
Alesya sudah semakin dewasa. dia yang sudah mengenakan seragam putih abu-abu mulai berubah menjadi sosok gadis yang sangat cantik seperti mendiang mamanya dan memiliki postur tubuh tinggi seperti mendiang papanya.
Alesya yang sudah dewasa memilih pergi mengendarai motor ketika hendak ke sekolah. Sedangkan adiknya Tasya tetap diantar dan di jemput oleh supir pribadi keluarga mereka.
sebenarnya jonathan sangat khawatir. namun, karena beberapa tahun ini tidak ada kejadian apapun yang menimpa keluarga mereka membuat Jonathan mengizinkan putrinya pergi mengendarai motor ke sekolah atau kemanapun dengan bekal ilmu bela diri yang sudah cukup handal.
"Sudah tidak perlu dikhawatirkan. aku yakin Alesya bisa menjaga dirinya seiring waktu berjalan. kamu lihat sudah tiga tahun ini tidak terjadi hal apapun yang membuat kita ketakutan dan cemas." Dinniar memperhatikan raut wajah suaminya yang menatap tepat kepada Alesya yang hendak berangkat sekolah mengendarai motor.
"ya, aku harus yakin kalau hidup kita akan selalu baik-baik saja." Jonathan merengkuh tubuh istrinya dan tersenyum sambil menghela nafas.
Kedua pasangan suami istri itu kembali masuk ke dalam rumah. Dinniar yang sekarang bukan hanya seorang ibu rumah tangga, mulai bersiap pergi ke butik pribadinya. Dinniar menjalankan sebuah butik . Dia bekerjasama dengan teman lamanya yang menjalankan konveksi. Kualitas jahitan yang begitu mulus membuat Dinniar tertarik dan akhirnya mereka menjalankan bisnis bersama dengan merk Woman Elegan.
"Aku akan mengantarmu ke butik." Jonathan keluar dari kamar dan menuruni tangga diikuti oleh Dinniar.
Pasangan suami istri ini masih sangat membuat orang iri karena melihat kemesraan mereka yang tak pernah pudar. perjalanan cinta Jonathan dan Dinniar memang seperti cerita di negeri dongeng. mereka selalu saja bisa membuat suasana rumah tangga yang harmonis dan manis.
semua anak-anak mereka sudah pergi ke sekolah. bahkan anak ketiga mereka sudah masuk sekolah taman kanak-kanak. anak lelaki mereka bahkan menjadi bahan pembicaraan orang tua murid karena ketampanan dan sikap santun yang begitu kental melekat kepada Devano.
"Devano." salah seorang wali murid yang mengantar putrinya ke sekolah melambaikan tangan ketika melihat Devano keluar dari dalam mobil.
Devano sekolah tidak jauh dari sekolah Tasya. mereka masih sekolah di satu yayasan yang sama yaitu sekolah harapan. begitu banyak harapan orang tua di sekolah itu untuk membuat putra dan putri mereka tumbuh menjadi orang yang cerdas secara ilmu dan juga sikap.
Devano dengan sangat ramah tersenyum kepada beberapa orang tua murid yang melambaikan tangannya kepada dia.
"lihat, kamu harus bisa mendapatkan pria seperti Devano. selain dia tampan, juga dia adalah anak sultan. jika keluarga kita besanan. sudah pasti saham perusahaan papamu meningkat pesat." wanita itu bicara dengan sangat antusias sampai menyipitkan matanya.
anaknya yang tidak mengerti pembicaraan ibunya. membuat sang anak melepaskan diri dari ibunya dan berjalan menuju ke dalam kelas dengan derap langkah kesal.
"mama selalu saja Devano yang di lihat. ke sekolah mau anter aku apa cuma mau lihat Devano ajah sih?" anak perempuan itu kemudian mendengus kesal.
Para ibu muda yang memiliki anak perempuan memang selalu berusaha menjodoh-jodohkan anak mereka dengan Devano si anak sultan.
Devano yang sikapnya hampir mirip dengan Jonathan memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi dan begitu dewasa. Dikelas Devano juga kerap kali didekati oleh teman perempuannya.
Seperti halnya Devano. Alesya juga mendapatkan perilaku yang sama dari beberapa teman prianya. dia yang baru menginjak kelas satu sekolah menengah atas sudah mendapatkan perhatian dari kakak kelas maupun teman seangkatannya.
"Hai, besok-besok tidak perlu bawa motor sendiri. aku bisa menjemputmu," ujar seorang laki-laki yang juga memakai baju putih abu-abu sama dengannya.
"Terima kasih. aku bisa pergi dan pulang sendiri." Alesya turun dari motornya setelah memarkir motor di parkiran yang disediakan oleh sekolah.
"Alesya." Terdengar suara sahabatnya memanggil.
Alesya langsung merasa lega sebab kedua sahabatnya sudah tiba di sekolah juga.
"Tau ah. udah yuk kita ke kelas sekarang." Alesya memimpin jalan dan diikuti kedua sahabat baiknya.
Ketiga sahabat itu berpisah tepat di depan kelas mereka masing-masing. Alesya sekelas dengan Alvi Mahendra. sedangkan, Melisa Juvinca yang akrab dipanggil ica itu berbeda kelas dengan kedua sahabatnya itu.
"Saya, besok Lo di jemput ajah ya sama gue dan Ica." pria dengan tubuh tegap dan berkulit sawo matang itu memberikan sebuah penawaran.
"Boleh, besok Lo sama Ica kerumah dan pamitan sama Mami gue ya." Alesya menerima penawaran sahabatnya itu.
Tak lama mereka berbincang tentang rencana besok. Seorang guru masuk ke dalam kelas tanda pelajaran akan segera di mulai. Alesya dan Alvi duduk di tempat mereka masing-masing. Alesya mengeluarkan buku pelajaran dan fokus untuk mengikuti pelajaran hari ini yang dibawakan oleh gurunya.
"Anak-anak untuk tugas praktek hari Rabu kalian harus sudah persiapkan semua peralatannya. apa yang sudah ditugaskan kepada kalian harus dibawa dan kelompok akan dibagikan saat pelajaran di mulai." Seorang guru Ilmu pengetahuan alam mengingatkan kembali tugas yang akan mereka kerjakan di hari Rabu.
Selama pelajaran di mulai setiap siswa dan siswi diharapkan selalu fokus dalam mengikuti pembelajaran. Guru juga dituntut untuk bisa menyampaikan materi dengan menarik sehingga membuat murid-murid menjadi memahami pelajaran.
Teeet ... teeet ... teeet
bunyi tanda istirahat sudah tiba terdengar merdu ditelinga para penghuni sekolah. mereka merapihkan barang-barang dan bersiap menuju kantin sekolah untuk menghabiskan uang saku yang diberikan oleh orang tua.
Alesya dan Alvi menunggu Ica keluar dari kelasnya. mereka selalu keluar kelas lebih dulu dari Ica.
"Duuh putri Ica lama banget sih kalo keluar kelas?" gerutu Alesya yang kakinya sudah pedal berdiri di depan pintu kelas sahabatnya.
"Duar ... Nunggu lama ya?" Ica datang dengan mengagetkan kedua sahabatnya.
"Ratu lama!" kesal Alesya sambil merangkul Ica dan berjalan menuju ke arah kantin.
Persahabatan mereka yang sudah begitu kental membuat ketiganya tidak merasa canggung lagi ketika harus bercanda diluar batasan. Meski memiliki seorang sahabat lelaki diantara mereka. tetap ketiganya begitu akrab.
Alvi meletakkan tiga botol minuman es teh manis di meja dan duduk di samping Ica. Alvi memperhatikan Alesya yang sedang sibuk melihat ponselnya.
"Sibuk amat sama ponsel sendiri." sindir Alvi.
"Biasa, mami kirim pesan." balas Alesya sambil terus menatap ponselnya.
"Semoga ya, Vi. kita berdua satu kelompok. lagian bu Lita kocak banget deh. masa Iyah sih kelompok ditentuin pas harinya." Alesya meletakkan ponsel di meja kantin.
"Supaya enggak ada yang saling mengandalkan teman kali. biasanya kan begitu." Tegas Ica sambil matanya sedikit melirik ke kelompok yang baru saja memasuki kantin.
"Stttt ... enggak usah cari gara-gara sama kelompok nek lampir." Alvi mengingatkan sahabatnya itu.