
Dinniar pergi ke suatu tempat untuk ketemu dengan seorang teman. teman itu menghubunginya karena memiliki sesuatu yang harus dibicarakan dengan Dinniar.
Nia dan Dinniar membuat janji untuk saling bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari komplek rumah Dinniar.
Sesampainya di cafe, mereka saling bersalaman dan menyambut dengan hangat. Dinniar sangat senang bisa bertemu kembali dengan teman lamanya yang sempat terputus kontak.
"Nia apa kabarmu?" tanya Dinniar.
"Kabarku baik, Din. Bagaimana dengan kabar kamu?" tanyanya balik.
"Kabarku juga cukup baik. Hanya saja ada sedikit gangguan dari orang yang tidak bertanggung jawab." Dinniar menceritakan sedikit kondisinya saat ini.
"aku juga memiliki masalah. Aku sangat mau menghubungi kamu disaat aku dalam kesulitan. Maafkan aku Dinniar." Nia tertunduk malu.
"Jangan bicara begitu Nia. dulu kamu juga sempat membantuku. Kamu ingat, kamu pernah membantuku mencari tahu keberadaan mas Darius saat aku dan dia masih bersama. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Kalau bukan karena kamu, mungkin saat ini aku masih terus dibohongi." Dinniar menggenggam tangan Nia.
"aku tidak tahu lagi harus bercerita kepada siapa. Aku butuh sekali teman untuk bercerita. Kamu tahu kan aku masih lajang, belum menikah. ketika aku membutuhkan sesuatu orang tuaku selalu memberikannya. jika aku mempunyai masalah orang tuaku akan selalu menyelesaikannya sehingga kehidupanku selalu aman dan tentram. orang tuaku selalu memberi dan membantu, karena mereka sangat menyayangiku meskipun aku sudah menginjak dewasa atau bahkan sekarang sudah dibilang berumur. sebenarnya seharusnya tidak ada yang perlu harus aku rasakan karena orang tuaku selalu ada setiap aku membutuhkan. sekarang aku hidup sebatang kara, Setelah sepeninggalan orang tuaku." cerita Nia kepada Dinniar.
Dinniar menjadi iba terhadap Nia. Dia tidak tega setelah mengetahui bahwa temannya itu sudah tidak memiliki orang tua lagi. Terakhir dia bertemu masih ada ibunya yang selalu menjaga Nia.
"iya kamu harus percaya pada kemampuan dirimu sendiri. Aku tahu kamu seperti ini karena disebabkan sejak masa kanak-kanak hingga dewasa kamu kurang terlatih untuk memanfaatkan kemampuan dan potensi yang kamu miliki. kamu selama ini selalu mengandalkan kedua orang tuamu bukan mengandalkan kemampuanmu sehingga kamu juga sulit untuk mencapai hidup yang lebih baik tanpa mereka." ujar Dinniar.
"aku benar-benar hancur Dinniar. mereka adalah tempat ternyaman untukku. sampai-sampai aku merasa tidak butuh pendamping hidup." ujarnya sambil tersedu-sedu.
"Nia karena dulu kamu terlalu bergantung kepada orang lain sehingga sekarang kamu merasa hidup kamu juga berakhir. kamu merasa tidak ada orang yang menjadi tumpuan hidupmu. pertama yang harus kamu lakukan adalah Kamu membuang pikiran bahwa ketika mereka pergi dari sisimu kamu tidak bisa lagi menghadapi hidup. masa depanmu masih panjang dan kamu bisa memulai kembali. bagaimanapun hidup itu harus dilanjutkan kamu harus bisa mengembangkan potensi di dalam dirimu. kamu harus bisa yakin bahwa kamu memiliki kemampuan dan bisa membangun kembali apa yang telah ditinggalkan kedua orang tuamu untukmu. kamu renungkan apa yang bisa kamu lakukan untuk usaha kedua orang tuamu yang mereka bangun agar kamu bisa tetap hidup nyaman di saat mereka telah tiada."
mendengar perkataan dari sahabatnya membuat dia menjadi kuat. dia sudah mulai bisa membuka pikirannya bagaimana caranya dia untuk bisa melanjutkan kehidupan ini tanpa kedua orang tuanya di sisi dirinya.
"Terima kasih Dinniar. Kamu memang benar-benar sahabat. Kamu benar-benar orang yang tepat untuk diajak bicara. betapa menyesalnya Darius harus meninggalkan seorang wanita yang sangat bijaksana seperti dirimu." ujar Nia.
"aku hanya belajar dari kehidupan. aku pun sama putus asanya denganmu. ketika aku harus merelakan seseorang yang sangat aku cintai. aku juga sangat berat untuk berjalan sendiri ditambah lagi aku sudah memiliki seorang putri. Aku harus bisa bangkit untuk dirinya. Aku adalah tujuan dari putriku. dan putriku adalah jalan untukku meraih masa depan yang bahagia bersamanya." Dinniar tersenyum.
Nia yang sudah lebih tenang berpamitan. dia berjanji akan lebih sering mengunjungi Dinniar. Dia sangat senang memiliki seorang sahabat seperti Dinniar.
Dinniar melambaikan tangannya dan mengembangkan senyumnya untuk menambah semangat Nia menjalani hidup.