
Dinniar kembali ke ruangan kerjanya dan dia melihat kursinya menghadap ke tembok dengan seseorang menduduki kursinya. dinniar menutup pintu ruangannya dan mendekat.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan begitu hati-hati.
kursi kemudian berputar dan wajah orang yang menduduki kursi kerjanya terlihat. dinniar kemudian menarik napas lega. dia tidak menyangka kalau sahabatnya bisa berada di butiknya tanpa pemberitahuan dulu.
"Sefya." teriak dinniar dengan sangat antusias.
Sefya tersenyum menatap wajah gembira sahabatnya. dia sudah menduga kalau dinniar akan senang melihat kedatangannya. mereka yang sudah lima bulan tidak bertemu dan hanya saling memberi kabar lewat sosial media membuat pertemuan ini sebagai pelepas rindu. Dinniar langsung berlari ke arah sefya dan memeluknya erat.
"apa kabar? kapan sampai jakarta? kenapa enggak kabarin aku dulu?" rentetan pertanyaan diajukan dinniar sambil memeluk sahabatnya itu.
"pertanyaan yang mana yang ingin kamu dengar terlebih dahulu?" tanya sefya seraya tersenyum.
"semuanya." jawab dinniar sambil melepaskan pelukannya.
"kabarku baik, aku baru sampai jakarta satu jam lalau dan aku ingin membuat kejutan untuk sahabat baikku." sefya menjawab pertanyaan dari dinniar.
'hari ini benar-benar penuh dengan kejutan. untung saja aku wanita yang kuat mental dan fisikku juga sangat kuat." tutur dinniar sambil mengelus dadanya.
"penuh kejutan apaan maksudmu?" tanya sefya.
"tunggu, sebelum kamu menjawabnya. aku punya pertanyaan untukmu dulu." lanjut sefya.
"apa?" tanya dinniar.
"tadi aku bertemu seorang perempuan muda yang mungkin usianya kisaran lima tahun di bawah kita. dan wajahnya sagat muram. sepertinya dia keluar ruangan dengan rasa kesal. apa kamu membuat kesalahan kepada pelanggan?" tanya sefya yang berpapasan dengan melinda sebelum masuk ke dalam ruangan dinniar.
"kamu bertemu dengannya?" tanya dinniar dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Dia wanita yang terobsesi dengan suamiku." cerita dinniar.
"apa? raja es itu punya fans? dan pasti di fans yang brutal. buktinya dia berani mendatangimu." sefya menggelengkan kepalanya sambil bertepuk tangan kecil.
dinniar lalau tersenyum. "Aku bukanlah tandingannya. dia salah memilih lawan.'
"Tentu saja. dia tidak tahu sehebat apa sahabatku dan dia tidak tahu selihai apa kamu menghadapi pelakor." Sefya lalu tertawa dan disisi dengan tawa dari dinniar.
keduanya tertawa terbahak-bahak. dinniar memang sudah pernah satu kali menghadapi pelakor. dia dulu mengusahakan yang terbaik untuk hubungannya dengan darius. namun, sayangnya dinniar tidak bisa mempertahankan rumah tangannya. bukan kalah sehingga ditinggal oleh darius.
terdengar suara ketukan pintu yang membuat tawa keduanya terhenti. "Samuel, masuk." dinniar mempersilahkan suami sahabatnya sekaligus sahabat suaminya masuk ke ruang kerjanya.
"kalian sedang membahas apa? kok ketawanya sampai terdengar keluar?" tanya samuel penasaran dengan pembahasan dua wanita hebat dihadapannya.
"ada deh. ini obrolan antar wanita." ledek sefya kepada suaminya.
sefya mengerlingkan kedua matanya. menandakan dia tidak akan bicara apapun mengenai fans brutal yang menyukai suami sahabatnya.
"Aku harus kembali ke kantor cabang. kamu mau ikut atau menungguku di sini?" tanya samuel.
"aku menunggumu di sini saja. aku masih sangat merindukan dinniar. aku juga menghubungi selvia tadi. jadi kamu kembalilah ke kantor dan jemput aku di rumah dinniar. aku yakin kamu juga merindukan jonathan.' tuturnya.
"baiklah. dinniar aku titip ibu hamil satu ini. dan ingatkan dia untuk selalu mengabari aku. kehamilan keduanya begitu spesial jadi aku harus memastikan semuanya baik-baik saja." pesan samuel.
"Siap, bos. saya akan menjaga istri anda dengan sangat baik." balas dinniar.