Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
S2 - Universitas



Bragi membagikan momen dimana dia sedang berada. Dia memang akhir-akhir ini sering sekali membagikan momen bersama dengan wanita yang kini menjadi kekasihnya. Entah ini adalah kekasih yang keberapa dan akan bertahan berapa lama.


"Sayang aku harap kamu menjadi wanita terakhir dalam hidupku." Rayuan Bragi mulai bertebaran.


Wanita itu langsung klepek-klepek mendengarnya. Sehingga dia dengan sangat mudah menyerahkan dirinya sendiri untuk menjadi santapan hawa nafsu Bragi. Dengan senang Bragi langsung melahap tubuh kekasihnya. Kapan lagi dapat wanita gratisan hanya dengan modal bualan rayuan gombal dan menjadikannya seorang kekasih.


Liana  dan Bragi langsung menjalankan kegiatan ranjang mereka. Liana dengan cepat membuka satu persatu pakaian yang menempel ditubuhnya. Bragi sebagai seorang pria yang sudah biasa melihat tubuh berbagai wanita, tetap tergiur ketika melihat tubuh polos meski sudah merasakannha. Dia tetap bergairah, dia tetap maju untuk memuaskan dirinya.


Liana benar-benar sudah kehilangan akal karena ketampanan kekasihnya dan rayuan gombal Bragi. Siapa yang tidak mau tidur dengan Bragi meski hanya satu malam? Itulah pertanyaan yang keluar saat ini. Karena memang mereka bahkan banyak yang mengantri untuk mencoba kejantanan Bragi yang sudah tersebar dibeberapa club malam. Bahkan Bragi bisa menikmati mereka dengan cuma-cuma karena rasa penasaran para wanita terhadap dirinya. Namun, Bragi juga cukup pemilih. Dia hanya akan setuju main ranjang dengan wanita yang srek dihatinya dan juga bersih. Makanya dia sering mencoba beberapa staf wanitanya dan membayarnya jika dia ingin bermain ranjang.


"Sayang, kejantananmu memang sangat luar biasa. Aku sangat suka. Aku sangat menikmatinya. Aaah ...." Liana sangat terangsang bahkan hampir mencapai puncaknya.


Bragi yang belum puas terus menggerakkan pinggulnya. Liana kini berada di dalam kungkungannya. Bragi membuat wanita itu hanya bisa merem melek dan mengeluarkan ******* panjang.


Pertarungan Bragi akan berlangsung lama selama dia belum bisa terpuaskan. Bragi sangat kuat satu ronde dia bisa bertahan empat puluh sampai enam puluh menit. Dalam sehari dia bisa bercinta tiga kali.


Bragi dan Viko sama-sama anak kandung dari Doulton. Sudah pasti mereka semua pandai bermain di atas ranjang. Darah memang lebih kental dari pada air. Sifat, sikap dan energi juga bahkan di turunkan.


Viko yang masih berada di luar negeri bersama Jeslin istrinya sedang asik menikmati pemandangan yang tersaji begitu indah dari balkon kamar hotel mereka.


"Besok kita sudah akan pulang. Waktu berputar begitu cepat." Jeslin berkata dengan suara manja.


"Sayang, kita bisa pergi lagi lain waktu. Berlibur berdua dan berkeliling dunia." Janji Viko kepada sang istri tercintanya.


"Benarkah?" Jeslin matanya berbinar.


Jesline bersandar di dada bidang suaminya yang seperti roti sobek. Viko rajin sekali berolah raga. Dia bahkan selama berlibur selalu bangun pagi untuk lari pagi.


"Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" Viko mengecup mesra kening sang istri.


Keduanya begitu mesra, mereka bahkan sering lupa waktu ketika bersama. Viko yang pandai membuat erangan di bibir sang istri. Mengajak Jeslin masuk ke kamar dan berpagutan.


"Aku sangat mencintaimu, Jeslin," bisiknya sambil mendesah.


"I love you too my husband." Jeslin melingkarkan kakinya di pinggang sang suami dan merentangkan tangannya di kasur agar Viko bebas menyu*u.


Jeslin wanita club malam yang sering kali menggoda para pria. Dia tak sengaja mengenal Viko dan menjeratnya. Jeslin pandai membuat pria jatuh hati. Namun, kali ini dia serius mencintai Viko. Dia rasanya tidak mau menyia-nyiakan hubungannya dengan Viko. Dia akan berusaha terus bersama dalam ikatan pernikahan.


Viko yang sering ke club malam berbeda dengan adiknya Tamara. Dia lebih senang belajar dan terlalu menutup diri. Tamara juga selalu diantar kemanapun dengan pengawal bekas ibunya.


"Saya masih menelusurinya, nona. Mohon untuk menunggu sedikit lagi." Rexy berkata dengan sangat ketakutan.


"Rex! Aku tidak mau menunggu lama. Kau tau seperti apa aku. Jadi aku mau besok sudah ada laporannya."


Tamara sedang menyelidiki sesuatu kasus. Dia rasa itu bisa menjadi kartu as suatu hari nanti.


Tamara adalah seorang wanita yang sedikit feminim. Dia sering kali berlatih pencak silat dan juga tinju. Banyak anak buahnya menjadi sarana latihan dan babak belur. Menjadikan anak buahnya sering takut dengan wanita itu.


Tamara wanita yang berpendidikan tinggi. Dia bahkan sudah S2 sekarang. Dia terus meningkatkan pendidikannya. Sedangkan Viko abangnya tidak terlalu mementingkan itu semua. Sebab dia sudah menjadi seorang CEO di perusahaan keluarganya.


Tak berbeda dengan Tamara. Selena adik tirinya juga begitu. Mementingkan pendidikannya. Meski sudah menjadi pengacara handal dan terkenal. Kini Selena sedang sibuk dengan sekolah S3. Dia sangat rajin belajar dan dia juga rajin sekali pergi ke perpustakaan mencari buku dan membacanya.


"Maaf, saya tidak sengaja." Selena menabrak seorang pria blasteran saat hendak keluar dari perpustakaan.


"Tidak apa. Aku juga tidak hati-hati dan menerobos masuk." Edward sedikit mengulum senyuman.


Selena lantas pergi dari perpustakaan dia harus segera kembali ke kantornya. Banyak sekali kasus perceraian yang harus dia selesaikan. Bahkan dia harus mencari beberapa buku yang berhubungan dengan kasus kekerasan. Banyak hal yang perlu dia pecahkan sehingga membutuhkan buku-buku itu.


Sebuah Nissan magnite masuk ke dalam parkiran khusus VVIP. Selena keluar mobil dan melangkah masuk. Siapa yang tak mengenal pengacara sekaligus anak dari seorang Doulton yang kaya raya. Mana ada yang bisa menandinginya. Namun, Selena bekerja di bawah embel-embel nama orang tuanya.


"Mba Selena, ini ada titipan makan siang dari pak Sammy." Tika menyerahkan kantong berisi makanan.


"Tadi dia ke sini?" tanya Selena.


"Iyah, saat Mba Selena sedang keluar kantor. Katanya nanti dia akan ke sini lagi."


"Duuh, tuh orang enggak ada capeknya. Udah di tolak berkali-kali tetap ajah ngejar." Kesalnya.


Sammy pria yang dikenalkan oleh papanya saat sebelum kondisi Doulton seperti saat ini. Dia adalah anak teman bisnis Doulton yang memiliki pabrik aksesoris mobil. Bisnisnya sangat pesat karena produksi mobil terus berjalan.


Selena tidak ingin menjalin hubungan dengan Sammy. Dia merasa kalau Sammy terlalu bebas dalam pergaulan dan tidak cocok dengannya yang kutu buku. Bagi Selena lebih enak sendirian meski dia juga khawatir dengan pandangan orang kepadanya yang belum menikah diusia yang sudah matang.


"Tika, dengar. Kalau Sammy datang. Kamu bilang aku belum kembali dan sepertinya tidak akan kembali ke kantor. Aku bawa semua arsip ini. Okeh. Tolong aku." Selena memelas kepada temannya itu.


Tika memang usianya tiga tahun dibawah Selena. Namun, Selena nyaman bicara dan berteman dengan gadis itu. Ditambah Tika juga pembawaannya dewasa.


Selena bergegas pergi dari kantor. Dia tidak mau kalau sampai bertemu dengan Sammy.