Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 63 - Wanita pilihan Alesya



Dinniar kembali menemani putrinya Tasya. Malam Ini Tasya sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Sonia masih menemani Dinniar. anak kebetulan minggu ini suaminya sedang berada di luar negeri. suami Sonia pergi untuk mengunjungi putra dan putri tiri Sonia.


"Kamu benar tidak apa-apa jika harus menemani aku di sini?" tanya Dinniar.


"tidak apa-apa. 'kan tadi sudah bilang kalau suamiku sedang berada di luar negeri di negaranya sendiri. jadi sampai tiga hari kedepan aku free bisa menemani." Sonia tersenyum kepada Dinniar.


kini hanyalah sahabat yang bisa menjadi tempatnya bersandar. menjadi tempatnya berbagi suka dan duka. Dinniar sangat beruntung memiliki sahabat yang setia kawan. selalu bisa diandalkan dan bisa menjadi penguat dikala masalah besar datang.


"terima kasih ya son. Aku nggak tahu lagi gimana kalau misalnya nggak ada kalian. saat ini kalian lah yang mampu memberikan kekuatan untuk ku." Dinniar kembali menangis.


begitu berat cobaan yang dia alami beberapa hari ini. kalau bukan karena bantuan dari teman-temannya support dari teman-temannya mungkin dia akan menemukan Tasya lebih lama lagi.


"Adrian di mana?" tanya Dinniar.


"dia bilang dia akan mengurus sekolah untuk beberapa hari ini. kamu untuk beberapa hari ini bisa fokus mengurus Tasya." Sonia mengelus punggung belakang sahabatnya.


Dinniar lagi-lagi sangat bersyukur dengan kondisinya yang memiliki banyak sahabat dan banyak orang yang menyayangi dia dan anaknya Tasya.


"Aku tidak tahu harus bilang apa lagi kepada kalian. kalian benar-benar sahabat sekaligus keluarga yang sangat hebat. maafkan aku yang hanya bisa mengucapkan kata terima kasih." Dinniar dan Sonia berpelukan.


...****************...


Jonathan pulang ke rumahnya. sesampainya dia di rumah jadi kejutkan oleh keponakannya yang sudah siap memberikan pelukan.


Jonathan sudah seperti malaikat yang mampu memberikan perlindungan. Alesya senang karena Omnya mampu berbuat kebaikan.


"sama-sama Alesya. kau melakukan ini semua demi kamu. dan sekarang waktunya kamu menepati janji kepada Om." Jonatan mencolek kecil pangkal hidung keponakannya itu.


"siap bos. aku pasti akan menepati janjiku. tidak akan bersedih, akan selalu ceria, dan menjadi anak yang rajin belajar. sekarang giliran Om mencari jodoh."


mendengar perkataan terakhir keponakannya. kecamatan menepuk dahinya pelan. dia lupa kalau ternyata dia sudah berjanji kepada anak-anak itu untuk mencari pasangan hidup.


"baiklah aku akan menepati janji kepadamu. Namun, Om waktu untuk mencari pasangan hidup yang tepat." Jonathan mengeluarkan jari kelingking.


"baiklah aku akan memberikan waktu. ini saja waktunya 1 bulan. bisa dibilang tiga puluh hari mencari pasangan hidup." Alesya mengaitkan jari mereka berdua.


"kamu ini ya kecil-kecil. kebanyakan nonton sinetron nih."


Jonathan dan Alesya tertawa bersama. kedekatan paman dan keponakannya ini. ketuk untuk diacungi jempol. rasain mereka sudah seperti ayah dan anak. Alesya sangat bahagia memiliki paman yang baik hati.


Bagi Alesya. cukup Jonathan yang ada di dalam kehidupannya. Namun, dia juga ingin memiliki tante agar bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. dia berharap seseorang yang akan menempati posisi itu. dia berharap temannya memilih wanita itu untuk menjadi pasangan hidup.


Ekspektasi Alesya sangat tinggi kepada wanita itu. dia tahu wanita itu bukanlah seorang wanita muda yang masih sendiri. Alesya memilih wanita itu meski sudah pernah mengarungi biduk rumah tangga dengan pria lain. Alasannya karena. Wanita itu memiliki hati seperti bidadari.