Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 115 - Model Cantikku



Jonathan dan Rendy kini memiliki satu pemikiran. mereka saling menatap ke arah Dinniar dan membuat Dinniar mengangkat kedua bahunya tak mengerti.


Jonathan mengajak Dinniar dengan menggandeng tangannya. dan membuat istrinya duduk. Jonathan terdiam sejenak sambil menopang dagu dengan satu tangan dan tangan lainnya di lipat di dada.


"Sayang. bisakah kamu membantu aku sekali ini?" tanya Jonathan dengan sangat hati-hati. Dia takut sang istri tersinggung.


"membantu? apa yang harus aku bantu? jika memang aku bisa melakukannya pasti akan aku lakukan." Dinniar memegang tangan suaminya erat.


Sejak tadi memang dia dengan memikirkan langkah apa yang bisa dia lakukan untuk membantu suaminya keluar dari permasalahan ini.


Jonathan menatap lekat ke arah istrinya. linear pun menatap Jonatan lengkap.


"Aku mau minta bantuan kamu untuk menggantikan modelnya. menurut Rendy dan aku kamu pantas menjadi seorang model untuk promosi hari ini."


Perkataan Jonathan membuat melongo Dinniar yang tak pernah mengerti dunia model. Dinniar seketika langsung memijat keningnya yang tak terasa pusing.


"Suami, tapi aku tidak pernah sama sekali melakukan hal itu. aku tidak bisa. maaf'kan aku bukan aku tidak mau membantu. hanya saja aku takut mengecewakanmu." Dinniar memejamkan matanya sejenak setelah berbicara tanpa jeda kepada Jonathan.


Jonathan memegang kedua pundak istrinya dengan mesra dan menatap bola mata Dinniar. "Sayang, dengar. ini adalah hal yang mudah. kamu sudah biasa melakukan hal ini. kamu sudah biasa bicara di depan banyak orang," kata Jonathan dengan meyakinkan.


"Suami, aku memang sering bicara di depan banyak orang. Namun, ini hal yang sangat berbeda. aku harus berakting di depan kamera dengan berbagai macam rangkaian kata." Dinniar tidak percaya diri meski dia sering bicara di depan banyak orang.


"Dengar, kita coba dulu. aku akan membantumu. aku akan mengajarimu. aku yakin kamu bisa. kita bisa. please." Jonathan bersimpuh di kaki istrinya berharap istrinya merasa kasihan kepada dirinya.


Dinniar menggigit ujung jari jempolnya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri tiada henti sambil terus memikirkan Sesuatu.


"apa aku bisa melakukannya? ini bukan perkara mudah. aku tidak terbiasa dengan kamera." Dinniar penuh dengan kebimbangan di dalam hatinya.


"Sayang, please. aku mohon. mungkin memang ini adalah takdir kita. kamu adalah seorang kepala sekolah yang banyak di kenal dengan sikap bijaksana dan sangat ramah. bisa jadi ini adalah boom iklan untuk mencapai kejayaan dari program yang aku buat ini." Jonathan semakin mendesak istrinya.


Dinniar semakin di desak semakin tidak tahu harus bicara dan berbuat apa. Dia ingin membantu Jonathan, tapi di sisi lain dia takut berhadapan dengan kamera yang akan menyorotnya dan memperkenalkannya kepada seluruh masyarakat Indonesia.


"Sayang, please ya. bantu aku."


Dinniar menghela nafas panjang dan dia mulai mengangguk'kan kepalanya pelan.


"Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu. Namun, ingat. kamu harus membantuku semaksimal mungkin. ini adalah pertama kalinya aku bicara di depan kamera." Dinniar menggenggam erat tangan Jonathan.


"Tenang saja sayang. aku akan membantumu semaksimal mungkin. aku akan membuatmu sengat piawai di depan kamera." Jonathan menggandeng tangan Dinniar.


Jonathan dan Dinniar menuju lapangan sekolah dan mereka mulai mempelajari skrip dan juga bagaimana cara memperagakan di depan kamera. Dinniar sangat terlihat kaku dengan kata-kata dan juga gayanya.


Jonathan dengan sabar membantunya agar lebih luwes lagi. Dinniar hampir menyerah, tapi Jonathan kembali memberikan semangat. Dia tidak akan menyerah karena baginya memang istrinya cocok untuk menjadi model iklan promosi pembelajaran ini.


"Anak-anak semua. Belajar akan lebih menyenangkan dengan aplikasi belajar yuk. materinya lengkap dan juga ada tutorial cara mengerjakan soal dengan sangat mudah dan ringkas. kalian pasti akan sangat menyukai belajar bersama belajar yuk." Dinniar menutup syuting iklan dengan kata-kata ajakan.


"Okeh, cut. Sukses." teriak sutradara iklan.


Dinniar bernafas lega. dia bisa dengan cepat menyelesaikan semuanya. dia dan Jonathan melihat hasil syuting tadi dan betapa bahagianya Jonathan dengan hasil yang sangat memuaskan. dan sangat tepat.


membuat Jonathan melebarkan matanya. Dia tidak mau ada pria lain mengagumi istrinya. dia takut kalau orang sudah kagum akan mulai menyukai istrinya.


"tenang, pak. hati saya sudah tersegel. jadi tidak perlu takut." Rendy menggoda bosnya.


...****************...


"Kita harus segera melaporkan hal ini kepada bos. ini adalah hal yang gawat."


Kedua orang yang sejak tadi menyaksikan kekacauan dan juga menyaksikan syuting iklan hingga selesai langsung pergi secepat kilat.


"Gimana ini, pasti bos sangat marah kepada kita. kita tidak bisa membuat rencana ini sukses." katanya dengan sangat ketakutan sambil mengendarai kendaraan roda dua.


"Kita tidak bisa di salahkan. sebab ini adalah di luar kendali kita. seperti kata pepatah. manusia bisa berencana dan tuhan yang menentukan." Pria yang di bonceng menyahut dengan begitu lancar.


"Halah!" pria itu menarik gas hingga sepeda motor melaju begitu kencang melintasi jalan raya.


Mereka tiba di sebuah markas tempat mereka berkumpul. Kedua pria itu turun dari motor dan masuk ke dalamnya.


"Kalian sudah sampai?" tanya sang bos yang mendengar langkah kedua anak buahnya.


"Sudah bos." jawab mereka berdua dengan serentak.


pria bertubuh kekar itu menatap keduanya meminta laporan tentang rencana yang dijalankannya.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Semua berjalan lancar bos. Model itu tidak datang dan dia pergi ke agency pak Darius sebagai model di sana." jelasnya sambil menatap wajah bosnya.


"Kalau begitu pasti syutingnya tidak berjalan dengan lancar dan pastinya mereka tidak jadi melakukan syuting iklan." tawanya kecil.


"Tidak bos. mereka berhasil melaksanakan syuting iklan." kata pria lainnya


"Apa?!" teriaknya tak menyangka.


"Bagaimana bisa? mereka syuting iklan tanpa model?" tanyanya dengan perasaan menggebu-gebu.


"Dengan model pastinya bos. wanita yang tempo hari bos perlihatkan fotonya kepada kami yang menjadi modelnya." Papar mereka dengan sedikit gugup.


"Kurang ajar! Pasti bos besar akan marah kepada kita besok saat melapor." Pria itu mengepalkan kedua tangannya dan menegangkan rahangnya hingga terdengar suara gemeretak gigi yang beradu.


Mereka semua harus melapor kepada sang bos besar tentang rencana yang sudah mereka susun dan sudah mereka jalankan. mereka bertiga akan mendapatkan masalah besar karena apa yang sudah di rencanakan ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.


"Aaaaaaaah!" pria itu kembali berteriak karena sangking kesalnya.


Dia sudah membayangkan betapa terhinanya besok saat harus melaporkan kegagalan atas apa yang mereka kerjakan.