
Di kediaman orang tua Dinniar semua orang tengah sibuk membuat jamuan makan malam dan juga kue-kue sebagai hidangan pembuka.
"Semua sudah siap di hidangkan?" tanya sang pemilik rumah.
"Sudah nyonya. Semua sudah siap tinggal di sajikan di meja makan dan di meja tamu. kami akan segera menatanya." Kepala pelayan memberikan jawaban yang sangat diharapkan oleh majikannya.
"Kalau begitu tolong segera. saya takut tamu sudah dekat." Pintanya.
Saat yang lain sedang sibuk menata rumah dan menu hidangan. Dinniar dan Tasya sedang bersiap di kamar. Dinniar di dandani oleh MUA. Di sini bukan hanya keluarga Dinniar yang hadir, tetapi ada Sonia dan suaminya juga ikut hadir.
"Sahabatku ini memang sangat cantik. Tidak ada wanita lain yang bisa menandingi kecantikannya." Puji Sonia dengan bangga.
"Kamu ini. paling bisa ya muji orang. padahal sendirinya juga cantik." Dinniar tersipu malu.
"Tasya juga cantik banget sih." Gemas Sonia.
"Tentu dong Tante. Mami aku kan wanita tercantik sedunia. jadi pastinya aku juga cantik." Tasya menjawab sambil bergaya lucu.
Mereka semua tertawa lepas. Mereka sangat gemas dengan tingkah lucu yang selalu menjadi jurus andalan Tasya untuk menghibur semua orang.
Tasya memang anak yang sangat menggemaskan. Dia mampu mengubah perasaan orang yang sedang sedih menjadi bahagia dengan sangat cepat.
Memiliki anak seperti Tasya adalah kebahagian sekaligus anugerah terindah yang dititipkan oleh tuhan kepadanya. Seharusnya Darius juga memikirkan gak yang sama sebelum memutuskan untuk memilih wanita seperti Cornelia untuk menjadi selingkuhannya.
Dinniar sudah siap dan sudah sangat cantik dibalut dengan gaun yang begitu mewah.
Tok Tok Tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar. "Masuk." Seru Dinniar dengan mempersilakan masuk.
"Bu, tamunya sudah datang." Baby sitter Tasya memberi tahu.
Sonia menatap wajah Tasya dan mencubit pipinya gemas, sangking senangnya mendengar kalau tamu yang ditunggu sudah datang.
"Wah berarti sebentar lagi kita bakalan ketemu sama pangeran berkuda putihnya mami dong," tutur Tasya.
"Tasya, kamu itu ya. Bisa ajah godain Mami." Dinniar menjadi malu terhadap putrinya sendiri.
"Emangnya, Tasya udah siap punya papi baru?" tanya Sonia.
"Insyallah Tante. Kalau Mami bahagia. Tasya juga pasti akan bahagia. karena kalau Mami bahagia berarti pria itu baik." Tasya tersenyum begitu cantik.
Dinniar dan Sonia terharu mendengar kata-kata bijak seorang anak kecil yang masih duduk di kelas satu SD. Dua tahun sudah anak kecil itu tidak lagi tinggal bersama dengan papinya karena perceraian.
"Sayang, terima kasih. Mami bangga banget sama Tasya karena sudah mengizinkan Mami untuk ketemu dengan calon yang Oma kenalkan."
...****************...
Juwita menyambut kedatangan sahabat lamanya. Mereka sudah beberapa tahun ini tidak bertemu karena memang Juwita lebih sering tinggal di luar negeri mengurus bisnis bersama dengan Hartono Suaminya.
"Halo Kamelia. Aku kangen banget loh sama kamu. duh udah lama banget ya kita enggak saling main ke rumah kayak begini." Juwita memeluk sahabatnya.
"Iyah, aku seneng banget bisa main ke sini lagi. Kalau kita enggak ketemu di acara ulang tahun si jenny. kayaknya kita enggak bakalan bisa kayak sekarang. Dimana anak kamu?" tanya Kamelia.
"Masih ada di atas. Lagi siap-siap."
"Mas Hartono, apa kabar." Sapa Kamelia saat melihat pria yang sudah berpakaian formal dengan setelan batik dan celana bahan berwarna hitam pekat.
Kamelia dan rombongan keluarganya di bawa ke ruangan khusus yang sudah mereka setting untuk acara hari ini.
"Silahkan duduk dan di cicipi dulu hidangan pembukanya. Ini kue special kami buatkan. Ini hanya kami pasarkan di Jerman saat ini. belum masuk ke Indonesia." Juwita membuka salah satu hidangan.
Kue yang diatasnya terdapat whip cream dan bertabur blueberry itu menjadi salah satu menu pembuka.
"Wah, enak banget Eyang ini kuenya." Dengan begitu antusias cucu Kamelia menyantapnya.
"Perlahan sayang." Kamelia memperingati sang cucu.
Disaat mereka sedang asik berbincang dan menyantap makanan pembuka. Suara hentakan sepatu terdengar begitu jelas di telinga.
Semua yang mendengar langsung menolehkan wajahnya. Mereka sedang menanti si pemilik hentakan kaki itu ikut bergabung dengan mereka.
"Dinniar, duduk." Juwita meminta putrinya duduk.
Dinniar mengedarkan pandangannya dan melihat satu persatu wajah yang datang. Di sana ada empat wajah yang begitu familiar. Dinniar terkejut ternyata yang datang adalah dia.
"Violin, Samuel, Alesya." Dinniar memanggil mereka semua.
"Satu lagi enggak di sebut?" tanya Violin.
"Pak Jonathan." Dinniar akhirnya menyebut nama pria yang selama ini menunggu jawabannya.
Dia tidak menyangka ternyata pria yang akan dikenalkan oleh mamanya adalah Jonathan putra dari sahabat mamanya.
"Dinniar, Jonathan bermaksud untuk Melamarmu. saya sebagai mamanya berharap sekali ada jawaban baik dari mu." Kamelia mulai angkat bicara.
"Dinniar, mama sudah dengar semua ceritanya dari Jonathan. Mama rasa dia pria yang tepat untukmu. Kamu juga sudah dua tahun ini sendiri. sekarang sudah waktunya kamu memiliki pendamping yang bisa melindungimu dan Tasya." Juwita menaruh tangannya di atas tangan putrinya.
Dinniar yang masih terkejut, belum bisa berkata apapun sejak tadi. Dia masih menimbang segalanya di dalam pikirannya.
"Mami, Aku mau Om baik jadi Papa aku." Tasya langsung berlari ke arah Jonathan dan memeluk pria itu dengan hangat.
Jonathan tersenyum penuh ketulusan sambil membalas pelukan bocah kecil yang pernah di selamatkannya.
"Alesya juga setuju. Kalau bisa Alesya panggil Bu Dinniar Mami juga. Sya mau punya Mami baik kaya Bu Dinniar." Alesya bicara penuh pengharapan.
Dinniar menatap wajah cantik gadis yang pernah menjadi salah satu murid di sekolahnya. Dia begitu tidak tega melihat raut wajah Alesya yang rindu akan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dinniar juga menatap kepada putrinya. Dia benar-benar tidak menyangka putrinya dengan cepat menerima Jonathan dan tidak takut saat berdekatan dengan pria dewasa. padahal terapinya belum selesai dan dia masih takut dengan papinya sendiri.
Dinniar perlahan membuka mulutnya yang sejak tadi rapat. Dengan ragu dan bibir yang bergetar dia ingin berbicara.
"Aku, Menerima lamaran ini." Dinniar menjawab dengan mata yang terpejam.
Semua yang mendengar terdiam selama tiga detik dan tak lama terdengar suara sorakan penuh dengan kegembiraan.
Mereka semua sangat senang dengan jawaban yang diberikan oleh Dinniar atas lamaran dari Jonathan.
"Aaaah, itu baru namanya Dinniar." Violin dan Sonia langsung menghampiri tempat duduk Dinniar dan langsung memeluk sahabatnya itu.
Juwita dan Kamelia juga sangat terharu dengan jawaban yang diberikan oleh Dinniar. Kedua ibu itu sangking terharunya, mata mereka berkaca-kaca.
Semua orang kini begitu bahagia. Tasya juga sangking senangnya memeluk Jonathan dengan erat lagi. Dia juga mengecup pipi calon papanya.
"Sekarang kita makan malam. Makan malamnya juga sangat special. Ini akan menjadi makan malam terpanjang kita semua." Ajak Juwita.