Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 182 - Ibu hamil



Sebagai seorang yang pintar Dinniar akhirnya memutuskan untuk mengikuti semua perkataan orang-orang yang ada di rumahnya. Dia akhirnya memilih untuk memanggil guru senam hamil agar dia bisa melahirkan secara normal nantinya. Dia sangat ingin kembali melahirkan normal seperti dulu melahirkan Tasya.


"Bu Dinniar. ayo ikuti gerakan yang saya contohkan." kata guru senam hamil.


Dinniar mengikuti gerakan senam hamil itu. dia melakukannya dengan sangat serius dan sangat hati-hati. dia tidak pernah bisa melakukan hal ini saat hamil Tasya karena sibuk bekerja. namun, untungnya dia tetap bisa melahirkan secara normal dan sehat.


"Okeh, satu, dua, tiga. lepaskan." tuturnya.


Dinniar mengikuti beberapa gerakan dan sudah mulai mengingatnya. Dinniar mengulang gerakan itu sesuai permintaan pelatih senam hamil.


"Besok saya minta untuk suaminya turut menemani ya Bu. karena ikatan anak dengan papanya di bangun sejak di dalam kandungan." pungkasnya.


Dinniar mengangguk. dia akan meminta jonathan untuk menemaninya. pasti Jonathan dengan senang hati untuk menemaninya senam hamil.


Senam selesai. Dinniar mengantar pelatih senam hamil yang akan pulang. dia mengantar sampai pintu depan rumahnya. setelah itu penjaga yang akan mengantar pelatih senam pulang ke rumah. Pelatih senam itu dijemput dan diantar oleh penjaga rumah Dinniar.


Dinniar masuk kembali ke dalam rumahnya. dia lalu pergi ke kamarnya untuk meluruskan badannya sambil membaca beberapa buku tentang kehamilan dan mendengarkan musik hamil.


Sedangkan di tempat lain suaminya sedang sangat sibuk mengatur dia perusahaan yang begitu besar dan sukses. dia masih harus mengelola perusahaan keluarga karena memang Alesya belum cukup umur dan belum menguasai seluk beluk dunia bisnis yang keras dan penuh dengan orang-orang yang curang.


"Rendy kamu tolong urus beberapa dokumen ini. saya mau semuanya selesai hari ini juga. karena besok saya harus sudah fokus dengan beberapa acara terbaru kita." Tutur Jonathan.


Rendy langsung mengambil setumpuk dokumen yang harus di selesaikan olehnya dan juga sekretaris pribadi perusahaan.


Sudah dua hari dengan kemarin Jonathan terus mengurus prosedur pembangunan hotel terbaru mereka. Jonathan sengaja mengelola keuangan perusahaan untuk beberapa bisnis baru agar Alesya bisa memiliki banyak aset dan bisa menjamin kehidupannya sampai kapanpun.


Jonathan tidak mau anak-anaknya mengalami kesulitan setelah dia tidak lagi memiliki energi untuk mencari uang. dia juga sudah menyiapkan beberapa asuransi untuk menjadi salah satu warisan berbentuk uang yang mudah untuk mereka cairkan ketika jonathan dan Dinniar tiada di dunia ini.


Asuransi kedua orang tua Alesya yang berjumlah milyaran rupiah juga disimpan oleh Jonathan agar bisa berguna di masa depan kelak untuk Alesya.


Banyak hal untuk masa depan yang harus dia persiapkan dan dia jaga agar semua tetap stabil dan tetap berada di posisinya.


Jonathan memang seorang pebisnis yang matang. dia bisa memikirkan beberapa hal ke depan dan dia banyak mempersiapkan segala hal.


"Pak, untuk proposal pembangunan saya sudah membicarakannya dengan arsitek dan dia siap untuk merevisi beberapa gambar." info Rendy.


"bagus, dia harus menyelesaikan siang ini juga sebelum makan siang. Karena setelah makan siang kita akan adakan rapat dengan beberapa orang yang akan menangani pembangunan hotel."


Jonathan begitu sibuk sehingga dia melewatkan satu pesan masuk yang dikirimkan Dinniar untuknya.


Dinniar yang sejak tadi menunggu balasan pesan dari suaminya menjadi begitu sangat sensitif.


Dia sangat kesal dan menjadi sering terbawa perasaan ketika suaminya tidak cepat meresponnya atau tidak mendapatkan yang dia mau.


.


.


.


Dinniar yang menunggu suaminya pulang menyibukkan waktu dengan membacakan buku cerita untuk putrinya yang sangat dia sayangi. jika bersama dengan kedua putrinya membuat Dinniar menjadi lebih tenang.


nilai adalah anak seorang transmigran asal Jawa Tengah 20 tahun lalu neneknya dan kakeknya mengandung nasib ke pulau Sumatera jauh dari Lampung nggak ke dan nenek mulai melebarkan sayap perdagangannya ke pulau-pulau kecil di sekitar Sumatera dan sampailah mereka di Belitung. pulau indah dengan pantainya yang menawan


bulan lalu Nelly melihat perayaan tangkap ikan di kampung nelayan di sana ada pak bupati yang meresmikan sasana budaya Bangka Belitung juga ada pertunjukan tari putri bekhusek tarian itu membuat puisi terbayang-bayang sampai di rumah


sepulang dari perayaan itu Nelly segera mengambil dua piring kecil di dapur lalu ditangkupkannya ke telapak tangan tiba-tiba perang kedua piring itu terjatuh dan pecah di lantai.


Nelly takut sekali Dia tidak berani bercerita kepada ibunya Nelly takut ibunya akan melarangnya belajar menari Putri bekhusek lagi dikumpulkannya uang jajan dari ibunya hingga mencapai 10.000 dengan berdebar-debar Neli menemui ibu di meja jahitnya.


Nelly rasanya takut mengatakan kepada ibunya bahwa ia telah memecahkan piring takut dan tidak berani memandang mata ibunya ternyata beliau sudah tahu kalau dua piring makan di rumah hilang Ibu tahu Melly yang memecahkannya dan ibunya diam saja Ibu menunggu Nelly mengatakan dia sendiri


Akhirnya Nelly mengaku kepada ibunya dan mengungkapkan bahwa dia ingin sekali belajar menari Putri bekhusek


Ibunya tidak marah ibunya hanya menyuruh Neli misi kan uang jajannya untuk membeli selendang sekarang setiap minggu Nelly berjalan kaki 3 km demi berlatih tari putri bekhusek . neli tidak pernah mengeluh ataupun lelah karena dia harus berjalan kaki


Dia pernah membaca sebuah buku bahwa budaya Indonesia sangat berlimpah dia juga ingin bisa menarik tarian daerah yang lainnya seperti tari dana tari kipas tari sambung dan tari tanggai pada musik perayaan tangkap ikan di tahun berikutnya Nelly sudah pandai menari gerakannya mulai gemulai dan tertata dengan sempurna piring yang dibawanya juga tak pernah pecah lagi


tepuk surat kekaguman dari penonton kini didapatkannya hadiah dari Pak Bupati pun terpajang rapi di bufet rumah Nelly karena hasil sebuah kerja keras dan kecintaan akan seni daerah kini Nelly menjadi anak kebanggaan kedua orang tuanya.


"Mami apakah aku juga boleh ikut belajar menari?"kaya Tasya kepada Maminya


"tentu saja boleh sayang nanti kita akan belajar menari dan mendaftarkan Tasya ke sanggar tari."


mendengar perkataan maminya Tasya begitu senang. Iya begitu antusias dan sangat berharap untuk bisa belajar menari tarian daerah.


Tasya juga suka ikut belajar menari saat ada pelajaran seni di sekolahnya. Dinniar melihat putrinya yang sangat girang membuat dirinya senang dan melupakan kekesalannya kepada sang suami.


Dinniar mengecup Tasya dan dia langsung memeluk tubuh mungil anaknya yang sangat cantik dan sangat dia sayangi