
Tasya dan kedua saudaranya pergi ke sekolah. Tasya dan adiknya Devano diantar oleh supir pribadi mereka. Sesampainya di sekolah dasar harapan. Tasya disambut oleh papinya yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu gerbang sekolah.
"Tasya sayang." Darius sudah merentangkan tangannya hendak memeluk buah hati tercintanya. Namun, sayang Tasya tak merespon.
Tasya pergi begitu saja tanpa perduli dengan kehadiran papinya di sekolah.
"Tasya ... Tasya papi mau bicara sayang." Darius bicara agak keras.
Supir yang mengantar melihat reaksi kesal dari mantan suami bosnya itu. dia lalu berdiri di depan Darius.
"Pak, saya harap anda tidak mengganggu aktivitas sekolah. karena ini lingkungan Yoon sekolah dan non Tasya harus belajar. jadi, saya mohon bapak mengerti. jangan membuat non Tasya menjadi tidak fokus dengan pelajaran sekolah." pinta sang supir seraya sedikit mendorong tubuh Darius dari posisi berdirinya.
Darius hanya bisa pasrah kali ini. bukan hanya karena perlakuan dingin dari putrinya, tapi juga karena dihalangi oleh supir yang mengantar anaknya ke sekolah.
"Aku akan menjemputnya nanti. jadi kamu tidak perlu datang ke sekolah." Darius menatap supir itu.
"Silahkan bicara dulu dengan Bu Dinniar atau pak jonathan. saya hanya akan menuruti perintah mereka." tegasnya.
Supir pribadi Tasya dan Devano sudah dilatih untuk menghadapi hal-hal yang diluar prediksi mereka. Rudi tidak boleh mendengar perintah siapapun kecuali perintah dari Dinniar dan Jonathan. setiap hal harus dilaporkan kepada kedua majikannya itu. Rudi juga kerap kali bersikap sangat tegas ketika dibutuhkan.
Darius pergi dengan frustrasi. Dia benar-benar tidak bisa membujuk putrinya untuk berdamai. Tasya mewarisi sikap keras kepala dari maminya. Wajar saja kalau dia tidak mudah melunak.
"Aku harus menemui Dinniar. dia harus membujuk Tasya agar bisa berbaikan denganku." Darius masuk ke dalam mobil dan mengendarainya.
Setelah kepergian Darius. muncul sosok wanita memasuki gerbang sekolah. Dia bertanya kepada penjaga sekolah.
"Anaknya bernama ...," wanita itu melihat anak yang sedang dicarinya.
"Tasya," panggilnya dan Tasya menoleh.
Meski dia tidak yakin kalau dirinya yang dipanggil. namun, dia tetap menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara.
"Hai." Wanita muda itu melambaikan tangannya untuk menyapa.
Tasya hanya dia melihat wanita yang merupakan istri papinya berada di lingkungan sekolah.
"Bagaimana Tante bisa menemukan ku?" tanya Tasya dengan polosnya.
"Tasya, boleh Mama bicara sebentar?" tanyanya.
"Bel akan segera berbunyi. jadi aku harus masuk ke dalam kelas."
"Tasya, mama mau kamu bertemu dengan papi mu. kasihan dia sangat merindukanmu." salsa membujuk anak sambungnya itu.
"Maaf Tante. aku sedang sibuk karena akan adanya ujian Tengah semester." Tasya menolak dengan sangat halus.
"Tasya, aku bukan Cornelia. Aku adalah wanita normal. jadi kamu tidak perlu menjaga jarak." jelas salsa.
Bel sekolahpun berbunyi. anak-anak bersiap untuk masuk ke dalam kelas. Tasya melihat salsa yang masih di depan kelas dari kaca kelasnya. ada rasa iba di hati anak kecil itu. hanya saja pastinya dia enggan menunjukkannya.
"Anak-anak sekarang waktunya mulai pelajaran. ibu minta kalian fokus agar mendapatkan nilai yang bagus saat ujian nanti." ujar seorang guru yang berdiri di depan.
Tasya mulai memperhatikan gurunya. anak yang manis itu selalu berusaha baik meski pada orang yang tak ia sukai.