
Alesya tiba di rumahnya. dia dengan cepat menanggalkan pakaian seragamnya. Alesya ingin segera bercerita kepada maminya atas apa yang dia alami hari ini.
Dengan langkah terburu Alesya menuruni dua puluh anak tangga yang ada di rumahnya. Alesya lalu langsung menghampiri Dinniar yang sedang sibuk mengajari Devano.
"Kak Alesya jangan lari-lari dong. nanti kalau jatuh terus terbentur gimana? emangnya Kak Alesya mau kepalanya benjol?" tutur Devano yang sangat cerewet.
Devano terkenal sebagai duplikat dari Jonathan. Dia sangat mementingkan keselamatan. Devano sebagai seorang anak kecil sudah mampu mengelompokkan hal-hal yang tidak boleh di lakukan agar tidak terjadi hal buruk.
"Iyah, maafin kakak. habis kakak pengen buru-buru cerita sama mami." jelas Alesya sambil menyentuh pangkal hidung adik laki-lakinya itu.
"Devano, belajarnya sudah selesai. jadi Devano boleh main di halaman belakang, tapi ingat harus hati-hati." pesan Dinniar kepada putranya.
"Asiiik udah selesai belajarnya. ya sudah kakak cerita saja dengan mami. aku mau main basket di halaman belakang." Devano langsung turun dari bangku sofa dan langsung berlari ke arah belakang.
"Hei, katanya jangan lari-lari. giliran dia ajah gesit banget larinya. Dasar si demen main." Alesya terkekeh melihat tingkah adiknya yang sok bijak kepada orang lain.
"Kakak mau cerita apa?" tanya Dinniar sambil memandang wajah putrinya yang cantik.
"Tadi pagi, ada orang yang hampir ajah nyerempet kakak pas lagi jalan bareng Alvi dan Ica. ternyata, dia itu anak pindahan dan masuk ke kelas aku. aku kesel banget." Alesya menunjukkan wajah kesalnya.
"Kamu kesel?" tanya Dinniar dan Alesya mengangguk.
"Awas jangan suka kesel berlebihan. nanti kamu malahan jatuh cinta lagi sama dia." goda Dinniar kepada putrinya yang sudah beranjak dewasa.
"ish ogah banget deh mih. aku sih enggak mau ya. ya ...meski katanya dia orang kaya raya. tetep aku gak mau." Alesya bergidig karena terbayang wajah anak laki-laki itu.
Dinniar hanya tersenyum tanpa mengomentari sikap putrinya yang baginya sudah masuk tahap puber. Dinniar yang sebagai seorang ibu dan juga seorang mantan kepala sekolah masih sangat hafal sikap-sikap anak yang beranjak dewasa.
"Kak. kesal boleh, tapi ingat jangan berlebihan dan jangan bertindak gegabah. Mami tidak mau anak mami yang cantik dan sudah dewasa ini terlibat masalah. kamu dan adik-adikmu adalah hal yang paling berharga buat mami." Dinniar mengelus rambut putrinya dan Alesya mengangguk.
"sekarang mami mau tanya, apa kakak ada terluka?" tanya Dinniar sambil memeriksa putrinya.
"Tidak Mami. aku baik-baik saja. hanya kesal saja rasanya." Alesya menghela napas dalam.
Dinniar merasa lega saat putrinya bilang kalau tidak ada luka sedikitpun. dia takut kalau Jonathan nanti marah karena mengetahui kalau putrinya terluka karena terserempet motor.
"pokoknya dia berhutang maaf sama Kaka." gerutu Alesya.
.
.
.
Hari sudah hampir gelap. Jonathan yang masih mengurus beberapa urusan di hotel yang baru saja melakukan grand opening satu Minggu lalu sedang bersiap untuk pulang.
"Kamu pulang dengan mobil kantor saja. saya akan bawa mobil sendiri." Jonathan meminta kunci mobil dan berjalan meninggalkan ruangannya.
Melihat bosnya yang ingin pulang sendiri membuat Rendy menaikkan kedua bahunya acuh. Namun, di satu sisi dia senang karena bisa pulang lebih cepat ke apartemen miliknya untuk menghilangkan penat yang menumpuk di bahunya.
Jonathan mengendarai mobilnya dan pergi meninggalkan kantor. dia langsung tancap gas untuk menuju suatu tempat.
"Hari ini pasti anak-anak merasa jenuh karena pelajaran yang cukup menumpuk. ditambah lagi mereka sore hari harus pergi kursus. aku harus memberikan sesuatu untuk menyemangati mereka." Jonathan ingin membuat kejutan sebagai apresiasi untuk ketiga anaknya.
Jonathan menghentikan mobilnya di toko kue yang sangat disukai oleh ketiga anaknya. entah kebetulan atau memang takdir. Alesya, Tasya dan Devano sangat suka dengan kue dari toko itu.
Alesya sejak masih ada kedua orang tuanya sering kali membeli kue disana dan bisa menghabiskan waktu disana untuk menikmati kue kesukaannya. begitu pula dengan Tasya dan sekarang Devano juga sama.
"Saya pesan dia jenis kue ini. masing-masing jenis kue jumlahnya tiga." tunjuk Jonathan pada kue yang di simpan di etalase toko.
Pelayan toko langsung membungkusnya sesuai pesanan.
"Bungkus yang ini dan yang ini juga masing-masing dua. hmmm ... sama donat ini saya minta tiga box besar." Jonathan lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet miliknya.
"Pak Jonathan?" seorang wanita memanggil Jonathan.
"Bu sesilia?" Jonathan tersenyum datar.
"apa kabar pak?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya."
Jonathan melihat tangan itu sejenak seakan dia ragu untuk berjabat tangan.
"Baik-baik, Bu. kabar ibu sesilia sendiri gimana?" tanya Jonathan ramah.
"baik juga. pak, jangan panggil ibu dong. usia saya dibawah bapak loh. panggil saja saya sesil. jadi terdengar lebih akrab." ujar sesilia.
Jonathan hanya tersenyum kaku tanpa menanggapi.
"Bu sesil. maaf saya terburu-buru karena anak-anak dan istri saya sudah menunggu. kapan-kapan kita sambung lagi pembicaraannya."
Jonathan langsung meraih tiga kantong kue yang sudah disiapkan oleh pelayan toko dan langsung pergi meninggalkan toko kue itu.
melihat Jonathan yang terburu-buru membuat sesil menjadi tersenyum kecil.
"Lucu sekali. jadi bikin aku penasaran. seperti apa istrinya sampai dia begitu memprioritaskan keluarga. pria yang sangat menarik." ujarnya sebelum memilih kue yang akan dibelinya.
.
.
.
Jonathan sampai di rumah dan mobilnya masuk ke pekarangan rumah yang begitu luas dan di dalamnya terdapat dua mobil lain milik Dinniar dan milik keluarga yang dipakai untuk bepergian satu keluarga.
Jonathan menaiki tangga teras rumahnya. dan membuka pintu. Dia masuk diam-diam agar tidak ketahuan oleh anak dan istrinya. dia ingin membuat kejutan.
"Duuaar!" ketiga anak dan istrinya terlebih dahulu membuatnya terkaget-kaget.
"Ah, papa gagal kasih kejutan deh." Kata Jonathan berpura-pura lesu.
ketiga anaknya tertawa girang berhasil membuat papanya terkejut. apalagi Devano. bocah kecil yang sangat senang sekali menjahili papanya.
"Papa kaget banget ya?" tanya Devano.
"Kangen banget dong sayang."
Devano langsung di gendong oleh Jonathan dan bungkusan kue diberikan kepada Alesya dan juga istrinya Dinniar.
"Donat untuk para pekerja." Jonathan memberi tahu sambil memberikan bungkusan.
Dinniar mengerti. dia langsung membawa bungkusan itu ke ruang belakang.
"Bi, tolong bagikan kepada pekerja yang lain. jangan lupa ambil juga buat bibi." pesan Dinniar.
"Siap Bu. terima kasih ya Bu."
Jonathan dan Dinniar sudah menganggap mereka semua keluarga jadi apa yang mereka makan, para pekerja juga makan yang sama dengan mereka.
Membuat orang tetap setia dan dekat dengan kita adalah dengan cara memberikan perhatian-perhatian kecil untuk mereka.