
Silla menekuk wajah nya diatas meja. Papahnya melarang dia untuk keluar dari kamar. Alasannya karena dia masih dalam masa pingitan. Helowww, ini 2020. Dikira jaman Siti Nurbaya dipingit segala. Muka bule model pingitan, memikirkan nya membuat Silla kesal sendiri.
Silla berdiri menuju pintu untuk menggedornya.
"Maa, Pa.. bukainn. Silla laper."
Ceklek.
Dua asisten rumah tangga membawakannya makanan. Ia melongo, bukan hanya makanan berat namun juga snack lengkap ditangannya.
"Mbaa, bilangin papah saya dong. Saya sakit, butuh rumah sakit."
Kedua asisten tersebut saling menatap, sedetik kemudian muncul sesorang dengan pakaian dokter.
"Nggak perluh rumah sakit, saya yang akan mengecek kondisi tubuh nona setiap saat."
Apa lagi ini, macam kantong dora emon aja semua udah ada. Silla berfikir keras, dia bukan tipe perempuan yang mau anteng diam begitu saja.
"Tapi sakit saya parah dokter.. saya harus meminum darah kalajengking supaya saya tidak menjadi monster."
Dokter itu tersenyum, "Maksud nona ini?"
Silla melompat berlari diatas sofa.
"Jauhin!!!"
Dokter itu memegang kotak yang penuh kalajengking didalamnya.
"Bukannya nona harus minum darah kalajengking??"
"Mba, bude, dek, kakak siapapun jauhinn itu!!!!!"
"Ehem." Elden berdehem.
Silla turun dari ranjang dan berlari menghambur kepelukan papahnya.
"Papahhh hikss.."
"Kenapa jadi cengeng begini kamu?"
"Hikss, Dita nggak betah sebulan dikurung terus dikamar pahh hiks hikss.."
"Kamu masih dipingit Dita."
"Orang Dita nggak mau nikah! Papah aja yang dipingit sana!"
Elden tertawa mendengar putri nya menangis. Dia mengelus surai putrinya.
"Baiklah papah izinin kamu keluar."
Silla melepas pelukannya girang dan menghapus air matanya.
"Beneran pah?!"
"Dengan kawalan bodyguard tentu nya."
"Yahh.."
"Gimana?"
"Yaudah deh, tapi satu aja."
"Lima."
Silla melongo mendengar ucapan Elden, dikira ia mau kondangan apa bawa rame - rame.
"Banyak banget, dikira mau kondangan."
"Lima atau batal."
"Okei deal."
Kemudian muncul lima pria berjas hitam. Silla hampir saja ngiler melihat para bodyguard yang akan menjaganya. Tampan sekali.
"Mereka yang akan menjaga kamu."
"Makasih Pah."
Silla mencium pipi Elden, dan menghampiri kelima pria itu.
"Ayo kita pergi!!!"
"Silla pergi dulu pahh!!!" Teriaknya.
Sementara Elden tersenyum melihat tingkah putri bungsunya.
***
Silla senang hari ini ia bebas menghirup oksigen. Ia mengendarai mobil nya dengan senang, ia harus berkeliling kota Jakarta hari ini.
Ia melirik ke spion mobil, dari belakang ia dikawal satu mobil hitam. Ia tak ambil pusing, ia melajukan mobilnya ke mall besar.
Mobil nya terparkir, begitu juga dengan bodyguard nya. Mereka turun dan berjalan dibelakang Silla. Orang - orang memperhatikan Silla sedari tadi.
"Kenapa jadi malu sih." Lirih nya.
Silla berhenti dan menoleh ke belakang sebentar, para bodyguard juga berhenti diam ditempat. Akhirnya Silla menghampiri.
"Heh kalian!"
Silla bersedekap dihadapan ke lima pria tersebut.
"Ada apa nona?"
"Nama kalian satu - satu!"
Silla menunjuk pria paling pojok sebelah kiri.
"Albert Matthew."
Silla menganggukan kepala.
"William Johnson."
"Lanjut!"
"Jack, Jack Anders."
"Sean Napolleo."
"Yang terakhir kamu!"
"Shawn Clwas."
Silla berjalan dengan diikuti bodyguard nya ke sebuah toko pakaian. Wanita itu mengambil beberapa pasang pakaian dan memberikannya kepada mereka.
"Pakai, itu perintah!"
Mereka membungkuk setengah badan. Silla seketika malu dilihat banyak orang.
"Bangun woi! Malu astaga. Udah cepetan ganti jangan lama - lama!"
Setelah cukup lama mereka keluar bersamaan. Silla hampir lepas kontrol melihat kelima pria itu keluar dengan sangat tampan.
lbert terlihat manis dengan pilihan kemeja kotak - kotak biru dengan dalaman kaos putih dan celana panjang abu - abu. Ujung celana dan lengan nya ditekuk membuat Albert sangat tampan.
William jatuh dengan kemeja hitam dan celana abu - bau, satu kancing kemeja dibuka membuat kesan lebih sexy dan tampan. Jangan lupakan tatapan mata nya yang tajam, membuat semua wanita tunduk dengan tatapannya.
Jack dengan kemeja putih dan celana putih nya membuat kesan dewasa dan sexy jatuh pada dirinya. Belum juga senyuman maut nya yang membuat siapapun tergila - gila pada Jack.
Sean, si manis dengan sejuta pesona jatuh dengan kemeja biru dongker dengan lengan digulung selutut dipadukan dengan celana hitam membuat terlihat lebih sexy dari sebelumnya.
Yang terakhir adalah Shawn, paling irit bicara. Ya memang semua irit bicara sih, nah yang satu ini lebih - lebih irit bicara. Bahkan tak pernah tersenyum. Tapi sekali senyum kelar idup lo..
Silla cukup puas dengan mahakarya nya.
"Nah gini kan gue nggak malu."
Silla ke kasir untuk membayar. Setelah itu ia menuju restaurant untuk mengisi perutnya.
"Mba!"
Silla memanggil pelayan.
"Kalian suka nasi goreng kan?"
Mereka hanya diam, Silla mengembuskan nafasnya. Percuma mereka seperti robot.
"Nasi goreng 6, udang bakar porsi jumbo, sama minumnya es teh aja deh mba."
Pelayan itu tersenyum dan pergi.
"Eh lo siapa namanya."
Silla menunjuk pria berkemeja coklat.
"Lo supirin gue ya, gue agak nggak enak badan kayanya."
"Baik nona."
"Sip."
Makanan akhirnya datang, pelayan menyajikannya dimeja.
"Makan, kalian harus temenin gue makan!"
"Baik nona."
**
Setelah kenyang Silla menyerahkan kunci mobil nya kepada Shawn. Ia merasa berat sebelah kepalanya.
"Pulang?"
"Heemm.."
Shawn menyetir membawa mobil kembali ke mansion. Macet. Silla benci macet, ia memutuskan untuk memejamkan matanya.
Shawn melirik nona nya yang tertidur, Silla tidur membuka mulut dan liurnya jatuh dipipi.
Mobilnya sudah sampai di mansion. Shawn sendiri tidak enak membangunkannya. Ia lebih memilih untuk menunggu Silla bangun.
Silla mengelap liur nya dan membuka mata. Ternyata ia masih dimobil bersama Shawn.
"Kenapa nggak bangunin!" Kesal Silla.
"Saya takut mengganggu tidur nona."
"Halah, bilang aja mau lirik cewek cantik tidor."
Silla percaya diri mengatakannya.
"Maaf nona, saya tegaskan saya bekerja secara profesional disini atas keinginan tuan Elden."
"Suka - suka lo tuan bebek."
Silla masuk ke mansion dan naik ke kamar. Dia mengantuk sekali setelah seharian jalan - jalan.
"Gimana jalan - jalan nya?"
Elden berdiri didepan pintu kerjanya.
"Seru, tapi nggak asik mereka kaku."
"Nggak seru tapi kamu rubah pegawai papah seenaknya."
"Yakan mereka bodyguard aku pahh."
"Aku ke kamar dulu ya pah.."
Silla naik keatas dan melempar tas nya sembarangan. Ia merebahkan badannya yang pegal.
Dret dret..
Ia membuka ponselnya, sebuah pesan masuk dengan nomor tidak dikenal masuk.
Inget, sebentar lagi kamu menikah jaga etika kamu.
Ia berdecih kesal, etika? Berani sekali dia menilai etika Sisillia Pradita Rutheger. Ia yakin bahwa pesan singkat ini adalah Louis.
"Cih, butuh pelajaran banget si tempe orek. Liat aja besok, gue bacok wajah jeleknya!!"
Silla yang kesal melempar ponselnya dan menarik selimutnya sampai menutupi tubuh.