Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 193 - Rasa cemas yang berlebihan



semenjak mengetahui kalau Cornelia kabur dari tempat rehabilitasi atau rumah sakit jiwa. Dinniar selalu saja mencemaskan kedua putrinya yang pergi ke sekolah. Bulan ini juga bulan kelulusan untuk Alesya yang akan segera masuk ke tingkat sekolah berikutnya. Sedangkan Tasya masih duduk di sekolah dasar.


"Sayang, sudah jangan terus melamun. kamu lihat itu Devano dia sejak tadi terus menatap maminya. pasti dia juga merasakan kecemasan kamu." Jonathan membuyarkan lamunan istrinya.


"Maafkan aku. aku hanya sedang memikirkan anak-anak saja. kamu sudah pastikan kalau anak-anak di jaga dengan ketat?" tanya Dinniar.


ini adalah hari ke tujuh setelah kaburnya Cornelia dari rumah sakit jiwa. Sebelum Cornelia di ketemukan, mungkin Dinniar akan terus dilanda rasa cemas yang berlebihan. ditambah dirinya baru melahirkan dua bulan lalu. sudah pasti Dinniar masih sangat sensitif.


"Sudah jaga Devano baik-baik aku mau pergi bekerja dulu. anak-anak pasti akan baik-baik saja di sekolah." Jonathan mengecup kening istrinya dan mengelus lembut pipi gembul Devano sebelum pergi bekerja.


Perginya jonathan membuat Dinniar menjadi lebih tidak tenang. Dia akan lebih tenang kalau ada suaminya di sisinya.


"Maafin mami ya Devano. ayo kita jalan-jalan di sekitar rumah." Dinniar menggendong putranya.


dia membawa Devano keluar dari kamar dan Dinniar mulai berkeliling rumah.


"Anak manis mami. semoga dengan jalan-jalan kamu bisa tertidur ya sayang." Dinniar berkeliling.


"Bu," panggil Surti.


"Ada apa mba Surti?" tanya Dinniar.


"Bu, mau saya bantu menidurkan den Devano?" tanya Surti.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. kamu bantu Bi Imah saja." Dinniar menolak dengan halus.


Surti mungkin merasa khawatir dengan majikannya yang sedang dilanda rasa cemas. Makanya Surti terus memperhatikan Dinniar.


sudah Sur, biarkan ibu sendiri. aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. dia wanita yang kuat. lagi pula saat ini semua penjaga menjaga setiap sudut rumah. tidak mungkin hal buruk terjadi." kata BI Imah.


"iyah sih, bi. cuma saya masih ingat kejadian non Alesya yang ada beberapa orang menyusup ke rumah ini. saya takut kalau hal itu terulang." mbak Surti menjadi cemas.


"Sudah, bantu saja aku masak." BI Imah menarik tangan mbak Surti untuk mengikutinya ke dapur.


"Biarkan ibu Dinniar menenangkan dirinya. Dia masih shock karena di nenek sihir itu kabur dari rumah sakit jiwa." BI Imah memberi tahu mba Surti.


"Serius bi? bukannya dia itu ada di sel tahanan kepolisian keagungan?" mba Surti menjadi tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Dia itu sempat depresi dan Bu Erika yang memeriksanya. saat ini katanya Bu Erika sedang di selidiki mengenai hal yang menimpa rumah sakit jiwa itu.


"Maksudnya bi?" mba Surti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi, katanya Bu erika salah memberikan diagnosa. dan bu Erika juga yang membuat surat rujukan itu. setelah kejadian ini. pihak kepolisian meminta pertanggung jawaban Bu erika sebagai dokter pendamping di kepolisian. aku dengar Bu Erika baru menjabat satu tahun lalu sebagai dokter pendamping kejiwaan." Cerita bi Imah kepada Amba Surti.


Memang semua yang di ceritakan oleh BI Imah benar adanya. Erika mendapatkan tekanan atas surat rujukan yang dia buat untuk Cornelia agar bisa memasuki rumah sakit jiwa.


"Maaf, saya tidak pernah melakukan perujukan tersebut. saya menyatakan bahwa ibu Cornelia berangsur membaik dan tidak perlu pergi ke pusat rehabilitas kejiwaan. bukan sebaliknya." tandasnya.


"Kalian tidak bis melakukan itu kepada saya. seharusnya kalian periksa dulu sebelum kalian bertindak lebih jauh." Erika menolak di perlakukan secara tidak adil.


"Kami akan menelusurinya. jadi selama kami mencari. anda tidak diizinkan untuk pergi dari rumah anda." ujar seorang penyidik.


Erika keluar dari ruangan penyidik. Dia keluar ruangan dengan wajah yang terlihat seperti donat bantet. Tidak enak di pandang dan sangat kengkerut.


"Bagaimana sayang?" tanya suaminya kepada Erika.


"Semua sepertinya akan menjadi kacau. seharusnya aku tidak pernah terlibat dengan wanita licik itu. Dia sudah membuat kakakku menderita dan kehilangan nyawa. sekarang dia menempatkan ku di situasi yang sulit dan terjebak. aku harus menemukan dia dan aku juga harus memastikan dia mengakui semuanya." Erika meremas jemarinya untuk melupakan emosinya saat ini.


Cornelia yang sedang banyak di cari orang dan juga oleh pihak kepolisian sedang sibuk mendatangi seorang dokter kulit. Cornelia ingin mengubah wajahnya agar tidak di kenali oleh siapapun yang pernah mengenalnya.


"Silahkan masuk ibu Karolina." Ujar salah seorang petugas klinik kecantikan.


"Selamat datang ibu Karolina." Ujar dokter yang mengenal Karolina manager dari Cornelia.


"Aku ingin sahabatku ini mendapatkan wajah baru yang lebih cantik." Kata Karolina.


"Boleh dong. wajah yang sudah cantik akan semakin cantik jika di operasi di sini. Saya ada metode baru. pas sekali untuk orang secantik dia. namun, harganya sangat mahal." bisik sang dokter saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"masalah biaya tidak perlu khawatir. saya akan bayar asalkan hasilnya sesuai. jika ada hal yang kurang nyaman dan kerusakan pada wajah saya. kalian semua akan bertanggung jawab." ancam Cornelia.


Sikap angkuhnya masih terus melekat pada dirinya. tidak ada yang menyangka kalau mereka akan dapat ancaman dari seorang klien baru.


"Tenang ajah dong. Saya tidak pernah mengecewakan pelanggan. apalagi Bu Karolina adalah pelanggan tetap saja sejak lama. jadi pasti kita akan berikan yang terbaik. agar hasilnya memuaskan." Ujar dokter kulit tersebut.


Mereka lalu melakukan rangkaian prosedur sebelum memutuskan untuk operasi wajah. Wajah Cornelia sudah ada di layar monitor. dokter menjelaskan bagian apa saja yang akan di perbaiki agar bisa terlihat berbeda dari wajah aslinya.


"Bagaimana? apa setuju?" tanya dokter kulit itu.


"Saya setuju. berapa biayanya?" tanya Cornelia memastikan biayanya.


"Satu milyar. Itu sudah berikut perawatan sesudah operasi wajah."


Cornelia meminta Karolina untuk membayar seluruh tagihan. dan mereka akan mulai operasi besok.


"Operasi akan memakan waktu lima sampai tujuh jam. jadi usahakan perut sudah terisi. Karena akan ada efek samping dari obatnya." saran dokter kepada Cornelia.


"Saya mengerti. Kalau begitu kami pamit dulu."


Cornelia ingin mengubah seluruh wajahnya agar bisa terhindar dari kejaran polisi. dia tidak mau kembali ke sel tahanan lagi. dan dia juga memiliki rencana yang sangat besar agar dendamnya bisa terlaksana.


"Kita lihat saja. apa mereka bisa mempertahankan apa yang mereka ingin pertahankan? aku pastikan hidup mereka akan berantakan." Gerutu Cornelia.


Karolina hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. dia tidak bisa membantah atau menasehati Cornelia lagi. karena sahabatnya itu sudah terlalu berambisi dan terobsesi terhadap Darius.