
Selesai dengan permainan ranjang mereka. Darius dan Cornelia tertidur pulas bersama sambil berpelukan.
Mereka seperti layaknya pengantin baru yang sedang berbulan madu. Beberapa ronde mereka selesaikan dengan kepuasan bersama. Mereka berdua juga bermain sampai tiga ronde. Darius membuat istrinya terus-menerus melontarkan kata kepuasan atas servisnya hari ini.
Darius dan Cornelia bahkan lupa kalau di dalam perut istrinya ada sebuah janin yang harus dijaga. Usia kandungan Cornelia baru memasuki dua bulan. Seharusnya mereka ingat dan tidak bermain ekstrim seperti tadi hingga mencetak tiga gol sekaligus bersamaan.
Cornelia menyunggingkan senyuman meski dia sedang tertidur pulas. Terlihat jelas rona kebahagiaan dari wajahnya yang putih dan mulus. Dia juga terlihat sangat cantik saat mendapatkan pelepasan. Itulah yang membuat Darius begitu terpikat dengannya setelah beberapa kali dulu jalan bersama dengan Cornelia sebelum mereka memutuskan menjalin hubungan gelap.
...****************...
"Dinniar ... Dinniar, sayang." Jonathan berlari ke ruangan atas sambil mencari sosok istrinya.
Jonathan masuk ke dalam kamar Tasya dan melihat istrinya sedang berbaring di samping sang putri. Jonathan menghampiri keduanya dan dia melihat istri dan putrinya sedang tertidur lelap.
Dia mendapatkan laporan bahwa istrinya pergi ke mall dan bertemu dengan Cornelia. Dinniar membawa pulang Tasya dengan wajah yang pucat dan langsung memberikan obat yang diresepkan oleh Erika dengan dosis rendah untuk berjaga-jaga.
Jonathan sangat khawatir dan membuat dirinya pulang lebih awal untuk memastikan kondisi putri sambungnya.
Dinniar merasakan bau harum dari parfum yang dipakai suaminya. Dia terjaga dan melihat suaminya sedang duduk memandangi dia dan juga Tasya.
"Kamu sudah pulang mas?" tanya Dinniar sambil mengubah posisinya.
"Sayang, kamu dan Tasya tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah cemas yang terpampang jelas sekali.
"Aku baik-baik saja. Tasya juga sudah membaik setelah aku memberikan obat yang diresepkan oleh Erika. Mas, kamu kenapa bisa tahu kalau aku dan Tasya ...," Dinniar menghentikan perkataannya saat Jonathan menaruh telunjuk di bibirnya.
"Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana. yang perlu kamu tahu aku begitu cemas dan aku harap kamu tidak pergi sendiri atau membawa Tasya pergi bersamamu tanpa pengawalan ketat. Aku takut wanita itu bisa berbuat hal yang bukan-bukan kepada kalian." Jonathan menaruh telapak tangannya di pipi sang istri.
Dinniar langsung menyentuh tangan suaminya. Dia ingin sekali menghilangkan kekhawatiran di hati suaminya.
"Mas, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi putriku. Aku tidak mau selalu merepotkan dirimu atau pegawai mu. Aku bisa melindungi diriku dan juga Tasya. Kamu tidak perlu khawatir." Dinniar tersenyum lebar.
"Kamu dan Tasya kini menjadi tanggung jawab ku. Sudah sepatutnya aku melindungi kalian meski aku tak bisa dua puluh empat jam bersama kalian dan meski mata ini tak bisa terus mengawasi mu. Setidaknya ada mereka yang membuatku jauh lebih tenang saat tak ada di dekat kalian. Aku mohon jangan seperti ini lagi. aku sangat takut kehilanganmu dan juga Tasya. kalian kini adalah hidupku, masa depanku dan juga jiwa ku." Jonathan memeluk Dinniar erat.
Dinniar menjadi merasa sangat bersalah kepada suaminya. Dia benar-benar membuat Jonathan sangat cemas kali ini.
"Aku janji, tidak akan mengulangi hal ini lagi. Aku tidak akan membuat dirimu cemas lagi. percayalah kepadaku."
Jonathan sangat ingin menjadi tempat Dinniar bergantung. dia tahu kalau istrinya adalah wanita yang mandiri dan sangat pemberani. Namun, mereka memiliki Tasya yang kondisi mentalnya belum baik-baik saja. Jika Tasya sudah sembuh seratus persen, Jonathan mungkin tidak khawatir sebesar ini.
"Mas, Alesya apa sudah pulang? aku ketiduran tadi saat menemani Tasya. Aku sampai lupa memeriksanya dan menghubunginya." Dinniar mencemaskan putrinya yang lain.
"Alesya sudah pulang. tadi kebetulan aku dan dia sampai bersamaan di rumah. mungkin saat ini dia sedang makan di bawah. dia kalau khawatir'kan suka makan berlebihan." tawa Jonathan.
Dinniar ikut tertawa kecil. "Aku turun ke bawah dulu untuk melihatnya. Kamu juga segera bersihkan diri." Dinniar dan Jonathan keluar kamar Tasya bersamaan. namun, pergi ke tempat yang berbeda. Dinniar menuruni tangga dan menuju meja makan untuk bertemu Alesya. sedangkan Jonathan masuk ke dalam kamar mereka untuk mandi.
"sayang Setelah itu kita segera menonton film ya." teriak jonatan.
diniar melihat putrinya yang sedang makan malam di bawah seorang diri
"sayang maafin mami ya tadi Mami habis nemenin Tasya. Mami sampai lupa tanyain kamu apa sudah pulang atau belum." ujarnya sambil duduk di samping Alesya.
"Mami tidak perlu khawatir Aku tidak marah kok sama Mami. malah aku lebih khawatir kepada Mami dan Tasya. apakah wanita itu akan mengganggu Mami dan Tasya lagi? Aku tidak suka dengan wanita itu mami." Alesya memeluk Dinniar.
"Dia mungkin tidak akan mengganggu Mami dan tasya lagi Sayang. kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mami dan Tasya. ya sudah kamu makan dulu Mami mau membawakan air untuk papa dulu."
Dinniar mengambilkan segelas air untuk Jonathan yang baru pulang bekerja. Dinniar menaiki tangga yang akan membawanya ke dalam kamar.
"terima kasih sayang minumannya. oh ya aku sudah menyetel film kesukaan kita. tunggu sebentar lagi dia akan mulai." Jonathan mengajak Dinniar untuk menonton film kesukaan mereka.
~ film di mulai ~
Bragi keluar terbangun dari tidurnya. Dia semalaman tidak pulang ke rumah dan tidur di sebuah hotel bersama dengan wanita. Bragi memiliki sisi yang haus akan kehangatan seorang wanita. Dia selalu meniduri beberapa wanita setiap minggunya. Bragi bahkan terlibat skandal dengan sekretarisnya hingga wanita itu menjadi pelampiasan naf** ketika di kantor.
Bragi salah satu pemegang saham tiga puluh persen di perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. Maka dari itu dia bebas memasuki kamar manapun untuk menumpahkan cairannya.
"Hah, sungguh malam yang begitu indah. Mereka bisa sekali memu**skanku."
Bragi malam tadi bermain dengan dua wanita sekaligus. Dia tidak tahan ketika melihat wanita berpakaian **** berjalan di hadapannya dan langsung membawanya ke kamar hotel.
Bragi bahkan sering membawa house keeping wanita ke dalam kamar hotel untuk memuaskan ha*ratnya. Bragi akan memberikan mereka sejumlah uang dan meminta mereka selalu siap jika dirinya butuh menumpahkan ca*rannya.
Bragi masuk ke dalam kamar mandi dan dia membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan dua wanita tadi malam.
Bragi memegang kendali di hotel karena dia pemilik saham terbesar di hotel itu dan dia adalah seorang anak pertama dari istri sah. Sedangkan adiknya Leni mendapatkan dua puluh persen sebagai seorang anak kedua dari istri sah.
Leon, Tamara dan juga Selena masing-masing mendapatkan sepuluh persen saham dan sisanya adalah saham yang dimiliki oleh Doulton.
Sama seperti bisnis di bidang pariwisata yang dipegang oleh Viko. Pembagian mereka sama. 30,20,10,10,10, dan 20 untuk Doulton.
Posisi anak dari istri sah, istri kedua mendapatkan nilai saham yang sama. Sedangkan Selena karena dari istri ketiga dan bukan dari keluarga menengah atas jadi hanya mendapatkan saham keseluruhan sebanyak dua puluh persen.
Viko dan Jeslin sedang asik menikmati bulan madu mereka berdua di Paris. Mereka mengunjungi banyak tempat dan bermalam di berbagai hotel mewah yang sangat mahal.
"Bagaimana sayang, kamu menyukainya?" tanya Viko kepada istrinya.
"Aku sangat menyukainya. Kamu benar-benar pangeran berkuda putih yang sangat aku impikan selama ini."
Jeslin bukan berasal dari keluarga menengah atas. Dia berasal dari keluarga biasa saja. Kedua orang tuanya hanya pegawai biasa di kantor pariwisata milik keluarga Viko.
Mereka bertemu di club malam kala itu. Viko menyukai Jeslin karena memiliki tubuh yang indah dan mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang sebelum pernikahan. Jeslin membuat Viko semakin tergila-gila kepadanya. Dan akhirnya setelah lima bulan berhubungan mereka memutuskan menikah.
Doulton tidak bisa menghindari pernikahan anaknya dengan seorang wanita dari kelas bawah. Karena dia sendiri pernah menikahi wanita dari kelas bawah.
Jeslin selalu mem*askan h*srat Viko. Viko bukan pria yang suka bergonta-ganti pasangan seperti Bragi. Dia adalah pria yang cukup setia, mungkin dia mewarisi sikap ibunya yang setia kepada papanya meski sudah di campakkan dengan menikahi ibu dari Selena.
Ibu Viko satu-satunya wanita yang setia menemani Doulton hingga akhirnya meninggal dunia karena overdosis. Dia selama ini ternyata memakai obat-obatan untuk menghilangkan stres karena pandangan orang terhadapnya dan demi terus setia kepada suaminya.
Tidak seperti ibu Selena dan ibunya Bragi yang pergi meninggalkan Doulton karena tidak tahan dengan sikap Doulton yang sering bermain dengan wanita.
Doulton berhenti bermain-main dengan wanita saat dia kehilangan Juliet wanita yang begitu dia cintai dan begitu berharga baginya. Sebab Juliet adalah cinta pertamanya saat muda. Hanya karena kedua orang tua Doulton tidak menyetujui pernikahan itu makanya mereka berpisah dan akhirnya Doulton menikah dengan Maria ibu dari Bragi dan Leni.
Maria meninggalkan Doulton karena tidak kuat menerima kenyataan suaminya menikah siri dengan Helen wanita yang menjadi sekertaris Doulton di kantor.
Maria tidak terima ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan selama pernikahan mereka.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Bragi kepada Leni.
"Aku mau uang. Aku butuh uang." Desak Leni yang datang tanpa mengetuk pintu dan membuat janji.
"Uang ... Uang dan uang terus. Kamu ini seroang istri pengusaha, tapi kenapa selalu kekurangan uang?" teriak Bragi.
Leni menikah dengan seorang pengusaha dan mendapatkan seorang putri yang cantik. Namun, entah kenapa kehidupan Leni selalu kekurangan uang.
"Aku tidak bisa meminta uang darinya. Karena apa yang telah dia berikan sudah habis oleh ku. Aku tidak berani meminta uang kepadanya lagi." Leni memberikan alasannya.
Bragi hanya bisa bertolak pinggang dan menggelengkan kepalanya karena adiknya sangat banyak memakan uang perusahaan.
"Dengarkan aku Leni. Perusahaan saja kondisi keuangannya sedang menurun. Kamu harus menekan gaya hidupmu. Jangan selalu mengikuti tren." Bragi mulai emosi.
"Menekan gaya hidup? Haruskah? Bukannya seharusnya kakak yang menekan diri agar tidak selalu gonta-ganti pasangan dan memberi mereka banyak uang?" Leni meneriaki kakaknya.
"Hah, kamu sudah berani denganku? Dengar aku akan membatasi uang untukmu. Ingat di sini kamu hanya memiliki dua puluh persen saham. Dan hotel dalam kondisi tidak baik saat ini. Jangan kamu bolak-balik meminta uang kepadaku." Bragi selesai bicara dan mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang untuk adiknya.
Leni menerima notifikasi uang masuk dan dia langsung pergi meninggalkan Bragi setelah menerima uang yang diinginkannya.
Bragi begitu kesal dengan sikap Leni yang sangat haus akan uang. Dia bahkan iri kepada Viko yang memiliki adik seperti Tamara yang tidak pernah merengek masalah uang. Tamara bahkan membantu Viko mengelola resort dan juga tamu yang datang ke tempat wisata yang dimiliki keluarga mereka.
Tok tok tok
Pintu ruangan Bragi diketuk oleh seseorang dan orang itu muncul dari balik pintu dengan pakaian yang cukup menggoda.
"Aku tahu kamu pasti sedang kesal dengan kelakuan adikmu itu. Aku akan memberikan ketenangan untukmu."
Sekertaris Bragi masuk ke ruangan dan langsung menggerayangi tubuh atletis Bragi. Tanpa menunggu lama dan tanpa aba-aba Bragi langsung melahap dengan buas t*buh sekretarisnya yang cantik dan s*xy.
Mereka bermain di balik ruangan yang ada di dalam ruangan kerja Bragi. Memiliki sebuah ruangan rahasia dengan kasur dan kamar mandi di dalamnya membuat Bragi leluasa melakukan berbagai hal di sana.
Bragi semakin liar ketika sekretarisnya mulai menari diatas t*buhnya dengan goyangan erotis yang membuat kej*nt*nannya semakin mengeras dan semakin dalam memasuki goa milik sekretarisnya.
D*s*han yang kuat terdengar oleh telinga mereka berdua saja. Ruangan dibuat kedap suara karena memang Bragi tidak mau privasinya diganggu dan tercium oleh orang lain. Bragi selalu membungkam mulut mereka semua dengan mengancam akan memperlihatkan Video sensual mereka saat diatas ranjang. Itu membuat para gadis tidak berani bicara tentang dirinya kepada siapapun.
Bragi dikenal sebagai pemimpin yang sangat baik bak malaikat. Namun, iblis penuh n*fsu saat dibelakang layar.