
Alesya yang satu kelompok dengan Raka di anak baru merasa kesal. Sebab Raka sama sekali tidak perduli dengan kegiatan kelompok. Dia malah asik mengotak-atik ponsel. Melihat kelakuan Raka membuat Alesya geram.
"Udah enggak bawa peralatan, numpang kelompok orang. eh enggak mau bantuin lagi." celetuk Alesya yang merasa kesal.
"Li ngomongin gua?" tanya Raka dengan melirik Alesya tanpa teralihkan dari ponselnya.
"Ya, bagus deh kalau nyadar." Alesya mengangkat bahunya acuh.
Raka lalu beranjak dari duduknya dan dia sebelum pergi meninggalkan kelompoknya. Raka merubuhkan hasil karya teman-temannya.
"Woy! Ngeselin banget sih!" Teriak Alesya sangking tak dapat lagi menahan rasa kesalnya.
"Udah Sya. Sabar, kita bikin ulang lagi ajah. karena kayaknya kita salah susun deh." Kata Nadia yang berusaha membuat temannya tak marah.
Alesya yang sejak tadi melihat ke arah pintu yang dilalui oleh Raka. langsung kembali fokus dengan apa yang dia kerjakan bersama teman-temannya.
"Ngeselin banget tuh anak baru. Bikin emosi ajah." Alesya masih mengumpan sedikit rasa kesalnya di dalam hati.
Mereka kembali membuat tugas yang diberikan guru. Alesya dan teman-temannya berusaha dengan sangat baik. mereka ingin mendapatkan nilai yang bagus.
Di sekolah Alesya juga popular. dia dikenal sebagai seorang anak yang sangat santun dan juga pintar. Alesya selalu mendapatkan juara kelas mesti tidak selalu menjadi juara satu. Sama seperti Tasya yang juga pintar. bahkan Tasya kerap kali mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah dan melakukan pertukaran pelajar ke berbagai kota dan juga ke luar negeri. Anak-anak Jonathan dan Dinniar memang sangat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi sehingga mampu menjadi anak-anak yang berprestasi.
Tasya di sekolah selalu menjadi idola teman-temannya. Tak sedikit anak laki-laki yang mendekatinya.
"Tasya, liat tuh si vino. dari tadi liatin kamu terus tau." ujar Jelita teman baik Tasya.
"Apaan sih. mungkin dia bukan lagi liatin aku, tapi kesannya kayak ngeliatin aku. udah, ah. kita ke kantin ajah yuk. udah laper nih." Tasya mengelus perutnya.
"Iyah deh Iyah. primadona mah lain. di liatin, di deketin cowok selow ajah dan respon datar." ujar Jelita sambil sedikit terkekeh.
"Apaan sih."
Tasya dan jelita kemudian berjalan menuju ke arah kantin sekolah yang sudah dipenuhi oleh siswa dan siswi sekolah harapan.
"Mau makan apa nih dua anak cantik?" tanya sang penjaga kantin.
"Beli mie ayam satu porsi." Jelita memilih menu yang di sediakan oleh penjual makanan.
"Saya juga mang. Satu porsi mie ayam pakai bakso ya." ujar Tasya.
"Siap, Neng. Mang Udin buatin." Mang Udin langsung balik badan dan menuju ke warung mie ayamnya.
Mie ayam buatan mang Udin memang terkenal enak dan sangat banyak peminatnya. Terkadang kalau telat ke kantin. maka mereka tidak akan ke bagian mie ayam ataupun bakso mang Udin.
"Hai, para cewek cantik." Rayyan duduk di depan mereka berdua.
"Hmmm ... Si tukang modus Dateng." sindir jelita sambil tersenyum tipis.
"Tukang modus apaan. orang ganteng gini dibilang tukang modus. enggak jelas Lo." Rayyan membalas perkataan temannya itu.
"Kalo keluar kelas bisa enggak sih cepet. kita berdua dah nungguin Lo tau dari tadi di depan kelas." Tasya mulai sewol kepada Rayyan.
Melihat tingkah saudara sepupunya yang narsis abis membuat Tasya muak. Rayyan adalah saudara sepupu Tasya dari pihak Dinniar. Dinniar memiliki kakak sepupu yang juga mempunyai anak seusia Tasya.
"Tasya. Nanti gua ikut pulang ke rumah lu. kata bunda di suruh nunggu di rumah mamih Dinniar sampe bunda pulang." tutur Rayyan.
"Boleh ajah sih. cuma inget jangan lama keluar kelasnya. kalo sampe lama. alamat ditinggal." tegas Tasya yang tau sekali kelakuan sepupunya itu.
Jelita tertawa sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Tasya dan rayyan sangat dekat meski terkadang tak jarang mereka bertengkar kecil.
.
.
.
Bel pulang sekolah mulai terdengar di telinga para siswa dan siswi sekolah SMA harapan. Alesya langsung bersiap untuk pulang dan menjemput adiknya Tasya. Tasya dan Alesya pulang di jam sekolah yang sama yaitu jam 14:00. karena jarak rumah lebih dekat ke sekolah Alesya jadi supir selalu menjemput dan mengantar Alesya terlebih dahulu ketika Alesya ikut bersamanya.
"Sya, ayo cepet. Udah bete nih gua di kelas." Ica tiba-tiba nongol di ambang pintu sambil berteriak memanggil sahabatnya.
"Tumben banget tuh anak keluar duluan." Alvi melirik ke arah Ica sambil memakai tas ranselnya.
"Tau tuh. lagi bener kali." Seringai Alesya.
mereka berdua menghampiri Ica yang sudah menunggu di depan kelas sambil mengayunkan kakinya dan tampak wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa sih?" tanya Alesya yang sadah dengan wajah kesal yang terpampang jelas.
"Kesel banget gue, Sya. Lo taukan kalau gue enggak suka banget rambut dipegang orang? eh si Sakira malah pegang rambut gue dan parahnya tangannya itu bekas pegang gorengan." Cerita Ica.
Alesya dan Alvi langsung bergidik jijik saat membayangkan tangan berminyak itu menyentuh rambut indah sahabatnya.
"Buru yuk pulang." Ica memimpin jalan.
Alesya dan Alvi mengikutinya dan mereka berjalan beriringan. Saat tiba di parkiran motor. seseorang yang mereka lihat di kelas tadi keluar mengendarai motornya tanpa mengenakan helm.
"Itu bukannya si Raka ya?" tanya Alesya sambil menunjuk motor yang baru keluar parkiran sekolah.
"Iyah." Alvi menjawab cepat.
"tunggu deh. Bukannya motor yang dia pake itu. motor yang tadi pagi hampir nyerempet gue ya?" Alesya mengingat momen dimana dia hampir terserempet motor.
"Wah, Iyah bener Sya. makanya gue ngerasa mukanya itu enggak asing. ternyata dia yang tadi pagi itu. wah, bikin perkara dia." Alvi bersiap untuk mengejar, tapi Alesya mencegahnya.
" Udah biarin ajah. sekarang kita pulang dulu. kasian si Ica. besok baru kita kasih dia perhitungan." Alesya bicara sambil sedikit menyipitkan matanya sambil melihat ke arah Raka yang keluar dari pintu gerbang sekolah.
"perhitungan-perhitungan. emangnya matematika?!" celetuk Ica yang enggak suka sama keributan.
Ica dikenal sebagai siswa yang cinta kedamaian. dia bahkan di juluki ratu damai.