
Jonathan yang sedang sibuk karena banyaknya pekerjaan. Sudah dua hari ini dia pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Ditambah dia harus mondar-mandir dua perusahaan sekaligus. Perusahaan keluarganya yang sudah selesai membangun hotel baru mereka. sedang mempersiapkan acara launching. Dia juga harus sibuk mengurus beberapa proyek di stasiun televisi miliknya.
"Sepertinya aku akan sibuk dalam satu Minggu ini. maafkan aku yang selalu membuatmu menunggu." Jonathan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Tidak apa sayang. kamu bekerja untuk kesejahteraan kita berdua dan juga anak-anak. aku mengerti kesibukanmu." ujar Dinniar sambil bermanja kepada suaminya.
"Devano sudah tidur?" tanya jonathan yang tidak sempat melihat anaknya.
"Sudah. aku tadi baru saja memeriksanya,"jawab Dinniar.
"Aku mau melihatnya, tapi takut membangunkannya." ujar Jonathan.
"Besok pagi saja. aku akan membawanya kepadamu." Dinniar bergelayut manja kepada suaminya.
Pasangan suami istri akan selalu bisa mempertahankan rumah tangganya hanya dengan saling support dan pengertian yang banyak.
Mereka berdua memutuskan untuk saling bercumbu sebelum akhirnya terlelap di gelapnya malam. Sinar bulan menjadi penerang kamar mereka sehingga suasana remang-remang semakin membuat mereka berdua terhanyut dalam penyatuan yang hangat dan membuat mereka melepaskan keinginan biologis masing-masing.
Dinniar mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami untuk membuat posisi yang lebih nyaman. Sudah lima bulan mereka tidak melepaskan rasa rindu bermesraan.
"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku ingin menua bersamamu."
Mendengar penuturan suaminya membuat hati Dinniar menjadi berbunga-bunga. meski kata-kata itu sudah sering dia dengar, tapi rasanya seperti baru pertama kali dia mendengarnya. detak jantungnya tetap berdegup dengan cepat dan wajah merahnya juga masih datang saat dia tersipu.
"Aku akan selalu menemanimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. aku juga mau menua bersamamu dan hingga takdir yang akan memisahkan kita." Dinniar tersenyum kepada suaminya.
Dalam gelapnya malam. mereka masih bisa saling melihat wajah satu sama lain dengan cahaya yang temaram. Jonathan beberapa kali mengecup lembut kening Dinniar.
"good night baby."
Lelah dan rasa bahagia menyatu di dalam diri mereka sehingga membuat keduanya tertidur lelap sambil berpelukan.
.
.
.
Pagi tiba dan jonathan sudah bersiap untuk pergi bekerja. Dia merapihkan dasi dan mengenakan jasnya hingga sudah terlihat sangat rapih dang semakin tampan.
Dinniar masuk ke dalam kamar mereka sambil membawa Devano dalam gendongannya.
"Sayang, lihat. papa sudah siap untuk pergi ke kantor. kita anter papa yuk ke depan." Dinniar bicara kepada putranya, tapi matanya melirik kepada suaminya.
"Maafin papa ya sayang, papa beberapa hari ini sangat sibuk. Papa harap kamu mengerti dan tidak marah." Jonathan mengecup pipi Devano.
"Enggak apa-apa papa. Devano dan mami doakan papa selalu sehat dan semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan berjalan dengan lancar." Dinniar bicara mewakili putranya.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang. Bilang sama anak-anak kalau aku minta maaf akhir-akhir ini tidak bisa mengantar mereka ke sekolah." Jonathan terlihat begitu menyesal.
"Akan aku sampaikan. bekal untuk sarapan sudah ada di meja makan. ayo aku antar kamu ke depan." Dinniar berjalan mendahului jonathan dan dia mengambil kotak bekal sarapan suaminya.