Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 28 - Hati seorang Istri



Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Cornelia. Darius tak bisa berkata-kata, dia memilih diam. Darius tidak mau lagi berdebat dengan Cornelia. Dia tidak mau menguras habis tenaga dan pikirannya saat ini. Karena Darius harus memikirkan bagaimana caranya agar rumah tangganya tetap utuh.


Selesai membereskan semua barang. Darius merebahkan tubuhnya di kasur. Cornelia kemudian memeluk tubuh suaminya. Dia dan Darius berdamai dengan keadaan. Cornelia memberi support kepada suaminya. Dia sadar kalau semua ini sudah pasti sangat berat untuk Darius.


"Aku tahu Mas. Kamu tidak mau melepaskan Dinniar. Hanya saja, kamu tidak akan bisa menjadi adik jika terus mempertahankan dia wanita tetap ada di sisimu. Salah satunya harus pergi, dan aku tidak mau menjadi salah satu itu. Aku mau hanya aku yang ada di hidupmu." Batin Cornelia sambil memeluk erat tubuh suaminya.


Cornelia menepuk-nepuk punggung suaminya agar bisa tertidur lelap. Darius saat merasa tertekan tidak bisa tidur, tapi Cornelia tahu cara menidurkan suaminya saat suasana hati Darius sedang berantakan.


.


.


Dinniar yang hatinya sudah hancur dan matanya sudah sembab karena menangis semalaman.


"Semalam akan menjadi kali terakhir aku menangis dirimu. Aku tidak akan pernah bisa menerimamu seperti dulu lagi Mas." Dinniar bangun dari tempat tidurnya.


Matanya yang sembab menjadi bukti dia telah menangis semalaman dan membuat kedua asisten rumah tangganya heran.


"Ibu, Ibu kenapa matanya? Sakit?" tanya salah satu asisten rumah tangga.


"Tidak apa-apa, Semalam hanya saja mata saya kelilipan dan tidak sengaja di gosok terus. Mungkin ini efeknya


Mata jadi bengkak." Pungkasnya.


Dinniar menyembunyikan semuanya dari orang-orang yang ada di rumahnya.


Dinniar tidak mau mereka tahu beban apa yang sedang di pukul olehnya. Dinniar menyembunyikan kesedihan terdalamnya. Cukup dia, sahabatnya dan suaminya. Pria itu telah menorehkan luka, luka dalam yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.


Dinniar sudah selesai menyiapkan menu sarapan yang bergizi untuk putrinya yang cantik dan pintar.


"Morning, Mamih." Tasya menghampiri Dinniar.


"Mamih, habis menangis ya?" tanyanya.


Putri yang sangat kritis pemikirannya. Langsung bisa menyadari perubahan wajah maminya.


"Tasya. Mamih semalam lagi beresin album foto lalu kelilipan debu. Makanya jadi sedikit bengkak dan agak merah." Dinniar memberi alasan.


"Benarkah? Tapi kenapa seperti orang habis menangis. Tasya pernah menangis dan matanya seperti Mami." Tasya mengusap mata maminya dengan lembut.


Dinniar hampir kehilangan kendalinya ketika putrinya mengusap kedua mata yang habis menangis semalaman.


"Tidak sayang. Mata ini terkena debu. Makanya Tasya jangan main di tempat kotor. Nanti matanya bisa kemasukan debu." Alasan demi alasan di lontarkan demi meyakinkan putrinya.


"Non. Benar kata Mami, kalau Mami kena debu. Bibi juga pernah seperti itu."


Dinniar tersenyum kecil kearah asisten rumah tangganya. Ia seakan sedang berterima kasih karena sudah diberikan pertolongan.


Sepertinya mereka mengerti kenapa Dinniar matanya sembab. Mereka meski diam dan percaya dengan perkataan Dinniar sebenarnya mereka mengerti dan paham suasana yang ada di rumah saat ini.


kepergian Darius yang tiba-tiba dan tidak pulang untuk beberapa hari tidak pernah terjadi selama ini. Darius dulu selalu pulang sebelum adzan Maghrib berkumandang, tapi beberapa bulan ini dia sering pulang terlambat dan fatalnya sekarang tiga hari tidak pulang kerumah.


.


.


Wanita yang masih tergeletak di rumah sakit itu. Entah mengapa hatinya tidak karuan dan membuatnya menjadi uring-uringan.


Ibu dari Darius yang sedang dirawat di rumah sakit karena penyakitnya.


"Bu. Ada apa?" tanya seorang perawat


"Bisa tolong teleponkan putraku?"


Perawat langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi putra dari si wanita tersebut.


"Maaf. Putramu tidak bisa di hubungi."


"Coba telepon menantuku." Pintanya.


Perawat mencoba menghubungi Dinniar.


"Hallo. Maaf Bu, Ini Bu Susi yang meminta saya untuk menghubungi Bu Dinniar." Perawat memberikan ponselnya kepada Susi.


Dinniar dan ibu mertuanya saling bicara. Dinniar hapal betul sifat ibunya. Pasti dia sedang gelisah. Ikatan ibu dan anak itu sangat kuat. Sehingga Susi bisa dengan cepat merasakan apa yang dirasakan oleh Darius.


.


.


Dinniar yang mendengarkan semua perkataan ibu mertuanya. Langsung bisa menangkap inti pembicaraan.


"Bu, Aku dan Mas Darius baik-baik saja. Kami akan tetap baik-baik saja." Dinniar mencoba menenangkan mertuanya.


"Din, Ibu tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu paling bisa menyembunyikan rasa yang ada di hatimu. Ibu sudah menjadi ibu mertuamu selama lima tahun. Jangan bohongi ibu," ujar Susi dari seberang telepon.


Dinniar terdiam, ibu mertuanya sangat cepat untuk menyimpulkan keadaan. Dia tidak mau ibu mertuanya tahu masalah rumah tangganya. Dia tidak mau kondisi ibu mertuanya yang sudah membaik malah menjadi menurun karena permasalahan ini.


"Dinniar tahu ibu cemas karena sudah beberapa bulan ini Mas Darius tidak menemui Ibu. Bu dia sedang sibuk dan sekarang sedang di luar kota. Jadi Dinniar harap Ibu tidak cemas lagi."


Menantu yang sangat baik. Berhati malaikat dan selalu pengertian. Susi yang mengetahui kalau menantunya tidak ingin bercerita. akhirnya menutup teleponnya. Dinniar yang tahu telepon sudah terputus langsung kembali menangis.


Untung saja tadi saat menerima panggilan telepon Dinniar langsung masuk ke dalam kamar agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


Dinniar lalu membuka pesan dan ada pesan dari Darius.


"Kamu pulang, Mas? Apa harus aku bersikap kelewat batas baru kamu akan pulang?" Dinniar sudah sangat dongkol dengan sikap suaminya.


Dinniar langsung menghubungi Sonia. Mereka berdua akan bertemu di rumah Dinniar siang ini.


Dinniar keluar kamarnya dan menemui putrinya di kamar bawah.


"Sayang. Hari ini Tante Sonia mau datang. Katanya mau jemput Tasya dan ajak Tasya main ke rumahnya. Gimna, Tasya mau?" tanyanya.


"Mau, Mih. Tasya siap-siap dulu ya." Tasya terlihat senang.


"Bawa baju ganti dan juga bawa beberapa keperluan mu yang lainnya." Dinniar tersenyum melihat tingkah putrinya.


"Bu, apa perlu Sada siapkan cemilan?" tanya Bibi


"Boleh, Bi. nanti simpan di meja depan saja ya," kata Dinniar.


Dinniar menunggu kedatangan sahabatnya di rumah. Dia bermaksud ingin menitipkan Tasya. Dinniar tidak mau Tasya tahu tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Papinya


Dinniar masih belum siap jika mental putrinya rusak. Karena cenderung anak-anak yang mengalami broken home, Sulit untuk menerima kondisi sekitar.


Mereka akan adik dengan dunianya. Dinniar tidak mau itu terjadi. Dia mau putrinya tumbuh menjadi anak yang sehat secara jasmani atau rohani.


Sonia yang ditunggu-tunggu telah tiba di rumah Dinniar.


Dia melihat Tasya sedang asik bermain dan tidak memperhatikan kalau Sonia sudah berada di rumahnya.


.


.


.