Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
310 - Sudah dewasa



Tasya sibuk sekali mencari sesuatu di dalam tasnya saat Devano masuk dalam kamarnya dia bahkan tidak sadar kalau adiknya sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya.


Tasya lalu membalikkan badannya ketika dia sudah mendapati barang yang dia cari. akan tetapi saat dia berbalik badan. dia sangat terkejut dan mengelus dadanya sambil menghela nafas.


"kamu kok masuk kamar kakak nggak ngetuk pintu dulu sih? terusnya sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Tasya sambil menyembunyikan sesuatu di balik badannya.


"Aku tadi udah ketuk pintu kamar kakak sampai 4 kali aku benar-benar menghitungnya, tapi kakak tidak menjawab. bahkan tidak membukakan aku pintu. jadi aku masuk saja. aku lihat kakak sedang membongkar-bongkar tas, jadi aku diam saja di belakang sampai kakak selesai." katanya dengan begitu polos.


"ya sudah kamu pergi dulu sana kakak mau mandi." entah kenapa anak perempuan yang sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar itu menjadi sedikit ketus.


"kakak lagi kenapa sih? padahal kan aku ke sini pengen banget main sama Kak Tasya karena Kak Alesya belum pulang." Devano keluar dari kamar Tasya dengan tubuh yang lesu.


Tasya menjadi merasa bersalah. Namun, dia tidak bisa memberitahukan Devano alasannya terkejut atas kehadirannya. Tasya menghela napas panjang dan melihat benda pipih yang dibalut oleh plastik tipis yang ada di tangannya.


"Apa aku sudah dewasa? Aku takut." Tasya meringis ketakutan sampai memejamkan matanya dan meremas benda yang ditangannya.


Tasya pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Tasya yang sudah kelas enam sekolah dasar dan dia bulan lagi akan ujian sekolah kelulusan. Dia sudah menjadi gadis dewasa pada umumnya yang mengalami datang bulan.


Tasya masih belum bisa bercerita dengan maminya. Dia masih takut. Makanya dia tadi bersikap seperti itu kepada Devano. Dia takut adiknya akan mengadu kepada maminya.


anak jaman sekarang memang dewasa lebih cepat. Mereka bahkan bisa mencari tahu noda merah apa yang keluar dari kewanitaannya. Mereka bisa mencarinya di internet dan mengetahui cara menanganinya.


Tasya juga demikian dia tahu semuanya dari dunia internet. Dia mencari tahu bagaimana caranya merawat tubuh yang sedang datang bulan.


Devano menuruni tangga dan dia melihat Alesya sudah pulang.


"Kakak." teriaknya sambil berlari menghampiri.


"Heem. Ada apa?" sahut Alesya sambil menatap wajah adik laki-lakinya.


"Aku tadi ke kamar kak Tasya. Dia galak sekali. Padahal biasanya aku juga tidak pernah mengetuk pintu saat mau masuk ke kamarnya." adu Devano kepada kakaknya.


"benarkah? Apa Iyah, kak Tasya begitu. Ya sudah nanti kak Alesya tanya alasannya kenapa. sekarang coba bilang ke kakak memangnya kamu ada apa ke kamar kak Tasya?" tanya Alesya.


"Aku cuma mau mengajak main kak Tasya. Aku kesepian. Mami tidak ada di rumah. Papa juga. Aku mau main sama bibi, tapi sepertinya bibi sedang sibuk." Devano kembali mengadu.


"okeh, baiklah. Kamu tunggu di sini dulu. Kakak akan berganti pakaian. Setelah itu kita akan bermain bersama."


Alesya meninggalkan Devano dan dia langsung melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Dia sempat berhenti di depan kamar Tasya. Dia ingin mengetuk. Namun, dia tidak mengetuknya.


"Nanti malam saja. siapa tahu dia sudah tidak kesal lagi. Entah apa yang membuat dia menjadi kesal." Alesya lalu masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


Dinniar dan Jonathan masih berada di hotel. Istrinya menceritakan bagaimana Melinda menghasut manajer serta Evelin. Jonathan sampai geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Oh, ya sayang. Tadi mama Juwita menitipkan ini untukmu. Katanya untuk berjaga-jaga. Sepertinya ini jam tangan pintar. Aku sudah memeriksanya dengan Rendy. di dalamnya terdapat beberapa hal jika kamu dalam bahaya. Mama juga memberikannya untuk anak-anak." Jonathan memperlihatkan keempat jam tangan pemberian ibu mertuanya.


"Hem, tapi berbeda dengan kalian. Aku mendapatkan alat ini. Ini adalah alat yang canggih. Ini sangat berguna sekali." Jonathan memperlihatkannya.


Benda yang didesign mirip dengan dasi. Membuat semua orang tidak akan tahu kalau itu adalah alat yang sangat canggih. Alat itu berfungsi sesuai kebutuhan pemakainya.


"sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Anak-anak pasti sudah menunggu kita di rumah." Dinniar mengajak suaminya untuk pulang.


"Baiklah. Kita akan pulang." Jonathan berdiri dan menggandeng mesra istrinya.


Dalam perjalanan pulang. Dinniar mendapatkan pesan dari putrinya Alesya. Ternyata anak perempuannya yang satu sudah mulai beranjak dewasa.


"Sayang, kita nanti mampir dulu ke supermarket ada yang perlu aku beli untuk Tasya." ujar Dinniar.


"ada apa dengan Tasya?" tanya Jonathan.


"dia sudah mulai beranjak dewasa karena sudah datang bulan. Aku dapat kabar dari Alesya. Katanya Tasya masih takut dan malu untuk bicara denganku. Jadi dia membeli pembal*t sendiri." jawabnya.


"Wah, kita sudah punya dua anak gadis. Kita harus semakin ketat untuk menjaga mereka. Dan pasti saat ini perasaan Tasya sedang tidak karuan. sama seperti mamihnya yang moodnya naik turun saat datang bulan." Jonathan menggoda istrinya.


"Oh jadi begitu? Kamu tidak suka?" Dinniar menunjukkan wajah cemberut.


"Bukan begitu. Maksudku. Kita sebaiknya membelikannya makanan atau apa saja yang bisa membuat baik moodnya." jelasnya agar sang istri tidak salah paham.


Suami istri yang sangat kompak dan selalu memikirkan bagaimana cara agar anak-anak mereka selalu bahagia.


.


.


.


Di rumah Alesya sedang menemani Tasya yang sedang merasakan perutnya tidak enak.


"Kak, apa selalu seperti ini jika datang bulan? Sakit rasanya ingin buang air besar, tapi tidak." Tasya memegangi perutnya yang terasa melilit.


"tidak semua kok dek. Nanti juga reda. kamu berbaring saja dan minum air hangat ini. Agar bisa meredakan sakit perutmu." Alesya memberikan segelas air hangat untuk adiknya.


Tasya meneguk air hangat itu hingga habis dan perutnya perlahan mulai terasa nyaman. Tak pernah dia rasakan sakit perut yang seperti ini sebelumnya. jadi dia masih beradaptasi.


Terdengar suara mobil Jonathan memasuki pekarangan rumah. Alesya merasa lega mami dan papanya sudah pulang dengan selamat.


"Kak, apa kakak sudah cerita kepada mami?" tanya Tasya


"tenang saja. kita ini perempuan dan setiap perempuan mengalami hal ini. Jika mami mengetahuinya. Itu akan membuat kita bisa dilindungi dan mami akan memberikan pengarahan kepadamu seputar wanita dan juga datang bulan." Alesya menepuk punggung tangan adiknya sambil tersenyum manis.


Dinniar menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Tasya dengan beberapa barang serta juga makanan yang dibelikan oleh Jonathan.


"Sayang." Dinniar langsung meletakkan barang bawaannya dan memeluk sang putri."


"Perutnya sudah agak tidak sakit katanya, mih. Hmmm kakak ke bawah dulu ya. Mami dan Tasya silahkan bicara berdua dulu.