
Rendy terus mencari tahu penyebab atau alasan dibalik pemutusan kontrak yang terasa sangat janggal itu. Dia menghubungi beberapa pihak yang bisa membantunya. Dia juga mencoba menghubungi sang model, tapi tidak kunjung direspon.
"tolong hubungi saya jika anda sudah punya waktu senggang atau saat melihat pesan ini." Rendy menulis pesan kepada model yang terputus kontraknya.
"Aku harap dia merespon pesanku dan menghubungi aku." ujar Rendy sambil menggenggam telepon genggamnya penuh harapan.
Tak jauh dari tempat Rendy berdiri asisten pribadi Melinda terus memperhatikan dan memberikan kabar kepada atasnya. Ayu adalah asisten pribadi Melinda yang selalu mengekor kemanapun Melinda pergi atau berpijak.
"Sepertinya aku harus membuat janji dengan Evelin siang ini. Kalau tidak salah dengar. Siang ini dia tidak ada jadwal syuting film. Ini kesempatan bagus untuk mengobrol dengannya." gumam Melinda setelah mendapatkan kabar dari asistennya.
Melinda knagsungbmembuat janji temu dengan manager artis. Dia ingin pergi makan siang dengan Evelin sekaligus membicarakan konsep iklan.
"kita lihat saja, Dinniar. Permainan ya g sesungguhnya baru saja dimulai. Aku akan memastikan hubungan kalian retak dan tak bisa lagi diperbaiki."
Melinda benar-benar ingin sekali hubungan Jonathan dan Dinniar hancur. Dia ingin menggantikan posisi Dinniar disisi Jonathan.
"Apapun akan aku lakukan demi mendapatkannya. Kita lihat saja nanti sampai mana kamu bisa terus bertahan."
banyak sekali ide busuk di dalam pikiran Melinda. Ditambah lagi dihatinya terdapat dendam terhadap seseorang yang juga ia ingin hancurkan. Semua yang dia rencanakan kali ini akan membuatnya bisa mendayung dalam dua pulau sekaligus.
.
.
.
Dinniar menghampiri suaminya yang sedang sibuk memilih makanan ringan untuknya. Dinniar juga memperhatikan suaminya yang banyak menimbang saat memilih makanan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, mas? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Dinniar.
"tidak ada. Semua baik-baik saja. Aku hanya bingung yang mana yang lebih kamu sukai. Karena setiap makan dua cemilan ini. kamu begitu menikmatinya." Jonathan memperlihatkan dua makanan ringan yang sama jenis, tapi berbeda rasa.
"Aku suka yang ini. Rasanya lebih kuat. Dan ada rasa unik di dalamnya. Kamu harus ingat itu mas. Aku suka yang ini." Dinniar menunjuk salah satu rasa makanan yang ada di tangan suaminya.
Jonathan lalu menaruhnya di dalam keranjang belanja.
"aku akan selalu mengingatnya, sayang." Jonathan tersenyum kaku seakan sedang merasa tersindir oleh istrinya.
Dinniar memang sengaja mengatakan hal demikian untuk bisa memberitahukan Jonathan secara tidak langsung kalau dia harus bisa memilih dari jenis dan karakter agar bisa memutuskan mana yang dia ambil.
selesai mencari beberapa makanan ringan. Jonathan membayarnya dan mereka kembali ke ruangan kerja. Sesampainya di sana. Jonathan malah tambah kikuk. Dia merasa kalau pertemuannya dengan Evelin sebuah pertanda buruk. Jonathan menjadi tidak fokus dalam bekerja. Dinniar melihat gerak suaminya yang terus melirik kearah dia.
"Mas, apa ada masalah?" tanya Dinniar.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin terus menatap wajahmu. Itu saja." Jonathan berbohong."
.
.
.
Jam makan siang pun tiba. para karyawan akan makan di kantin sebagai tempat terdekat. Dan sebagian ada yang pergi ke luar kantor.
Melinda mengajak Evelin untuk makan siang bersama. Di sana dia menceritakan bagaimana Jonathan yang terpuruk karena kepergiannya.
"Benarkah? Apa iya, Jonathan sampai depresi karena aku meninggalkannya. Yang aku tahu dia adalah pria yang kuat."
"Kamu tidak tahu saja. Kalau mas Jonathan itu begitu mencintaimu. Dan setahuku, pada malam itu dia ingin sekali melamar mu untuk menjadi istrinya." jelas Melinda.
Evelin benar-benar terhenyak. dadanya menjadi sesak. Dia tidak menyangka kalau pertemuannya malam itu Jonathan berniat untuk melamarnya. nasi sudah menjadi bubur. percuma baginya untuk menyesali apa yang sudah menjadi keputusannya di masa lalu.
Flashback sepuluh tahun lalu.
Jonathan dan Evelin membuat janji untuk pergi nonton bioskop dan makan malam bersama sebagai pasangan kekasih umumnya di malam Minggu.
Mereka menonton film genre komedi seperti yang keduanya sukai. Jonathan dan Evelin bersama karena awalnya mereka menemukan kecocokan dan memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih.
"filmnya lucu banget ya?" tanya Jonathan ketika film selesai diputar.
"Benar, aku sampai sakit perut karena harus tertawa terus." Evelin berkata masih sambil terkekeh.
"Kamu ini. Kalau udah ketawa sampe puas banget sayang." Jonathan menarik kecil hidung Evelin.
"Sayang, kita ke cafe favorit kita yuks." ajak Evelin seraya menenteng tas miliknya.
Jonathan menggandengnya dengan sangat mesra. Dia begitu mencintai sang pacar yang sudah tiga bulan ini lolos menjadi seorang model. Dan rencananya Jonathan pada hari ini ingin melamarnya dan mengajaknya menikah diusia muda.
Jonathan membuka pintu mobil dan evelinoun turun dari dalam mobil. Evelin berjalan masuk ke dalam cafe bersama dengan Jonathan yang menggandengnya.
"Pesan apa?" tanya Jonathan sambil menatap wajah Evelin.
"Kamu tahu pasti apa yang aku inginkan." Evelin ikut menatap wajah kekasihnya.
Jonathan lalu tersenyum dan memanggil pelayan cafe untuk memesan makanan dan minum.
"Dua Cocoa espresso, Ratatouille satu dan truffle cheese satu." Jonathan memesan makanan untuk mereka berdua.
sebelum makan datang. Evelin membuka pembicaraan dengan Jonathan.
"Sayang, aku akan pergi ke Amerika. Aku ada syuting iklan di sana." tuturnya yang membuat Jonathan terkejut.
"Baiklah, aku akan menemanimu ke sana. Berapa lama syutingnya?" tanya Jonathan.
"Dua tahun. Kontrakku dua tahun di sana."
Jonathan langsung bengong. Dia benar-benar tidak pernah membayangkan akan berpisah dua tahun dengan kekasih yang akan segera di lamarnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Evelin.
"Tidak bisakah kamu batalkan? Aku bisa menafkahimu. Aku akan membahagiakanmu. Kamu tidak perlu bekerja. Biar aku yang mengesahkan semuanya." Jonathan memohon.
Evelin menggelengkan kepalanya. "ini adalah impianku. Aku ingin menjadi seorang model papan atas dan juga internasional. Aku mohon. Kita tetap bisa berpacaran meski jarak jauh. sekarang semua sudah canggih." ujar Evelin tanpa memikirkan o rasakan sang kekasih.
"tetapi, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku selalu b rsamamu setiap hari dan selalu melihatmu. Aku mohon jangan pergi." pinta Jonathan.
Makanan mereka tiba. Pelayan meletakkannya di atas meja. Dia keheranan melihat seorang pria yang matanya sudah berkaca-kaca. selesai menyajikan makanan dan minuman. pelayang itu segera pergi.
Jonathan melihat makanan yang sudah dia pesan. baginya makanan favoritnya sudah sangat gambar tanpa perlu dia cicipi.
"Aku juga mungkin empat tahun kefepan tidak bisa menyandang status sebagai istrimu. Karena kontrakku dengan management ini selama empat tahun dan salah satu syaratnya adalah tidak boleh menikah." ujar Evelin lagi yang membuat dada Jonathan semakin sesak.
"Kamu tahu persis keinginanku. Aku ingin segera menikah denganmu. kenapa kamu malah seperti ini? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku?" tanya Jonathan yang sudah hampir meneteskan air matanya.
"Nathan. Ini juga impianku. Jika kamu tidak bisa menunggu. Baiklah. Lebih baik kita putus saja. Aku tidak mau bersama dengan pria yang tidak mau mendukung impianku." Evelin beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Jonathan.
Jonathan hanya terdiam terpaku. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya begitu sakit seperti dihujam pisau yang begitu dalam. Wanita yang selama beberapa tahun ini dia kencani ternyata lebih memilih karirnya ketimbang hubungan mereka berdua.
Evelin pergi menggunakan taksi. Dia di dalam taksi menangis karena keputusannya itu. Namun, hanya itu jalan yang bisa dia ambil demi impiannya.