
Cornelia berada di dalam rumah rehabilitasi bagi orang-orang yang mengalami gangguan mental. dia tidak bisa menjalani hidup dengan nyaman saat ini. Cornelia dipindahkan ke pusat rehabilitas jiwa oleh pihak kepolisian dan atas rujukan dari Erika.
"Kamu sudah makan?" tanya salah seorang petugas.
petugas itu melihat nampan masih tertutup dengan kain. itu menandakan kalau Cornelia belum memakan sedikitpun makan siangnya. Dia sudah melewatkan makan paginya dan sekarang dia juga tidak menyentuh makan siangnya.
"Bu Cornelia. anda harus makan. jika tidak makan maka anda tidak akan memiliki tenaga yang cukup untuk mengikuti berbagai macam kegiatan di sini. saya mohon berikan pengertiannya kepada kami." kata petugas.
melihat kondisi Cornelia semua orang merasa iba. dia memang pelaku kejahatan, tapi juga sekaligus orang yang di terlantarkan oleh suaminya sendiri. Cornelia begitu tidak bisa diajak komunikasi dengan sangat baik. Dia sering kali mengabaikan ucapan para petugas.
Cornelia terlihat sangat sibuk dengan pikirannya sendiri. dia yang terkadang menangis, terasa dan bicara sendiri sering membuat para petugas mengalami kesulitan ketika harus memberikan laporan kepada dokter.
"Sudah, biarkan saja dia. taruh saja makanannya di atas meja dan kita keluar dari kamar ini. jangan lupa untuk di kunci takut dia keluar." seorang petugas lainnya memberi saran.
Nia seorang perawat yang bertanggung jawab atas kemajuan kondisi cornelia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap Cornelia yang acuh terhadap orang sekelilingnya dan juga terhadap dirinya sendiri.
Nia pergi setelah mengunci pintu ruangan Cornelia. saat dia mencabut kunci pintu. Cornelia menghempaskan nampan makanan yang tadi di letakkan di atas meja.
"Aaaaaaaaaaaah." jeritnya begitu kerasa.
Nia menjadi sangat kesulitan dengan sikap Cornelia yang benar-benar merepotkan. Nia masuk kembali ke dalam ruangan dan berusaha merapihkan semua barang dan makanan yang berserakan dilantai kamar.
"Pasien kabur, ada pasien kabur." Nia berteriak di dalam ruangan dan dia tidak bisa keluar dari ruangan itu sebab terkunci dari luar.
Petugas keamanan yang habis dari toilet langsung pergi memeriksa dan membuka pintu untuk Nia.
"Ada apa, Bu?" tanya petugas keamanan kepada Nia yang sudah berhasil keluar dari kamar perawatan.
"pasien saya kabu. kita harus mencarinya. kita sisir tempat yang membuatnya mudah untuk melarikan diri dan sembunyi." Nia dan petugas keamanan lalu meminta tolong kepada petugas rumah sakit jiwa untuk mencari Cornelia.
Cornelia terus mengamati dan kembali kabur. dia juga kembali mencari jalan agar bisa keluar dari rumah sakit jiwa ini.
"Aku harus kabur. aku tidak bisa terus ada di sini. aku tidak mau kehilangan suamiku dan aku tidak mau jika suamiku menceraikan ku." Cornelia tampak sangat baik dan juga tidak terlihat sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa saat memikirkan tentang Darius.
Cornelia berhasil keluar dari rumah sakit jiwa dan dia langsung meminta taksi untuk berhenti.
"Bu, maaf ibu mau kemana? bukan kah itu adalah baju perawatan rumah sakit jiwa?" pekik supir taksi.
Cornelia langsung mendelik membuat si supir taksi menjadi ketakutan. Dia akhirnya mengizinkan Cornelia masuk ke taksi dan dia langsung meminta taksi mengantarnya ke sebuah alamat.
Cornelia mengalami hal-hal yang sulit sebuah perilakunya yang tidak stabil dan sangat sulit di pahami.