
sinar matahari menyorot masuk ke dalam celah-celah jendela kaca. Silaunya membuat seseorang terbangun.
Melinda bangun dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Ah, kenapa kepalaku sakit sekali. Rasanya pusing." Melinda menoleh ke arah Jonathan.
"Aaaaaaaa!" teriaknya ketika melihat Jonathan.
Melinda berteriak untuk mengambil simpati Jonathan. Dan tidak membuat Jonathan menjadi curiga dengan sikapnya.
"Kenapa kamu ada di sini dan bersamaku? Apa yang telah kamu lakukan. Lebih tepatnya apa yang kita lakukan di sini? Dimana bajumu?" tanya Melinda.
Jonathan yang mendengar teriakan Melinda langsung terbangun dan melihat sekitarnya.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya jonathan sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Aku seharusnya yang bertanya seperti itu, mas! Kenapa kamu dan aku ada di kamar ini? Jangan-jangan." Melinda melihat pakaiannya yang sudah compang-camping.
"Mas, sehina inikah dirimu? Kamu telah melakukan perbuatan kotor kepadaku! Kenapa kamu lakukan ini, mas?" Melinda terus bertanya sambil berteriak frustasi.
"Jangan konyol kamu Melinda! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Karena aku bukan manusia yang mudah melakukannya." tegas Jonathan dengan wajah yang panik.
"Kamu masih mengelak, mas? Lihat ini. Pakaian kita sudah terbuka. dan kita berada dalam satu ranjang yang sama. Kamu sungguh keterlaluan, mas. aku akan membuat dirimu mempertanggung jawabkan semua ini. Aku akan mengadukan dirimu kepada Dinniar dan juga papa. Aku kira kamu sangat mencintai Dinniar. Ternyata kamu juga tipe pria mata keranjang!" Melinda turun dari tempat tidur dan bergegas pergi keluar kamar.
Melinda menutup dirinya dengan handuk yang dia ambil dari kamar mandi. Setelah dia menutup pintu kamar. Melinda langsung menyunggingkan senyuman. Rasa puas menjalar di seluruh tubuhnya.
Melinda juga sudah meminta orang untuk mengambil beberapa gambar dirinya dengan Jonathan tidur bersama. Dia juga meminta seseorang untuk memvideokan seakan itu adalah rekaman CCTV.
Melinda langsung pergi masuk ke kamar lainnya. Dia mengganti pakaian dan segera pulang. Melinda mengendarai mobilnya dengan hati yang riang gembira. Dia senang sekali melihat kepanikan di wajah Jonathan. Dia juga tidak sabar untuk menemui papanya dan menceritakan segalanya. Dia ingin papanya segera bertindak sesuai rencana kedua.
"permainan sudah dimulai. Kamu tidak akan bisa menolak aku lagi mas. Aku pastikan kamu akan menikahi aku segera. Atau aku akan menghancurkan nama baikmu." Melinda lalu tertawa keras di dalam mobilnya.
Sifat jahat Melinda sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga dia tidak bisa lagi berbuat baik. Ambisinya membuat dia selalu harus memenangkan apapun yang dia inginkan. Dia tidak pernah puas diri atas apa yang telah dia capai dan telah dia miliki. Gadis yang pintar, bahkan dia terkenal banyak memenangkan tender selama di luar negeri.
Melinda memasuki gerbang rumah kedua orang tua angkatnya. Dia lalu turun setelah memarkir mobilnya. Melinda berlarian masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil papanya.
"Papa ... Papa." teriaknya memanggil.
"Ada apa Melinda?" papanya keluar dari ruang baca dan menyahut panggilan anaknya.
"Semua sudah sesuai dengan rencana pertama." kata Melinda dengan wajah yang sangat senang.
"baguslah. Kalau begitu yang harus kamu lakukan adalah berakting di depan mamamu. buat dia percaya kalau kamu mengalami pelecehan. Dengan begitu kita bisa jalankan rencana kedua." pinta Syam.
"Hemm, baiklah. Aku masuk ke kamar dulu dan kita lanjutkan."
Melinda masuk ke dalam kamarnya dan Syam masih berdiri di posisinya saat ini.
"Lihatlah. Aku akan menghancurkan anakmu dan merebut hotel. Apapun itu. Hotel seharusnya menjadi milikku sejak dulu." sungut Syam sambil menyeringai.
"Sayang, Melinda kamu kenapa? Kenapa kamu langsung mengunci pintu kamar? Melinda buka. kenapa kamu menangis Melinda." Syam memulai aktingnya.
Dia berlari ke kamar Melinda dan mengetuknya dengan histeris. Mendengar teriakan dan ketukan pintu yang intens membuat istrinya beranjak dari kamar dan menghampiri.
"Sayang. Ada apa dengan Melinda? Kenapa kamu histeris begini?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu. Dia tadi aku lihat pulang dengan berlarian dan langsung masuk ke dalam kamarnya sambil samar-samar aku lihat dia sedang menangis." tutur Syam.
"Menangis? kenapa dia menangis? Bukannya seharusnya dia pulang dengan wajah senang. Katamu dia pergi berpesta dengan rekan-rekan kerjanya." wajah ibu mana yang tidak panik dan hati ibu mana yang tidak cemas mengetahui anaknya menangis.
Suara anak kunci terputar mulai terdengar. Dan munculah wajah berantakan dari dalam kamar. Melinda matanya juga sudah sembab. Make up-nya sudah berantakan dan begitu juga dengan rambutnya.
"Astaga Melinda. Kamu kenapa? Apa yang terjadi kepadamu sayang?" mamanya berteriak histeris melihat keadaan sang putri.
"Mah, pah." Melinda terjatuh ke lantai karena tubuhnya yang lunglai.
"Sayang, ada apa sebenarnya? Kamu kenapa?" tanyanya lagi.
"Mah, tenang dulu. Biarkan Melinda tenang. Baru kita tanyakan apa yang terjadi kepada dia." Syam menatap istrinya.
"Melinda, ayo papa bantu kamu duduk di sofa." Syam memapah tubuh anaknya yang lemas.
Kamelia keluar dari kamar Melinda dengan membawa sisir dan juga handuk kecil.
"bibi, bibi." teriak Kamelia memanggil asisten rumah tangganya.
Segera seorang wanita tua menemuinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ya ampun. Non melinda. Ada apa ini?" dia terkejut melihat tampang Melinda yang tidak karuan.
"Sudah jangan banyak bertanya. Cepat ambilkan air minum dan juga air hangat untuk membasuh wajah Melinda." perintah Kamelia.
Asisten rumah tangga itu langsung berlari ke arah dapur. Dia mengambil air mineral dan juga mangkok berisi air hangat.
"Ini nyonya." ujarnya sambil menyodorkan gelas dan meletakkan mangkok di atas meja.
"Sudah kamu pergi dan kembali bekerja." usir Syam kepada wanita yang rambutnya sudah hampir putih semua.
"Melinda, sayang. Kamu kenapa?" Kamelia menitikkan air matanya. Dia tidak tega melihat kondisi sang putri yang berantakan.
Melinda masih memasang wajah bengong. Dia sengaja bersikap begitu agar terlihat mengalami guncangan yang dahsyat. Berkali-kali Mama angkatnya bertanya. Namun, tetao Melinda tak buka mulut.
"Melinda, Lihat papa. Ceritakan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Papa tidak bisa melihatmu seperti ini sayang." Syam menunjukkan wajah prihatinnya.
Melinda lalu menoleh ke mamanya dan papanya secara bergantian.
"Mah, pah. Maafin aku. Aku tidak bisa menjaga diri sendiri. Aku juga tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita." Melinda langsung menangis tersedu-sedu.
Kamelia langsung memeluk anak perempuan satu-satunya itu. Dia sudah mendengar perkataan putrinya, tapi tidak mengerti apa maksud perkataan itu.
"Melinda, apa maksud perkataan mu? Mama tidak mengerti sayang."
"Mah, mas Jonathan. Mas Jonathan ...," Melinda tersekat dan berhenti bicara.
"Jonathan? Ada apa dengannya?" tanya Kamelia sambil menangkap wajah putrinya dengan kedua tangannya.
"Dia telah merenggut kehormatanku." tangisnya pecah dan membuat Kamelia tercengang.
"tidak, tidak mungkin. Jonathan!" Kamelia langsung memerah wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan amarah.
"mas, kita harus menemui Jonathan dan meminta penjelasan darinya." ujar Kamelia yang sudah terjebak dalam permainan anak perempuannya dan juga sang suami.
"Mah sabar dulu. Jangan gegabah. Papa takut kita salah sangka." Syam bicara seakan dia sedang membela keponakannya.
"Apa kamu membelanya, mas? Apa kamu lebih membela keponakanmu dibandingkan Melinda yang hanya anak angkat mu begitu?" marahnya kepada sang suami.
"baiklah. Kita akan menemui Jonathan." Syam menuruti kemauan istrinya.