
Jonathan melihat istrinya lelah sekali hari ini. pasti karena dia harus pergi ke dua tempat yaitu sekolah Tasya dan Devano karena ada kegiatan parenting.
"Sayang, sebaiknya kita nonton dulu bersama. Aku lihat kamu cukup tegang. Aku ada film baru untukmu.
Dinniar mengangguk untuk menyetujuinya.
Adegan film
Rea masuk ke dalam mobil. Namun, tiba-tiba mendapati dua orang asing berada di dalam mobilnya.
"Siapa kalian?" tanya Rea.
Tanpa menjawab pertanyaan Rea. Salah seorang pria lalu membekapnya dari belakang. Sehingga wanita muda itu tidak bisa berteriak untuk minta tolong.
"Argh!" Pekik pria itu yang merasa kesakitan karena Rea menggigit tangannya.
Rea berhasil kabur dari mobilnya yang kebetulan belum dia kunci. Rea langsung lari setelah mengetahui dia di kejar oleh dua orang pria asing tersebut.
Rea merogoh kantong blazer dan mengeluarkan telepon genggam. Dia mencoba menghubungi suaminya, tapi Dika tidak kunjung menjawab telepon. Mengetahui tidak ada respon dari sang suami. Lalu ia berusaha menghubungi kakak sepupunya.
"Tolong! Tolong aku, Kak!" Rea berteriak ketika teleponnya diangkat.
"Rea, ada apa Rea?" Kakak sepupu Rea bertanya dan panik mendengar teriakan adik sepupunya di telepon.
Tidak ada jawaban dari sang adik sepupu membuat Mario menjadi panik. Tak lama terdengar oleh pria muda itu di telepon ada suara seperti benturan keras.
"Kakak, tolong aku." Itulah perkataan terakhir yang di dengar oleh Mario kakak sepupu Rea yang bekerja sebagai pengacara.
"Ada apa dengan Rea? Kenapa dia terus meminta tolong?"
Mario segera melangkah keluar dari ruangan dan bergegas pergi setelah dia melihat lokasi keberadaan yang telah dikirim oleh Rea. Adik sepupunya sempat mengirimkan lokasi sebelum telepon terhubung ke Mario.
Mario begitu panik sebab Rea bicara dengan lemah ditelepon. Mario dengan cepat melajukan mobilnya diatas kecepatan 130 kilo meter perjam.
Dia menyalip beberapa mobil yang menghalanginya di jalan. Dia juga selama perjalanan mencoba menghubungi Dika. Namun, sayangnya tidak terjawab.
"Ada apa dengan dia? Kenapa sulit sekali di hubungi!" Mario merasa geram dengan situasi tidak jelas ini.
.
.
.
Kejadian sebelum terjadinya kecelakaan Rea.
.
.
.
Di dalam rumah sedang heboh pertengkaran yang tidak lagi bisa dihindari. Hingga pada akhirnya sebuah tangan mendarat cepat di pipi wanita yang sedang berusaha memberikan penjelasan.
Sebuah tamparan keras itu mendarat di pipi Rea. Dia terperangah. Tak pernah sekali pun suaminya bersikap kasar kepadanya seperti malam ini.
"Cukup Rea, cukup! Aku sudah melihat semua buktinya. Awalnya aku memang tidak percaya kamu mengkhianati aku. Namun, ketika aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Aku sadar selama ini kamu telah bermain api setiap kali dibelakangku." Dika menunjuk wajah Rea sambil menatap tajam dengan kelopak mata yang terbuka sempurna.
Rea menangis. Dia menangis bukan karena perih yang terasa dipipi. Namun, dia menangis karena sikap suaminya yang tidak mempercayai semua yang telah ia katakan.
"Mas, aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Aku juga tidak pernah bermain api di belakangmu. Dia itu adalah bosku dan kamu tahu itu. Dan ...,"
Air mata Rea sudah tumpah ruah di seluruh wajahnya. Namun, baik suami dan ibu mertuanya. Tidak ada diantara mereka yang mempercayai ucapan Rea. Sakit hati Rea mengetahui kalau pria yang dia cintai sudah semakin termakan omongan mamanya.
Kejadian di restoran tadi siang dipakai oleh ibu mertuanya untuk menghasut Dika. Ibu mertua yang selalu ingin Rea dan Dika berpisah semakin menjadi-jadi ketika tahu kalau Rea dan bosnya berada di hotel tadi siang.
"Mah, Rea berani sumpah. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku ke sana dengan bosku karena ada urusan bisnis. Hanya saja rekan bisnis bosku tidak jadi hadir. Dia membatalkannya bahkan tanpa kabar sampai sekarang." Jelas Rea.
"Rea ... Rea. Mana ada seorang pebisnis ingkar janji seperti katamu tadi. Bagi seorang pembisnis. Time is money. Waktu adalah uang. Tidak mungkin mereka melakukan hal itu. Ditambah, perusahaan tempatmu bekerja'kan sangat besar. Semua orang mengantri untuk bekerja sama," cerocos Mama Maria sambil menggesekkan jari jempol dan telunjuknya di depan wajah Rea.
Semua yang dikatakan oleh Mama Maria ada benarnya juga. Perusahaan tempat Rea bekerja adalah perusahaan besar yang pemimpinnya sangat digandrungi banyak orang.
Rea menjadi bingung mau menjelaskan seperti apa. Dia tidak tahu cara memberitahukan kepada suaminya bahwa dia telah difitnah.
Rea yakin kalau ibu mertuanya sudah menghasut habis-habisan putranya sendiri agar tidak percaya dengan semua perkataan yang ia ucapkan.
Dika otaknya sudah di cuci oleh mama Maria. Ditambah lagi Dika entah mengapa bisa berada di restoran yang sama dengan Rea dan juga bosnya.
Dika melihat kalau Rea sedang berada di pelukan bosnya saat itu. Padahal Rea sudah jelaskan kalau dia di senggol oleh orang dan bosnya langsung sigap menolong.
Dika tidak percaya dengan kronologis yang diceritakan oleh istrinya. Dia lebih percaya dengan apa yang telah dia lihat tadi di restoran dengan kedua matanya.
Saat itu Mama Maria dan Dika berada di restoran yang sama. Dia mengajak mamanya makan di sana karena tempatnya tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja.
"Kalau memang kamu tidak percaya kepadaku. Silahkan saja, Mas. Kita lihat saja nanti. aku akan membuktikan kalau aku tidak bersalah."
Rea menghapus air matanya. Dia sudah jengah setiap hari hampir terus bertengkar dengan ibu mertuanya. Dan kali ini ditambah dia harus bertengkar hebat dengan suaminya. Rea lalu memilih masuk ke dalam kamar.
"Lihat itu. Istrimu sangat tidak memiliki tata krama. Kita masih ada di sini dan masih membahas masalah ini. Dia malah masuk ke dalam kamar." Mama Maria semakin naik pitam.
"Bagus deh kalau dia masuk ke kamar. Kalau begitu aku bisa kembali memanasi Dika. Aku mau dia segera menceraikan Rea. Aku tahu dia memiliki jabatan yang bagus di perusahaan tempatnya bekerja, tapi tetap saja aku tidak pernah setuju pernikahan ini. Kalau bukan karena suamiku dulu memiliki hutang Budi kepada keluarganya, tidak mungkin aku membiarkannya menjadi menantu di keluarga ini." Maria berbisik dalam hatinya.
Rea memang selalu berpenampilan pas-pasan. Bahkan dia sangat tidak menarik jika dilihat dalam berpakaian, meski parasnya cantik. Dika menikahinya atas dasar paksaan dari papanya dan juga pamannya yang mengetahui kalau keluarga mereka memiliki hutang budi. Saat kedua orang tua Rea meninggal dunia, mereka meminta agar Rea menjadi bagian dari keluarga Sesino.
Dika dan Rea bertemu untuk pertama kalinya di pemakaman kedua orang tua Rea dan saat itu papa Dika meminta agar Dika mendekati Rea untuk penjajakan sebelum mereka menikah. Dika dengan berat hati menuruti semua keinginan papanya. papanya mengancam tidak akan pernah memberikan rumah sakit kepada Dika jika dia tidak menikah dengan Rea dan tidak bisa membuat Rea jatuh cinta.
Menikah dengan Dika menaikkan status Rea menjadi istri seorang dokter. Dika adalah seorang dokter anak. Dia sering kali pergi dinas keluar kota untuk presentasi perihal kedokteran atau mengikuti seminar kesehatan.
"Dika, sebaiknya kamu ceraikan saja istri seperti itu. Buat apa kamu mempertahankan pernikahan ini. Dia sudah sangat tidak bermoral. Wanita macam apa yang berselingkuh dari suaminya?" Maria melipat kedua tangannya di dada dan mendengus kesal.
Dika memperhatikan raut wajah mamanya yang terlihat sangat kesal.
"Dika pergi dulu."
Bukannya menanggapi omongan mamanya. Dika malah pergi keluar rumah.
"Dika! Dika, kamu mau kemana?" teriak Maria.
Mama Maria menjadi kesal karena dia di abaikan oleh putranya sendiri. Maria menganggap kalau Dika sangat mencintai Rea. Sehingga baginya begitu sulit untuk memisahkan keduanya.
"Aku harus memisahkan mereka sebelum Rea mengandung. Wanita itu juga sudah satu tahun menikah, tapi masih juga tidak memberikan keturunan. Apa jangan-jangan dia tidak bisa hamil? Aku harus memastikannya. Aku akan menjadikan hal itu sebagai alasan perceraian mereka berdua. Suamiku pasti akan setuju." Niat licik dari mama Maria semakin menjadi-jadi. Dia bahkan memiliki beberapa cara agar bisa terus memisahkan anak dan menantunya.
Di dalam kamar Rea menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka kalau mama mertuanya bisa sekejam itu menuduhnya selingkuh dengan pria lain. Dia tidak pernah juga membayangkan suaminya akan percaya dengan kata-kata mertuanya.
"Mas, kenapa kamu menjadi begini? Aku tidak pernah melakukan perselingkuhan. Aku selalu setia kepadamu. Aku cinta sama kamu, Mas."
Malam ini Rea mengalami kesedihan yang begitu mendalam. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini untuk membuat mama mertua dan suaminya percaya dengan apa yang dia katakan.
Dia juga tidak bisa mengadu kepada siapapun. Dia yang hidup tanpa orang tua tidak memiliki tempat untuk bersandar kecuali suaminya yang selalu menjadi tempatnya menggantungkan diri.