
Dinniar yang berada di ruangan Darius sama sekali tidak memberikan celah untuk siapapun mengganggu aktifitas mereka.
Dinniar bahkan memerintahkan kepada sekretaris Darius untuk tidak memberikan siapapun masuk ke dalam ruangan.
Dinniar juga meminta Darius untuk tidak mengangkat telepon dan menemui siapin. Dia meminta untuk hari ini sehari bersamanya.
"Mas, selesai kita makan. Kamu anter aku shopping ya. Kamu'kan waktu itu kasih kartu kamu, tapi belum aku pakai. Jadi aku mau kamu anter aku." Dinniar hari ini bersikap sangat berbeda dari biasanya.
"Sayang, aku kan hari ini harus kerja." Darius mencoba menolak ajakan istrinya.
"Kalau kamu enggak bisa anter aku hari ini. Besok ajah enggak apa-apa. Hari ini jadi aku nemenin kamu ajah seharian di kantor." Dinniar menyentuh dada bidang suaminya.
Dia merasa debaran jantung yang begitu cepat. Sudah pasti debaran itu bukan karena terpesona dengan istrinya, tapi karena dirinya terjebak dalam situasi sulit.
Aku tahu mas kalau kamu hari ini berniat bersama dengan model yang menjadi selingkuhan mu. Aku tidak akan pernah memberikan kalian kesempatan untuk berdua. Sudah cukup kamu bersenang-senang di belakangku.
Dinniar melakukan segala cara agar suaminya tidak pernah bisa bersama dengan model itu.
"Baiklah, ayo aku akan menemanimu shopping."
Akhirnya Darius mengalah dengan keadaan. Dia mau menemani istrinya pergi shopping.
Darius dan Dinniar pergi meninggalkan kantor Darius. Sedangkan di ujung lorong yang berbeda, Cornelia memperhatikan kekasihnya yang pergi bersama Dinniar sang istri sah.
Cornelia kesal karena Darius bahkan tidak menanggapi panggilan telepon bahkan pesan yang dikirimnya saja tidak ada yang dibaca satupun.
.
.
Selama di perjalanan menuju Mall, Dinniar terus menempel pada Darius. Dia bagaikan permen karet yang menempel dengan rekat di dekat Darius.
Darius dalam posisi bingung. Dia yakin saat ini Cornelia tengah marah terhadap dirinya.
Maafkan aku Cornelia, aku tidak bisa menolak keinginan istriku. Kalau dia mencium perselingkuhan kita. Sudah pasti aku akan kehilangan keluargaku.
Tidak ingin kehilangan keluarganya, tapi Darius tetap saja berselingkuh. Pria yang sungguh arogan. Sikap egois yang dimilikinya sangatlah memuakkan.
Dulu Darius memang pria yang bisa dipercaya. Dia sangat menjaga dirinya dari wanita nakal. Bahkan dia yang mengetahui beberapa karyawannya melakukan perselingkuhan sering kali dia nasehati. Nyatanya sekarang dia yang lebih gila lagi dalam berselingkuh.
Darius dan Dinniar masuk ke dalam Mall, mereka berkeliling berbelanja. Dinniar membeli beberapa baju baru yang jarang sekali dia kenakan setelah dia menjadi seorang kepala sekolah. Dulu Dinniar memakai pakaian yang sedikit terbuka, tapi sekarang dia merubah style nya lebih sopan lagi.
"Tumben kamu belanja baju kaya gini?" tanya Darius.
"Aku ingin tetap terlihat cantik di mata suamiku. Agar dia tidak akan pernah bermain api di belakangku. Api yang bisa membakar hangus rumah tangganya." Dinniar bicara dengan tatapan serius.
Seketika jantung Darius berdebar kencang. Dia sangat takut dengan apa yang dibicarakan istrinya terjadi. Rumah tangganya habis di lalap si jago merah.
"Sayang, aku tidak akan pernah berselingkuh." Darius memegang erat tangan istrinya.
"Aku percaya, percaya kamu tidak akan meninggalkan aku dan Tasya. Aku yakin kamu akan memilih kami." Dinniar menyeringai.
Darius kehilangan kata-katanya, dia tidak bisa membalas perkataan istrinya dan hanya bisa tersenyum kaku.
"Dinniar." Adrian menyapa.
"Adrian? Ya ampun kita ketemu di sini." Dinniar menyapa Adrian.
Darius melihat keakraban diantara kedua sahabat itu, tapi Darius juga melihat ada sorot mata yang berbeda dari sahabat istrinya itu.
"Hai," Adrian menyapa Darius juga.
Mereka saling berjabat tangan. Darius menjabat tangan Adrian cukup lama.
"Mas." Dinniar menyadarkan Darius.
"Ah, maaf. Karena sudah lama tidak bertemu jadi ada rasa senang." Darius tersenyum kaku.
Dinniar melihat ada sorot mata cemburu dan tingkah yang tidak biasa dari suaminya.
Dinniar terbesit rencana dalam hatinya.
"Ah, Iyah benar. Kita ngobrol santai, udah lama kan enggak ngobrol." Darius terpaksa menerima ajakan Dinniar.
Sebenarnya Darius sangat tidak suka kalau istrinya dekat dengan Adrian. Meski Adrian sahabat lama Dinniar tapi sorot matanya saat menatap Dinniar lain.
.
.
Dinniar, Darius dan juga Adrian duduk bersama. Dinniar memberikan buku menu kepada sahabatnya itu.
"Mas, kamu mau makan apa?" Dinniar bertanya kepada suaminya.
"Kalau begitu aku yang pilih ya."
"Dri, kamu mau makan apa?" tanya Dinniar.
"Aku bingung nih. Kalo kamu udah pasti kan makan kwetiaw siram seafood?" ucap Adrian.
"Kamu itu, inget ajah apa yang aku suka." Dinniar tersenyum senang.
Darius saat ini mungkin dia sangat ingin mengusir Adrian dari hadapan istrinya.
Rasa cemburu sudah mulai menguasai Darius tapi sayang dia tak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin dia bilang kalau cemburu karena pasti akan ditertawakan.
"Aku ke toilet dulu." Izin Darius.
Dinniar memperhatikan gerak gerik suaminya.
Kamu pasti tidak hanya ingin pergi ke toilet, tapi kamu ingin menghubungi selingkuhanmu. Okeh saat ini aku beri kamu kesempatan menghubunginya.
Dinniar tersenyum kepada Adrian. Dia sebenarnya merasa tidak enak. Mengajak Adrian makan hanya karena ingin membuat suaminya cemburu.
.
.
Darius masuk ke dalam toilet. Dia melihat banyak sekali panggilan masuk dan pesan singkat dari Cornelia.
"Dia pasti sedang marah saat ini." Darius menghubungi kekasihnya.
"Halo, sayang. Maafin aku ya. Dengerin dulu dong penjelasan aku."
Darius seperti orang yang kebakaran jenggot. Dia benar-benar takut akan kemarahan kekasihnya itu.
"Aku janji, besok kita akan bersama. Sayang kapan sih aku bohong. Hari ini aku sama sekali enggak tahu kalau Dinniar akan ke kantor." Darius terus menjelaskan duduk permasalahannya.
Darius menutup teleponnya. "Untung dia bisa aku bujuk. Besok aku harus bersama dengan dirinya."
Darius keluar dari toilet dan kembali menemui Dinniar dan Adrian.
Saat Darius masuk ke dalam cafe, dia melihat istrinya sedang tertawa lepas bersama Adrian. Hatinya sangat sakit seperti tertusuk pisau tajam.
Apa ini rasanya cemburu? Kalau kamu mengetahui perselingkuhan yang aku lakukan. Apa sakitnya lebih dari yang aku rasakan saat ini?
Darius bergumam dalam hatinya sambil berjalan menghampiri.
"Mas, makanannya udah Dateng. Maaf aku enggak nunggu kamu dulu. Kayaknya Adrian udah laper." Dinniar bicara dengan sedikit tawanya.
Darius semakin cemburu melihat istrinya lebih mementingkan sahabatnya.
"Sorry bro. Istrimu yang nyuruh kita makan duluan." Celetuk Adrian.
"Enggak apa. Terusin makannya." Darius duduk dan menyantap nasi goreng seafood kesukaannya.
Darius hanya memperhatikan istrinya yang terus mengobrol santai dengan Adrian.
Aku pastikan kamu tidak akan pernah mengetahui tentang perselingkuhan yang aku lakukan. Karena aku tidak mau membuat hatimu sakit dan menangis.