
Darius pergi ke rumah Dinniar lagi. Namun, di sana dia tidak menemukan mantan istri dan juga putri cantiknya. Darius bertanya kepada bibi yang bekerja kepada mereka.
"Maaf, Pak. Aku tidak bisa memberitahukan kemana ibu dan non Tasya pergi." Bibi bicara sambil menunduk takut menatap wajah mantan majikannya.
"Katakan kepadaku kemana mereka?" Darius menyentak asisten rumah tangga Dinniar.
"Sekali lagi maaf, saya tidak bisa memberitahukannya. Bapak bisa tanya saja langsung kepada Bu Dinniar. Saya tidak berani memberitahukan."
Darius kehabisan kesabarannya. Dia memukul keras pintu rumah Dinniar hingga membuat asisten rumah tangga Dinniar terkejut.
Darius menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Dinniar. Selama di dalam mobil Darius terus memikirkan kemana tujuan Dinniar pergi. Dia bertanya-tanya kemana kiranya mantan istrinya dan putrinya pergi beberapa hari ini.
"Benar juga. Pasti dia pergi kesana." Darius menjentikkan jarinya setelah mengetahui kemana kemungkinan yang menjadi tujuan liburan Dinniar dan Tasya.
Darius semakin cepat mengendarai mobilnya. Dia langsung menancap gas dan melampaui pengendara mobil yang ada di depannya.
...****************...
"Terima kasih ya. Aku senang sekali akhirnya kita bisa menjadi keluarga kedepannya." Juwita bicara sambil terus tertawa riang.
"Aku juga senang sekali. Aku harap kita langgeng ya." Kamelia itu tertawa renyah.
Mereka benar-benar sangat berbahagia dengan momen malam ini.
"Dinniar, Tante harap kamu menentukan tanggal pernikahannya segera. Tante sudah tidak sabar untuk menjadikanmu menantu." Kamelia menyentuh pundak Dinniar.
Kamelia adalah seorang wanita yang hangat. Dia begitu menginginkan putranya menikah. Setelah kepergian kedua orang tua Alesya, hanya Jonathan yang diharapkannya memberikan seorang cucu laki-laki untuk menjadi penerus usaha keluarga mereka.
Keluarga Jonathan berpamitan dan Dinniar memberikan senyuman manis untuk pria yang akan segera menjadi imamnya di masa depan.
Jonathan dengan hati berbunga-bunga menerima senyuman manis pujaan hatinya. Jonathan masuk ke dalam mobilnya dan mereka semua kembali pulang ke hotel.
Keluarga Dinniar juga kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Jonathan tak terlihat lagi.
Dinniar dan keluarganya duduk kembali di ruang khusus tadi. Di rumah kedua orang tua Dinniar memang sengaja ada sebuah aula untuk pertemuan keluarga dan acara keluarga.
"Rasanya enggak sabar banget pengen jadi Bridesmaids Dinniar." Sonia bicara penuh antusias sambil membayangkan hari yang akan datang.
"Hem ... Mendingan dari pada mikirin hari itu. lebih baik mikirin tanggalnya biar kita ngehalunya semakin dekat dengan kenyataan." Violin langsung ambil suara.
Mereka kemudian tertawa kembali. Kebahagiaan benar-benar menyelimuti mereka seakan kesedihan di larang masuk ke rumah besar itu.
Dinniar yang sejak tadi mendengar celotehan beberapa sahabatnya malah tersipu malu. Wajahnya mulai memerah dan matanya mulai sering berbentuk bulan sabit karena menahan malu.
"MUA nya nanti kita cari yang paling bagus. Aku akan mencarinya informasinya mulai besok." Violin kembali bersemangat.
"Kalau begitu aku akan mencari katalog gaun pengantin dan gaun untuk Bridesmaids." Sonia menentukan sendiri tugasnya.
"Aku akan menjadi suporternya." Samuel ikut bersuara.
"Aku juga." Suami Sonia ikut bersemangat.
"Nanti yang cari gaun untuk Tasya siapa?" tanya Tasya sambil mengangkat salah satu tangannya.
"Nanti Oma yang akan carikan. Oma akan carikan gaun yang cantik untuk cucu Oma yang cantik juga." Juwita memeluk cucunya.
Mereka semua sudah mengambil peran masing-masing untuk acara yang sudah mereka nanti. Mereka juga mulai membicarakan tentang konsep pernikahan. Dinniar hanya menjadi pendengar yang baik untuk saat ini. Dia bukan tidak antusias. Namun, dia masih merasa terkejut sampai detik ini. Dia tidak menyangka kalau akan secepat ini memutuskan untuk kembali membangun rumah tangga. Apalagi saat melihat tingkah putrinya yang menempel pada Jonathan dia semakin terkejut putrinya bisa senyaman itu dengan pria yang bukan papinya.
Hari semakin malam. mereka satu persatu kembali ke kamar masing-masing. Violin dan Samuel juga memutuskan menginap di rumah kedua orang tua Dinniar.
...****************...
Malam berganti pagi yang begitu cerah dan indah. Membuat semua orang menyambut dengan suka cita dan semangat yang penuh.
"Selama pagi semuanya." Sapa Juwita dengan nampan di tangannya.
"Mama buatkan menu spesial hari ini untuk sarapan kita. Agar kita semakin kuat menghadapi hari-hari yang akan penuh cinta kedepannya." Juwita begitu bersemangat.
Satu persatu menyendok makanan dan menaruhnya di atas piring. Menu andalan hari ini adalah nasi uduk, telur balado, Mie goreng seafood, oreg tempe, rendang jengkol, bakwan jagung, dan sambel goreng.
Sudah diketahui oleh Juwita bahwa putrinya dan sahabatnya sangat suka nasi uduk buatannya dan sudah sangat lama sekali mereka tidak makan nasi uduk bersama setelah Dinniar menikah dengan Darius dan tinggal di Jakarta.
Sesuai demi sesuap mereka menyantap masakan yang baunya khas dan penuh cinta rasa itu. Samuel dan suami Sonia bahkan sampai nambah satu piring lagi.
"Aku tidak pernah makan nasi uduk searomatik ini dan rasanya yang sangat lezat." Puji Samuel sambil terus mengunyah makanannya.
"Hem, kamu belum tau ya sayang. Kita bahkan dulu pernah jualan nasi uduk ini pas acara orientasi mahasiswa. Kebetulan kita satu kelompok dan alhasil dagangan kita yang paling laku." Cerita Violin.
Saat asik menikmati sarapan pagi mereka yang begitu lezat. Tamu tak diundang datang dan membuat suasana menjadi tidak kondusif.
"Darius? Mau apa lagi kamu datang kemari?" Tanya Juwita saat melihat tamu yang datang ke rumahnya tanpa diundang.
"Mah, aku mau bertemu dengan Dinniar." Darius bicara dengan penuh percaya diri.
"Darius, sudah berapa kali mama katakan tidak perlu lagi kamu untuk menemui Dinniar. Kami tidak mau menerima kamu lagi dan melihatmu lagi." Juwita kembali menunjukkan taringnya.
"Mah, aku hanya ingin bicara sebentar dan aku juga rindu Tasya. Aku ingin bertemu dengannya." Darius meminta dengan sungguh-sungguh.
"Darius, kamu sebaiknya tidak menganggu anakku lagi. Dia sudah dipinang oleh pria yang sangat bertanggung jawab dan akan segera menikah." Juwita menyombongkan diri.
"Mau menikah? tidak ... tidak bisa, mah. Aku tidak mengizinkan itu." Darius bicara seakan dia masih berhak atas Dinniar.
"Darius ... Darius, kamu ini bertingkah seperti orang yang masih berhak atas diri Dinniar. Apa kamu lupa kalau sudah menyakitinya? Apa kamu lupa kalau kamu sudah membuat hancur dirinya?" teriak Juwita.
Mendengar teriakan Juwita dari ruang makan. Dinniar langsung meminta baby sitter Tasya membawa putrinya ke dalam kamar yang ada di lantai dua.
"Aku akan menemani Tasya." Inisiatif violin.
Dinniar langsung mengangguk dan setelah melihat mereka menaiki anak tangga. Dinniar langsung menuju ruang tamu untuk memastikan suasana tidak terlalu panas.
"Mah, sudah jangan terlalu di ladeni. Semakin kita meladeninya. Dia akan semakin senang dan tidak akan pergi dari sini." Dinniar langsung menghampiri mamanya.
"Mama tidak terima dia bersikap seolah masih menjadi suamimu. dia melarang mu untuk memiliki hubungan dengan pria lain. Dia itu tidak tahu diri sekali. Sudah menghancurkan hatimu, tapi masih seenaknya saja mengatur hidupmu." Juwita bicara penuh emosi.
"Aku bukan mau menghalangi. Aku hanya ingin Tasya kembali mendapatkan kasih sayang dari papinya. Dia masih kecil dan masih butuh kasih sayangku, Mah." Darius bicara kembali.
"Mas, aku harap kamu pergi dari sini. Kita bicara nanti saat aku sudah kembali ke Jakarta. dan darimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Dinniar sambil mengerutkan dahinya.
"Aku tahu sebab, Aku yakin hanya kemarilah tujuanmu jika orang tuamu ada di Indonesia. aku masih mengingat hal-hal kecil itu. Makanya aku yakin kita bisa kembali. Kasihan Tasya dia masih butuh kasih sayangku." Darius terus memohon untuk kembali.
"Mas, maaf. Jika kamu ingin mencurahkan kasih sayangmu kepada Tasya. lakukan saja, tanpa perlu kembali menjalin hubungan denganku. Banyak orang yang bercerai, tapi masih tetap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya tanpa perlu hidup bersama lagi dengan mantan pasangannya. Lagi pula, aku tidak bisa kembali denganmu. Aku sudah sering memberitahukan hal itu kepadamu." Dinniar kembali menegaskan penolakannya.
"Kenapa? karena kamu sudah dipinang pria lain? kalau begitu berikan Tasya kepadamu. Biar akun yang mengurusnya. Kamu boleh menikah setelah hak asuh Tasya di alihkan kepadaku." Darius mulai drama baru.
"Kamu tidak usah meminta yang aneh-aneh, mas. untuk apa hak asuh aku alihkan? aku masih bisa menjaga Tasya dan merawatnya." Dinniar menjadi meledak.
Dia tidak suka jika Darius membahas tentang hak asuh anak. Sejak awal hakim sudah memutuskan hak asuh anak jatuh kepada Dinniar.
"kamu tahu kondisi Tasya. dia takut dengan pria. Denganku saja dia masih ada rasa takut, apalagi pria asing. Apa kamu mau menambah traumanya?" bentak Darius.
Dinniar malah tersenyum menyeringai ketika Darius membentaknya bukan malah marah.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Darius.
"Aku tersenyum karena mengingat. Kalau semalam dia bahkan memeluk pria yang akan menjadi papa sambungnya. Itu yang membuatku menerima pinangan pria itu. Jika Tasya tidak melakukannya, mungkin saat ini aku belum memberikan jawaban untuk pria itu." Dinniar menceritakan apa yang terjadi kemarin malam yang membuat dia menerima pinangan Jonathan.
"Itu tidak mungkin. Tasya tidak mungkin menerima pria yang tidak dikenalnya secepat itu." Darius tak terima putrinya dekat dengan pria lain.
Darius mungkin kini sedang terguncang, sebab dia tak lagi bersuara dan tatapan matanya kosong.
"Sebaiknya kamu kembali ke Jakarta. Aku tidak mau ada keributan lagi. Dan jangan lagi mengusik hidupku. Bagiku kamu hanya masa lalu yang menyakitkan." Dinniar meminta penjaga rumah kedua orang tuanya membawa Darius keluar dari rumah.
Dinniar mengintip dari balik jendela. Memastikan Darius tidak berada di sekitar rumah kedua orang tuanya. Begitu sesak dadanya melihat Darius yang tak sebijak dulu. Sikap Darius berubah seratus delapan puluh derajat. Dia bahkan tidak lagi mengenal sosok Darius yang dulu hidup bersama dengannya.