
Jonathan marah-marah sendiri di ruang kerjanya. Dia kesal karena pria yang menjadi tersangka pengkhianatan rumah tangga itu masih bisa hidup bebas dan tidur nyenyak.
"Awas, kamu Darius. Aku tidak akan menyerah. Haaaah, Kenapa rasanya kesal sekali melihat wanita itu terus dibohongi." Jonathan juga merasa heran kepada dirinya sendiri.
Rasanya dia kesal kepada Darius bukan hanya karena telah mengkhianati wanita. Dia juga merasa kesal karena Dinniar tersakiti. Ada rasa yang berbeda di dalam hatinya.
Rasa yang belum dia mengerti apa itu. Masih dia pendam dan menerka-nerka perasaannya saat ini. Jonathan belum tahu pasti apa itu rasa cinta atau hanya rasa iba saja.
"Permisi, Pak." Rendy asisten pribadinya masuk setelah mengetuk pintu.
"Ada apa Ren?" tanyanya.
"Untuk acara ajang pencarian bakat semua persiapannya sudah rampung. Kita tinggal mulai acaranya sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan." Rendy memberi laporan.
"Tunggu. Kita cari satu model cadangan. Saya tidak mau memakai model yang bisa membuat rugi perusahan." Jonathan memainkan jari jempol dan telunjuknya bergesekan.
"Jadi kita cari cadangan untuk penggantinya?" tanya Rendy.
"Benar. Jika mereka terus menjalin hubungan. Saya tidak mau memakai dia." tegas Jonathan.
Rendy menjadi semakin yakin kalau bosnya menyukai kepala sekolah harapan, sekolah dimana keponakan pak Jonathan bersekolah.
Rendy segera menghubungi beberapa Agency model untuk menyiapkan satu model profesional untuk menjadi juri cadangan.
"Meski kamu sangat bagus dan profesional. Aku tidak mau bekerjasama dengan wanita perusak rumah tangga orang lain." Jonathan bergumam dalam hatinya.
.
.
Darius dalam perjalanan menuju ke apartemen istri keduanya. Dia terus memikirkan apa yang di katakan oleh pria yang tidak dia kenal.
Dia menyebutkan bahwa Darius adalah tersangka rumah tangga.
"Apa dia mengetahui perselingkuhan ku? tapi siapa dia? aku bahkan tidak mengenalnya." Darius terus menerka.
"Siapa dia? Kalau dia mengenalku. Maka kamu pasti pernah bertemu."
Darius sama sekali tidak mengingat siapa pria itu dan dimana dia pernah bertemu.
"Ah, lupakan. Buat apa memikirkan pria sok tahu itu."
Darius mendapat panggilan dari kantornya.
"Ada apa?" tanyanya.
Seseorang menjelaskan sesuatu kepada Darius dan membuat pria itu mendadak harus menepikan kendaran yang dikendarainya.
"Apa kamu bilang? Mereka menunda acara tersebut dan sedang mencari juri cadangan? Ada apa ini sebenarnya?" Darius tanpa mendengarkan jawaban dari sekretarisnya. Dia langsung menutup panggilan telepon.
Darius memutar baik kendaraannya dan bersiap menuju sebuah perusahaan stasiun televisi yang akan menjadi penyiar sekaligus pengurus acara ajang pencarian bakat.
"Ada apa dengan mereka? Kemarin meeting sudah selesai persiapan dan pekan depan mereka akan mulai acaranya. Dan sekarang mereka malah ingin menundanya." Darius memeluk stir mobilnya.
Dia tidak terima jika acara ini di undur. Karena mereka sudah melakukan persiapan dengan sangat matang. Dan jika acara di mundur maka akan ada perubahan jadwal tayang.
Darius juga harus segera menyelesaikan satu persatu kontrak kerja Cornelia agar mereka bisa memiliki keturunan.
.
.
Jonathan sedang menunggu hasil pencarian model yang akan menjadi juri cadangan mereka. Sebenarnya acara itu memang membutuhkan juri cadangan dan mereka akan mencarinya jika acara sudah berjalan. Namun, karena hal ini Jonathan ingin segera ada juri cadangan.
"Lihat saja kamu, Aku pastikan kalian tidak akan bahagia. Aku yakin kalian akan mendapatkan karma kalian sendiri." Jonathan semakin kesal saat dirinya kembali mengingat Darius.
"Kalau bukan di depan sekolah dan kalau bukan karena di tegur satpam. Sudah pasti wajahnya hancur babak belur karena pukulanku." kesalnya sambil mengepalkan kedua tangannya.