinya adalah harta paling berharga untuknya. Dia mengurus anaknya dan juga bekerja. Albi pria yang tampan dan juga sangat pekerja keras. Dia adalah seorang Hakim yang mengurus tentang perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga. Dia menjadi seorang hakim karena suatu alasan. Dia menikah dengan seorang wanita yang merupakan anak dari mantan dosennya yang sekarang menjadi ketua di kantor kejaksaan. Albi dan Terena berpacaran selama satu tahun waktu itu. Tak lama ayahnya menyuruh mereka menikah.
Albi melihat gelagat aneh dari istrinya. Dia mulai mengikuti Terena pergi dan dia terkejut. Terena ternyata memiliki pria lain. Sejak saat itu Albi begitu dingin sikapnya terhadap Terena dan juga wanita lain. Dia bahkan sudah seperti monster kutub Utara semenjak perceraiannya. Dulu saja dia sudah kaku tidak terlalu berbaur dengan sekelilingnya ditambah kasus perselingkuhan istrinya. Itu membuat dirinya menjadi bertambah tidak bersahabat dengan dunia.
Albi lebih senang menyendiri dan bermain dengan Adel. Sejak Adel berusia dua tahun, Albi dan Terena memutuskan berpisah. Pernikahan yang hanya berlangsung tiga tahun itu memiliki dampak negatif yang begitu besar dalam kehidupan keseharian Albi.
"Akhirnya dia tertidur." Albi menutup buku dongeng dan membetulkan selimut putrinya sebelum keluar dari kamar sang putri.
Albi kembali ke dalam ruangan yang begitu privasi baginya. Tidak ada orang yang boleh masuk ke dalam ruangan itu kecuali atas perintahnya. Bahkan untuk membersihkan ruangan saja Albi selalu melakukannya sendiri. Begitu juga dengan kamar tidurnya.
Albi merenung di dalam ruangannya. Di balik meja itu dia biasa memusatkan pikirannya agar bisa fokus. Albi lalu membuka laptopnya dan menganalisa lagi dokumen perceraian yang sedang diajukan pasangan suami istri yang ingin mengakhiri pernikahannya.
Kini bagi Albi pernikahan hanya sebatas status saja. Tidak ada pernikahan yang sempurna seperti cerita di dalam dongeng.
Dari setiap kasus yang dia tangani, Albi selalu berusaha memetik hikmahnya dan belajar dari kesalahan dalam rumah tangga orang lain. Saat dia menikah, ternyata keadaan berbanding terbalik. Semua yang sudah dia pelajari dan berusaha menjadi seorang suami yang baik. Albi tetap dihadapkan oleh kenyataan menyakitkan untuknya.
Terena dengan santainya waktu itu meminta cerai setelah Albi mengetahui perbuatannya. Albi yang baru dikaruniai seorang putri menjadi bimbang. Setiap ada kebahagiaan dalam hidupnya terus beriringan dengan kesedihan yang harus dia atasi seorang diri.
Albi tidak memiliki seseorang yang bisa dia ajak bicara. Tidak ada orang yang mengetahui keluarga dari Albi. Albi mengaku sebagai seorang anak yatim piatu yang berjuang seorang diri untuk menjadi orang sukses.
Kemalangan dan kebahagiaan terus berdampingan, seakan sedang bersaing untuk mencari perhatian dari Albi.
Lelah dengan tugas dan harus melihat layar laptop, akhirnya Albi mematikan laptopnya dan kembali ke kamar pribadinya.
Albi merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi dan memberikan kehangatan untuk dirinya yang sudah tidur sendirian sejak kejadian pengkhianatan istrinya.
********
Pagi hari Albi dikejutkan dengan kedatangan tantenya ke rumah. Baby sitter Adel yang dipekerjakan pulang hari membawa Adel ke dalam kamar. Albi selalu melarang Adel mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Makanya sampai detik ini Adel tidak tahu kalau kedua orang tuanya sudah berpisah.
"Albi, kamu harus segera menikah. Kamu tahukan orang-orang terus menggunjing mu. Bahkan mereka menganggap perceraian mu dengan Terena adalah mutlak kesalahanmu sebagai seorang pria." Kesal Mela sambil duduk di ruang tamu.
"Sudahlah Tante, tidak perlu dengarkan perkataan orang lain. Bagiku itu tidak penting. Aku tidak mau mendengar atau membaca hal-hal buruk tentangku di media sosial." Sergahnya.
"Tidak bisa begitu Albi. Ini menyangkut reputasi mu. Bukan hanya tentang opini masyarakat tentang dirimu yang dianggap menyukai sesama jenis atau pria yang tidak bisa memuaskan istri di atas ranjang." Mela menaikkan kedua bahunya acuh.
"Ada apa dengan reputasiku? Itu tidak berkaitan dengan pekerjaanku jadi tidak penting." Tandasnya.
"Tidak berkaitan katamu? Lihat ini, kamu bisa saja kehilangan pekerjaanmu hanya karena opini mereka. Orang butuh bukti nyata Albi." Teriak Mela yang sudah jengah mengomeli keponakannya yang keras kepala itu.
"Aku tidak ingin menikah lagi." Tegas Albi sambil meninggalkan bibinya.
"Albi tunggu!" Mela menyusul Albi ke arah dapur.
Mela membuat wajah kesal sambil menatap Albi yang masih dengan santai menghadapi semuanya. Bahkan saat ini Albi tengah asik meneguk jus yang sudah di sediakan oleh Asisten rumah tangganya.
Mela mengerti perasaan Albi. Namun, dia tidak bisa membiarkan keponakannya berada dalam situasi gawat seperti saat ini.
Mela bekerja di bidang kehakiman juga. Hanya saja Mela mengurusi tentang kasus tindak kejahatan masyarakat.
"Dengar, Tante akan mencarikan wanita yang tepat untukmu. Dalam waktu satu bulan ini. Jika cocok kita langsungkan pernikahan segera."
Akan tetapi Mela kembali menghentikan langkahnya.
"Dengar Albi. Jika sampai masalah ini mencuat ke publik. Semua yang kamu perjuangkan dan pertahankan selama ini akan hilang. Mereka berdua tidak akan melepaskan mu dan akan membawamu pulang."
Mela beranjak dari tempatnya dan menyambar tas yang tadi dia letakkan di sofa ruang tamu. Mela langsung menghilang dalam sekejap dari pandangan Albi.
"Kenapa semua wanita selalu saja ingin kehendaknya di ikuti. Dan kalau tidak diikuti, lihat saja sikap Tante ku itu. Begitu tidak bersahabat. Bahkan pada tas mahalnya sekalipun." Albi bicara begitu sebab Mela menyambar tas mahalnya dengan kasar setiap kali emosinya memuncak.
Albi kemudian terdiam sejenak mengingat perkataan terakhir tantenya sebelum meninggalkan rumahnya.
"Apa yang dibicarakan Tante ada benarnya juga."