
Aku sampai di apartemen. Dengan kaki yang lemas dan tubuh yang sudah lengket. Kurebahkan tubuhku di atas sofa untuk istirahat sejenak. Apartemenku tidak jauh dari kampus, sehingga cukup dengan berjalan kaki dan dalam lima belas menit sudah sampai.
Sambil beristirahat di sofa. Kunyalakan musik, dengan mendengarkan musik aku bisa mengembalikan semangatku. Sambil terus mendengarkan, aku masuk ke kamar mandi.
Aku bersenandung mengikuti lagi yang terdengar. Sambil menggosok tubuhku. Aku sedikit bergoyang. Untung saja apartemen ini sedikit kedap suara. Sehingga tidak mengganggu oleh tetangga sebelah kanan dan kiri.
Selesai mandi aku langsung berganti pakaian dan menyelesaikan tugas. Besok adalah hari pertama aku presentasi di kampus. Rasanya sangat berdebar meski sering melakukannya. Namun, kali ini rasa berbeda karena suasana kampus.
Sebelum memulai membuat tugas aku terlebih dulu meneguk susu hangat dan melihat foto keluarga yang bisa memberikan semangat.
Rasanya sangat rindu kepada mereka semua. Meski kami sering menyapa memalui panggilan telepon tetap saja. Rasa rindunya masih ada belum hilang sepenuhnya.
Jariku mulai menari-nari indah diatas keyboard laptop dan mataku mulai memindai isi buku. Aku membuat sebuah power poin kali ini untuk presentasi. kubuat semenarik mungkin. Tak terasa jam menunjukkan pukul delapan malam dan perutmu keroncongan.
Ku lihat isi kulkas dan tidak ada makanan ringan yang tersisa. Ku pakai mantel dan keluar dari apartemen untuk mencari makanan di supermarket.
Kuhampiri rak-rak yang berisikan makanan ringan. Kuambil beberapa mie instan, roti, salad buah, salad sayur dan shusi. kulihat antrian kasir tidak terlalu panjang gegas aku langsung menuju kasir dan mengantri.
"Sedang apa kamu di sini?" suara pria Yanga begitu aku kenal menanyaiku.
Aku langsung menoleh kebelakang. Sejak tadi berkeliling supermarket aku tak melihat ada dia.
"tentu saja aku berbelanja. Untuk apalagi aku ke sini?" tanyaku dengan sewot karena pertanyaannya yang klasik dan terkesan basa-basi.
"Aku tahu, tapi kenapa tidak menghubungi untuk minta di antar olehku?" tanyanya lagi sambil menaikkan satu alisnya.
"Untuk apa? Aku bisa jalan ke sini sendirian. Lagi pula jaraknya dekat juga." aku masih terus sewot.
Bertemu dengan Raka membuatku risih sekali. Dia bersikap seperti seorang pacar yang selalu mengawasi. Dia terkadang juga seperti cctv yang selalu tahu keberadaanku. Seperti kali ini. Dia ternyata ada di supermarket yang sama denganku. Begitu merepotkan sekali. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia kuliah di tempat yang sama denganku.
Raka kuliah di jurusan kedokteran. Dia memang selalu unggul dalam pelajaran matematika dan juga ilmu pengetahuan alam. Selama satu kelas dengannya mereka sangat bersaing meski awalnya Raka sangat enggan menjadi murid teladan, tapi entah apa yang memotivasinya hingga dia kembali belajar yang tekun dan selalu juara dua. meski guru selalu bilang kalau dia seharusnya bisa selalu menjadi bintang sekolah dengan juara satu.
aku sudah selesai membayar belajaanku di kasir. Aku melenggang menjauh. Namun, tangannya meraihku dengan cepat.
"Tunggu di situ. Kita pulang bareng." tuturnya lalu melepaskan tanganku.
Aku sedikit mengerutkan dahiku. Sebab aku dan dia berbeda apartemen. Apartemen Raka jauh lebih bagus dariku. Dan kenapa dia bilang pulang bareng?
Aku keluar dari toko tanpa menghiraukannya. dan berjalan pelan di bahu jalan. Aku menikmati malam yang bertabur indah. sungguh pemandangan yang indah dan jarang sekali di jakarta aku bisa melihat ini.
"Sudah aku bilang tunggu. kenapa terus berjalan?" tanyanya dengan nada terdengar marah.
"Untuk apa menunggu? Jelas kita berbeda arah dan untuk apa kamu mengantarku?" tanyaku yang aneh melihat sikap Raka.
"Apa kamu tidak tahu?" tanya Raka dan membuatku menaikkan kedua bahu acuh.
"Aku tinggal tepat di seberang kamarmu. Kita bertetangga."
"What?" Perkataan Raka membuat aku menghentikan langkahku dan sedikit berteriak.
"Alesya kenapa kamu tinggal tanpa memperhatikan siapa saja tetanggamu?" tanya Raka.
"untuk apa? Aku tidak perduli asal ketenanganku tak terganggu." jawabku.
"Meski begitu, tetap saja. Kalau hidup itu harus bersosialisasi. Jika kita bersosialisasi dengan benar akan banyak manfaat yang di dapat."
Raka sudah seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya. Aku mempercepat langkah agar sampai ke apartemen lebih dahulu. pantas saja dia tahu kemana aku pergi. ternyata dia adalah tetangga seberang kamarku. Sunggu menyebalkan sekali satu lingkungan apartemen dengan pria yang mulai posesif denganku.
"Lain kali kemanapun beritahu aku. Mami dan papamu menitipkan kamu padaku." ujarnya saat aku semakin berjalan cepat dan hampir berlari kecil.