Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
224-Raka Abi Prayogo



Raka masuk ke dalam kelas dan menyimpan tasnya. Dia lalu mengeluarkan ponsel miliknya saat terdengar panggilan masuk.


"Halo." Raka menjawab telepon.


"Okeh gua bakalan ke sana nanti malam. Udah tenang ajah. masalah ngadepin orang tua gue mah gampang. enggak perlu Lo pikirin." Raka bicara di telepon dengan seseorang dan mereka membuat janji temu.


Terdengar suara bel sekolah tanda pelajaran akan dimulai. Raka mengantongi ponselnya dan duduk rapih. Seluruh temannya tiba di kelas setelah mendengar bel.


"Sya. nanti malem jadikan ke toserba yang baru buka itu?" tanya Alvi sebelum duduk dibangkunya.


"Iyah jadi. tenang ajah sih. emang disana ada apaan sih? kok Lo ngebet banget kepengen ke sana?" tanya Alesya sambil nyengir kecil.


"Ya pengen ajah kali kesana. kali ajah di sana ada jenis makanan yang berbeda dari toserba lain." ujar Alvi.


Alvi dan Alesya duduk di bangku mereka karena sebentar lagi guru akan masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi, anak-anak." sapa guru sebelum pelajaran di mulai.


"Selamat pagi Bu." Jawab seluruh siswa dan siswi yang berada di dalam kelas.


Mata sang guru berkeliling melihat satu persatu muridnya.


"Arya hari ini absen lagi?" Teriak Bu Irnie.


Bu irnie terkenal mampu menghafal setiap murid. sehingga tanpa absen dia sudah tahu siapa murid yang tidak masuk sekolah.


"Gila tuh guru. kemampuan mata elangnya masih ajah nempel guys." Alvi bicara saat gurunya keluar kelas.


"Namanya si mata elang. dimanapun mangsanya bersembunyi pasti ketahuan juga." jawab Alesya.


Alesya dan Alvi kemudian tertawa kecil dan menghentikannya segera sebelum ketahuan oleh gurunya.


Raka memperhatikan kedua sahabat itu. Lalu dia sedikit menarik ujung bibirnya.


.


.


.


Sama hal seperti kakaknya Alesya dan Tasya. Devano juga sedang beradu di sekolah. Seperti biasa Devano sangat terlihat tampan dan gagah meski masih kecil. Dia juga sangat cepat memahami pelajaran. diusianya yang sudah masuk sekolah taman kanak-kanak, membuat Devano menjadi anak kegemaran gurunya karena hanya sedikit menerangkan Devano sudah menerimanya dengan sangat baik.


"Anak-anak hari ini kita akan membuat kolase. sebelum kita masuk ke tahap membuat kolase. kalian Miss minta untuk terlebih dahulu membuat serpihan kertas. ayo keluarkan kertas origami dan mulai membuat serpihan." Jelas guru yang mengajar di kelas Devano.


anak-anak mulai mengeluarkan kertas origami yang sudah di berikan guru tadi. mereka mulai membuat kertas kecil-kecil dengan menyobeknya. Devano melakukannya dengan sangat baik. dia membuat sobekan yang sedang.


"okeh sekarang Miss akan bagikan kertas yang sudah ada gambarnya. nanti kalian tempelkan serpihan kertas diatas gambar sehingga menjadi bentuk sesuai dengan gambarnya." perintah guru kelas.


mereka segera mengeluarkan lem dan menempelkan serpihan kertas diatas kertas yang sudah ada gambarnya. Devano menempelkan serpihan kertas dengan sangat baik setelah dia mengoleskan lem dibeberapa sudut gambar.


"Devano, punya kamu bagus banget. boleh ajarin aku enggak." seorang anak perempuan mendekati Devano dengan centilnya.


melihat teman perempuannya bersikap genit Devano langsung membuat wajah tak suka. namun, teman perempuannya tetap menatapnya dengan tatapan penuh harapan.


"Miss. ini Selena katanya enggak bisa bikin kolasenya dan mau minta diajari." teriak Devano.


gurunya langsung tersenyum tipis dan tanda dia mengerti kenapa Selena mendekati Devano. dengan cepat dia melangkah ke arah Selena.


"Selena cantik. mau Miss bantu atau mau dikerjakan sendiri saja?" tanya Miss Diana.


"Aku kerjakan sendiri saja Miss." Selena langsung meninggalkan meja Devano dengan wajah cemberutnya.


"Aku sudah selesai Miss." Devano mengangkat tangannya sambil memegang kolase yang sudah dia selesaikan.


"Waah, Devano bagus banget pohonnya. kok kamu bisa sih kamu bikin sebagus itu." para teman perempuan Devano memandang kolase buatannya yang bagus dan sangat kreatif.


"huh begitu saja di bilang bagus." gerutu Maxim.


Maxim dengan geramnya menyusun kolasenya sendiri. dia tidak suka setiap kali mendengar Devano selalu mendapatkan pujian dari teman-temannya.


"ayo anak-anak fokus dengan tugas kalian kembali. dan untuk Devano bawa hasil tugasnya ke depan." pinta gurunya.


Devano langsung melangkah ke depan dan memberikan tugas membuat kolase dari kertas origami kepada Miss Diana.


melihat hasil tugas yang dibuat oleh Devano, Miss Diana sangat puas karena Devano sudah sangat baik dalam mengerjakan tugas secara mandiri.


.


.


.


teeet teeet teeet


terdengar bunyi bel sekokah telah usai. seluruh siswa dan siswi sekolah SMA harapan berhamburan keluar kelas dengan sangat riang.


bel jam sekolah telah usai memang selalu menjadi hal yang dinanti anak-anak yang masih duduk di sekolah formal. mereka dengan sangat bersemangat melangkah keluar sekolah.


Raka yang sudah berada di parkiran pun dengan cepat mengeluarkan motor sportnya dan mengendarainya.


Raka membawa motornya keluar gerbang sekolah dan langsung menarik gas motornya. dia mengendarai motor dengan sangat cepat dan terlihat sedang terburu-buru.


Raka melewati setiap komplek yang dekat dengan sekolah lalu pergi menuju komplek perumahan elit yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya.


tiin tiin tiin


klakson dibunyikan oleh Raka sebanyak tiga kali. dan seseorang membukakan pintu gerbang utama yang terbuat dari besi dan kayu yang begitu kokoh.


"Selamat datang tuan muda." seseorang menyambut Raka saat dia sampai di depan rumah yang bernuansa begitu elegan. cat putih memberikan kesan mewah. rumah besar yang ditinggalinya langsung dia masuki.


"tuan muda sudah sampai di rumah? baru saja nyonya dan tuan pergi ke Jerman." seorang pelayan di rumah memberitahukan Raka tentang kepergian orang tuanya ke luar negeri.


"Lagi? mereka pergi lagi? baru kemarin pulang dan hari ini sudah kembali pergi?" batik Raka yang begitu tidak percaya kalau kedua orang tuanya kembali pergi tanpa berpamitan.


sudah lebih dari satu tahun ini dia tidak bisa bercengkrama dengan kedua orang tuanya. bahkan semalam dia ingin membicarakan sesuatu pun tidak bisa karena orang tuanya lelah setelah kembali dari Toronto Canada.


Raka berpikir kalau setelah dia pulang sekolah bisa bicara dengan kedua orang tuanya. namun, ternyata dia salah. kedua orang tuanya bahkan tidak memiliki waktu sedikitpun untuknya.


"sudah satu tahun lebih ini kalian bahkan tidak bertanya kabarku. kalian pergi dan pulang seenaknya. apa kalian kini tidak lagi menganggap aku ada?" Gumam Raka yang semakin kesal dengan sikap kedua orang tuanya semenjak kepergian neneknya satu tahun lalu.


dulu mereka adalah keluarga yang sangat bahagia. Raka sering berlibur dengan kedua orang tuanya dan juga nenek dan kakeknya. lima tahun lalu saat kepergian kakeknya. ayahnya masih bisa pergi berlibur dengannya dan anggota keluarganya yang lain. namun, entah kenapa setelah kepergian neneknya semua terasa telah berubah. kedua orang tuanya seperti sangat acuh kepadanya dan bahkan seperti tidak menginginkannya.


Raka lalu menarik tas ransel yang biasa dia gunakan untuk mendaki gunung. dia masukkan beberapa baju yang dia perlukan dan dia juga mengambil beberapa barang berharga miliknya.


Raka keluar dari kamarnya dan melihat kearah sekitar. dia lihat tidak ada orang yang yang mengawasi. dia lalu pergi dengan cepat keluar dari rumah dan kembali mengawasi sekitar. ternyata penjaga sedang istirahat dan penjagaan di rumah tidak terlalu ketat.


Raka langsung menaiki motornya dan keluar dari rumah besar yang selama ini menjadi tempatnya berlindung dari apapun.


Raka pergi menyusuri jalan dan dia bertemu dengan seseorang.


siapa yang ditemui oleh Raka? dan mau kemana dia membawa ransel besar?