
Kehadiran Darius yang membuat gerah Dinniar dan anggota keluarganya. Setelah kepergian Darius. Dinniar bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta kembali. Dia tidak bisa berlama-lama di Bandung karena besok harus bekerja dan Tasya juga harus sekolah.
"Dinniar, kamu sepertinya harus memiliki penjaga di rumah sebelum kamu menikah dengan Jonathan. mama tidak mau Darius mengusik kamu terus. Tasya masih belum stabil juga." Pinta sang ibu kepada putri tunggalnya.
"Tenang saja, mah. Dinniar sudah meminta bibi untuk mencari orang yang bisa dipercaya menjaga rumah." Dinniar menepuk punggung tangan mamanya.
"Baguslah kalau begitu. mama jadi tenang setelah mendengarnya. Darius itu benar-benar tidak tahu diri. dia seperti bukan manusia saja." Rutuk Juwita kepada mantan menantunya itu.
"Shuut, mah jangan bicara begitu. kalau nanti Tasya dengar. itu sama saja kita menanamkan rasa benci di hatinya untuk mas Darius. aku tidak mau Tasya tumbuh dengan rasa benci untuk Papinya. mau bagaimanapun mas Darius ayah kandungnya." Dinniar bicara sambil berbisik.
Juwita melihat kalau Tasya masih tertidur lelap. Dia lega sebab tadi dia juga bicara tidak begitu keras. Dia sangat bersyukur memiliki putri yang pemikirannya sangat bijaksana dan baik hati. Dia tidak salah dulu memasukkan Dinniar sejak Sekolah dasar sampai di sekolah menengah atas di sekolah berbasis islami.
"Ya sudah kamu lanjutkan berkemas. Mama turun dulu. ada beberapa buah tangan yang mama siapkan untuk teman-teman mu." Juwita keluar dari kamar tidur Dinniar dan menuruni tangga menuju dapur.
Dinniar menoleh dan mengusap wajah cantik putri kesayangannya.
"Tasya, Mami sangat menyayangi Tasya. Jangan sakit lagi. Mami mau Tasya selalu sehat dan bahagia. Maafkan Mami yang pernah mengambil keputusan untuk berpisah dari Papi mu. Mami saat itu mungkin hanya memikirkan betapa sakitnya hati ini. Tidak memikirkan bagaimana kamu tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Mami akan sekuat tenaga memberikan kasih sayang penuh untukmu, Nak." Dinniar mengecup kening putrinya dan Tasya tersenyum dalam tidurnya.
Dinniar tidak langsung meneruskan berkemas. dia memutuskan untuk membaca serial novel kesukaannya.
"Aku baca kisah takdir cinta saja dulu." ujarnya
Dinniar membayangkan kalau dia adalah seorang penulis. dia akan membuat alur cerita yang berbeda.
Alur cerita buatan Dinniar.
~Flashback Setelah operasi~
Haura Mendatangi ruangan khusus Bryan. Dia di sana ternyata tidak menemukan siapin. Haura menangis karena dia tidak tahu harus kemana mencari Bryan.
Haura menghubungi Lidya dan ternyata sahabatnya pun mendapatkan respon yang sama dengannya. Lidya terkejut dengan menghilangnya kakak sepupunya itu.
"Aku akan mencarinya. Kamu bersabarlah," ujar Lidya sebelum mengakhiri telepon.
Haura menangis di sudut ruangan perawatan itu. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan pria yang dicintainya.
Berhari-hari dia mencari sosok Bryan. Dia bertanya kesana kemari namun, tidak satu orangpun yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya satu bulan berlalu.
Haura memutuskan untuk mengunjungi rumah besar itu dan mencari keberadaan pria yang pernah menjadi suaminya itu.
"Apa Bryan ada di rumah" tanya Haura kepada wanita yang mengandung pria yang dicintainya.
"Maaf Haura. Kami juga sedang mencarinya." Jawab wanita itu.
"Tidak, Tidak mungkin kalian tidak tahu kemana perginya Bryan." Haura merasa putus asa sehingga dia meninggikan satu oktaf suaranya.
Lidya merangkul sahabatnya yang sedang bersedih. Dia sebenarnya tidak tega melihat Haura yang merindukan kakak sepupunya itu. Mau bagaimana lagi. Bryan tidak di rumah mereka. Seseorang telah menyembunyikan keberadaan Bryan dan dia yakin itu adalah tantenya sendiri.
"Haura, aku tidak tahu kenapa Kak Bryan menghilang, tapi aku akan berusaha mencari tahunya." Lidya memeluk tubuh Haura erat.
"Sebaiknya kamu pulang dulu. Aku akan mengantarmu," kata Lidya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Jangan khawatirkan aku. Aku minta carilah Bryan." Mata merah dan sembab menatap penuh harap kepada sahabatnya.
Lidya mengangguk dan menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Dia berjanji akan segera mengetahui keberadaan Bryan.
Haura berpamitan. Dengan tubuh lesu. Hati yang penuh rindu. Dia melangkah keluar dari rumah besar yang ditempati oleh keluarga Wiranto.
Wiranto adalah nama dari kakek Bryan, Lidya dan Marco.
Marco yang terlibat dalam kasus kecelakaan Bryan. Akhirnya dia ketahuan dan dikirim oleh kakeknya ke Amerika. Dia diminta untuk membenahi dirinya di sana. Karena jika dia sampai di penjara, reputasi keluarga Wiranto akan hancur seketika.
Selepas kepergian Haura dari rumah besar itu. Lidya menatap kepada tantenya.
"Tante, aku tahu kalau Tante yang menyembunyikan Kak Bryan. Tan, aku juga tahu pasti ada hal yang Tante sembunyikan. Aku yakin Tante melakukan hal itu untuk kebaikan semuanya." Lidya memegangi tangan tantenya yang ternyata sudah dingin sejak tadi.
"Ya ampun Tante. Tante kenapa jadi dingin begini tangannya?" Lidya merasa kasihan dan segera memeriksa tantenya.
"Semenjak operasi Bryan. Saat Tante ketakutan, tangan ini akan menjadi dingin." Ceritanya.
"Kenapa Tante tidak bicara kepadaku? Ini pasti karena Tante stres memikirkan semuanya." Lidya langsung memberikan obat penenang dengan dosis rendah.
~Flashback Off~
****************
Satu tahun berlalu Haura kembali menjalani hidupnya dengan normal, akan tetapi dia sampai saat ini diam-diam masih mencari keberadaan Bryan.
"Ra. Minggu depan acara pertunangan Lidya. Kita pakai baju couple yuk." Sefya bicara kepada Haura yang sedang sibuk mengaduk-aduk minumannya.
Sefya melihat ternyata sahabatnya itu tidak menghiraukan perkataannya.
"Ya ampun, Ra. Dari tadi ini mulut ngomong enggak ada apa satupun yang didenger?" Sefya mulai merajuk.
Setelah mendengar perkataan Sefya yang terdengar kesal. Haura langsung fokus kembali dan meninggalkan semua pemikirannya tadi.
"Masih mikirin Bryan?" tanya Sefya.
"Enggak kok," pungkasnya.
"Yakin tuh enggak? Yakin udah relain dia?" tanya Sefya meledek.
"Udah ah. Kembali ke topik acara pertunangan Lidya ajah deh, enggak usah bahas yang lain." Haura menyedot minumannya.
"Iyah deh Iyah. Jadi gimana tadi tawaran baju couple?" ulang Sefya.
"Boleh, nanti kita cari ya. Hari Kamis libur kok." Haura memberi kepastian.
Sefya memang orangnya suka dengan hal pasti. Kalau Haura jawab nanti dia akan terus bertanya. 'Nantinya kapan?'.
"Fya, udah jam satu nih. Gue ada janji pasien jam dua."
Haura yang sudah menjadi dokter spesialis. Membuat waktunya semakin padat saja. Dia banyak janji dengan beberapa pasiennya.
Haura sengaja menyibukkan diri agar bisa melepaskan pikirannya dari pria yang masih dicarinya.
****************
Sesampainya dia di ruangannya sendiri. Haura merapihkan ruangannya dan menyemprotkan pengharum ruangan. Dia selalu melakukan itu dua kali selama jam praktek.
"Dokter Haura." Jack masuk ke dalam ruangan Haura.
Haura langsung memasang wajah tak suka. Melihat Jack baginya adalah kesialan. Dia akan selalu mendapat banyak sekali gombalan dari pria itu.
"Kenapa sih dia selalu harus ke sini?" gerutunya dalam hati.
"Ini jadwal operasi kita." Jack memberikan dokumen kepada Haura.
"Kita?" tanya Haura tersentak.
"Benar kita. baca saja." Jack menunjuk dokumen itu.
Haura dengan cepat menyambar dokumen itu dan dia langsung membacanya. Benar saja beberapa operasi dia dan Jack yang akan menanganinya. Dokter mesum ini pasti sudah merencanakan semua ini. Secara dia sekarang dipercaya sebagai profesor yang mengatur jadwal beberapa dokter.
Haura menghela napas panjang karena kesal dengan sikap Jack yang mengatur jadwal sesuka hatinya.
"Baiklah. Aku permisi dulu, sampai jumpa di ruang operasi." Pria itu melambaikan tangan ke arah Haura.
Haura melempar dokumen itu tepat saat Jack sudah menutup pintu ruangannya.
Rasanya dia ingin menjambak rambut dokter mesum itu.
"Lihat saja nanti. Jika pimpinan rumah sakit yang baru sudah ada. Aku akan meminta jadwal yang tidak ada namanya di sana."
Haura merapihkan penampilannya dan segera mengambil dokumen yang tadi dia lempar.
****************
Di tempat lain seorang pria sedang mempersiapkan diri untuk mempelajari tentang rumah sakit. Dia melatih dirinya agar bisa kembali menjadi normal lagi.
"Tuan, ini beberapa dokumennya." Seorang pria muda memakai setelan jas berwarna hitam meletakkan tumpukan dokumen di meja kerja.
"Kamu sudah memeriksa semua tentang para dokter yang bekerja di sana?" tanya pria tersebut.
"Sudah Tuan. Disana ada tiga puluh dokter yang di bagi ke enam divisi. Jadi masing-masing divisi memiliki dua dokter spesialis dan tiga dokter magang. Untuk perawat sekitar lima puluh perawat. mereka di bagi menjadi tiga shift." Jelasnya.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Untuk dokter yang memiliki kemampuan unik adalah salah satunya ada Dokter Lidya. Dokter Haura, Dokter Lina dan satu lagi yang lebih unik adalah dokter Jack dia selalu menganggu perawat dan dokter cantik agar mau dengannya." Pria mudah itu menahan tawanya.
"Itu bukan keunikan. Sesampainya aku di sana. Akan aku bersihkan dia dari rumah sakit itu. Dia akan tahu siapa aku."
Pria itu membalikkan tubuhnya dan ketampanannya segera terlihat jelas. Membuat para pekerja wanita terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya.
...****************...
Keluarga Jonathan sudah lebih dulu sampai di Jakarta. Mereka pulang pagi sekali karena Jonathan masih banyak urusan yang harus di selesaikan.
"Dia sedang apa ya? Apa aku tanya saja?" Jonathan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Dia mengetuk beberapa pertanyaan. "Kamu sedang apa?" dia mengetik DNA tak lama di hapusnya lagi.
Jonatan kembali berpikir sebelum kembali mengetik pesan yang akan dia kirim untuk Dinniar.
"Apa kamu sudah kembali ke Jakarta?"
Setelah dia mengetik pesan singkat itu, tak lama dia kembali menghapusnya lagi. Dia merasa kurang cocok pertanyaannya.
Jonatan kembali mengetik pesan. "Kamu sudah di Jakarta?" dia kembali menghapusnya.
"Dinniar, terima kasih atas jawaban yang telah kamu berikan untukku. itu adalah jawaban yang sangat aku nantikan selama ini. aku begitu bahagia. Jika kamu dalam perjalanan pulang ke Jakarta hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai di Jakarta."
Pesan inilah yang akhirnya dia kirimkan untuk wanita yang dia cintai. Jonathan mengirim pesan sambil mengulas senyuman di wajahnya.
Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, tapi dia tetap menjaga sikapnya. Dia tidak mau terlihat konyol di hadapan calon istrinya. Dia tidak mau Dinniar hilang feeling kepadanya.
"Aku harap kamu bisa mencintaiku setelah kita menikah nanti. Aku tahu saat ini kamu menerimaku karena melihat Tasya dan Alesya yang begitu menginginkan keluarga yang utuh. Terima kasih bidadari tak bersayap ku."
...****************...
Darius tidak pulang semalaman. Susi sangat khawatir terhadap putranya itu. Meski dia sudah berusia tiga puluh lima tahun. Susi tetap mencemaskan kondisi putranya yang saat ini sedang labil.
Susi *******-***** jarinya menahan rasa cemasnya. Dia sesekali melihat ponselnya berharap putranya menghubunginya sekali saja untuk memberi kabar.
"Kamu ini kemana sih Darius. Sejak semalam kamu tidak kembali ke rumah. Sampai siang hari begini kamu juga masih belum pulang dan tanpa kabar. Kenapa sikapmu ini begitu tidak bijak. Ya tuhan tolong lindungi putraku dimanapun dia berada." Susi hatinya harap-harap cemas.
Saat Susi sedang menanti telepon masuk dari putranya. Ponselnya berdering kencang dan langsung dia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Darius, kamu dimana nak?" tanya Susi.
"Bu, ini aku. Cornelia." Kata seseorang dari seberang telepon.
"Cornelia?" tanya Susi sambil melihat layar ponselnya.
Benar saja yang meneleponnya bukankah Darius putranya. Yang menelepon adalah nomor yang tidak di kenal. Susi kembali menempelkan ponselnya di telinga.
"Bu, maaf aku menelepon. Aku ingin menanyakan kabar mas Darius. Tadi aku telepon, tapi ponselnya sepertinya sedang mati. dan saat ibu mengangkat telepon, ibu menanyakan keberadaan mas Darius. Apa mas Darius tidak ada di rumah?" tanya Cornelia yang memiliki kecemasannya sendiri.
"Ya, Darius tidak ada di rumah. Dia tidak pulang sejak semalam." Cerita Susi.
"Bu, bisakah meminta Dinniar untuk mencabut laporannya? Aku mau di dekat mas Darius. Sejujurnya aku takut dia berpaling dariku dan mencari wanita lain lagi." Cornelia bicara dengan nada penuh rasa gelisah.
"Hem, itulah yang semua wanita pelakor rasakan ketika sudah mendapatkan pria yang dia rebut dari istri sahnya. Kamu akan selalu memiliki kecemasan itu. dan asal kamu tahu, aku tidak akan pernah meminta kebebasanmu kepada menantuku itu. Aku tidak mau menabur garam diatas lukanya yang belum mengering." Susi mematikan sambungan teleponnya.
Susi begitu geram terhadap permintaan yang diajukan oleh Cornelia. Dia bukan tidak mau, tapi baginya tidaklah mungkin. Karena satu sisi Cornelia telah menculik cucu kesayangannya dan membuat Tasya sakit sampai mengalami trauma berat.
...****************...
Dinniar membaca pesan masuk yang dikirim oleh Jonathan sebelum dia pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya bersama teman-temannya.
"Ternyata dia benar-benar orang yang hangat." Nilai Dinniar terhadap Jonathan dari pesan yang dikirimkan untuknya.
"Maaf aku belum bisa sepenuhnya mempercayai cintamu, tapi aku akan berusaha yang terbaik untuk hubungan kita kedepannya. Mungkin rasa suka ini sudah terselip di dalam hatiku. Namun, aku masih terus menahannya." gumamnya sendirian.
Dinniar menarik koper miliknya dan milik putrinya lalu berjalan menuruni tangga. Dinniar melihat semua sudah siap di bawah dengan tentengan oleh-oleh yang mamanya berikan untuk masing-masing sahabatnya.
"Kamu sudah siap?" tanya Juwita.
"Sudah, mah. Pah Aku dan Tasya pamit. Nanti liburan sekolah kami akan kemari lagi." Dinniar menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.
Haryono memeluk tubuh putri kesayangannya. "Dinniar, jadilah wanita dan ibu yang kuat. Terimalah Jonathan dalam hati mu dan hidupmu." Bisik Hartono sebelum melepas pelukannya.
"Mama dan papa jaga kesehatan ya." Dinniar berpamitan.
"Om, Tante. terima kasih atas semuanya. Kami akan sering-sering main kemari nanti."
Mereka semua berpamitan dan melambaikan tangan sebelum mobil mereka masing-masing melesat meninggalkan rumah yang penuh kenangan indah dalam semalam.
Mobil mereka semua melesat cepat di jalan raya. Dinniar mengendarai mobilnya sendiri dan mereka seperti biasa. Bernyanyi sampai tak terasa sampai di rumah pada jam delapan malam.
Dinniar menurunkan semua barang dari dalam mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah menyetir selama beberapa jam dari Bandung sampai Jakarta.
Dinniar membuka layar ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Jonathan. Saat dia ingin meletakkan ponselnya di atas nakas, ternyata Jonathan menghubunginya.
"Halo." Dinniar mengangkat panggilan telepon.
"Hai, kamu pasti sangat lelah mengemudi ya?" tanya Jonathan yang malu-malu dan bingung mau bertanya apa.
Mereka berbincang kayaknya anak remaja yang baru menjalin hubungan. Malu-malu, bingung mau bicara apa dan yang ada saat ini Jonathan seperti sedang mengadakan sesi wawancara. Banyak bertanya dan Dinniar banyak menjawab.
"Selamat tidur, mimpi yang indah." Jonathan menyudahi panggilan telepon setelah mengucapkan selamat tidur.
Dinniar melipat bibirnya dan menaruh ponselnya di depan dadanya. Dia begitu senang setelah mendengar Jonathan mengucapkan selamat tidur.
Selesai beberapa detik terpesona dengan suara pria yang meneleponnya tadi. Dinniar merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur dan memejamkan matanya untuk menyambut hari esok.