Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 131 - Rasa yang harus dilepaskan



Seharian ini mereka semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sekolah, bekerja di kantor mengurus perusahaan dan bekerja membuat evaluasi guru untuk Dinniar yang bekerja sebagai seorang kepala sekolah.


"Bu, Dinniar. ini absensi guru-guru di sekolah."


Seorang guru yang juga membantu untuk merekap absensi guru menyerahkan semua dokumen rekapan selama enam bulan terakhir. Sebelum liburan tiba. mereka akan memeriksa evaluasi kinerja guru. Itu semua di lakukan semata untuk membentuk disiplin dan tanggung jawab guru. Mereka akan memberikan apresiasi untuk para guru yang mendapatkan peringkat terbaik.


Dinniar sibuk untuk membuat evaluasi dan menyerahkannya kepada ketua yayasan yaitu sahabatnya sendiri.


Adrian yang tahu kalau sahabatnya hari ini dan dua hari kedepan sangat sibuk. Adrian membawakan dua gelas kopi dan beberapa cemilan sehat.


"Kita minum kopi dan juga makan cemilan dulu. Aku yakin kamu butuh amunisi agar bisa terus semangat." Adrian tersenyum sambil mengangkat satu gelas kopi yang dia beli dari cafe dekat sekolah.


"Kamu memang sahabat yang pengertian dan juga ketua yayasan yang sangat perhatian." Dinniar ikut tersenyum dan mengambil satu gelas kopi lalu menyesapnya.


"Bagaimana bulan madu kalian kemarin? apa sangat seru?" tanya Adrian sebagai basa basi.


Sebenarnya dia sangat tidak ingin menanyakan hal itu. hanya saja dia butuh pembicaraan pembuka.


"Ya, sangat menyenangkan. makanya kamu segera menikah. Agar bisa merasakan seperti apa bulan madu itu." Goda Dinniar kepada sahabatnya.


"Menikah? aku ingin, sayangnya aku tidak memiliki kesempatan untuk memiliki orang yang aku cintai." Adrian bicara sambil menyesap kopi miliknya.


"Lupakan wanita dari masa lalu itu. Buka perlahan hatimu dan lihat wanita lain. mungkin dengan cara itu kamu bisa menemukan jodohmu. wanita yang tak bisa kamu miliki itu sudah pasti bukalah jodohmu." Dinniar bicara seolah sedang menasehati seorang sahabat. namun, sebenarnya dia sedang menasehati pria yang menaruh hati kepadanya. hanya saja Dinniar pura-pura tidak tahu.


"Bicara itu mudah, tapi melakukannya itu sulit." sanggah Adrian.


"sulit karena kamu selalu membandingkan wanita lain dengan wanita yang ada di hatimu. coba kamu tidak membandingkan dan coba kamu membuka hati. pasti ada wanita baik selainnya di sekitarmu." tutur Dinniar.


"Hei, kenapa kita jadi bahas aku? tadi kita sedang membahas kamu. hah sudah lah percakapan ini tidak seru. kita bicarakan hal lain saja. Hadiah apa yang akan kita persiapkan untuk guru terbaik dan terajin?" tanya Adrian untuk mengalihkan percakapan mereka berdua.


Dinniar tertawa kecil. dia tahu Adrian sebenarnya sangat tidak ingin membahas tentang dia dan perasannya. hanya saja Dinniar mau sahabatnya itu melepaskan dia dari hati Adrian. Dinniar tidak mau kalau sahabatnya itu menjadi bujang lapuk selamanya.


"Sepertinya kita akan lihat kondisi keuangan yayasan dulu. Aku tidak bisa memberikan saran hadiah sebelum kamu memberikan budget untuk acara ini." Dinniar kembali tersenyum.


"Untuk hadiah guru aku akan memberikan dua juta setiap guru dalam bentuk tunai, dari uang pribadiku. Sedangkan untuk guru terbaik dari yayasan akan memberikan satu buah laptop. bagaimana menurutmu?" tanya Adrian.


"Jika itu tidak memberatkan yayasan dan juga dirimu. aku hanya bisa menyetujuinya." Ucap Dinniar.


"aku rasa seorang guru sudah sangat bekerja kerasa agar muridnya menjadi yang terbaik. sudah pasti juga kita harus memberikan yang terbaik untuk mereka semua. Guru sudah banyak tanda jasanya untuk kita semua. Jadi kita buat mereka semakin bersemangat untuk menjadi seorang guru terbaik dalam mentransfer ilmu kepada murid kita semua."


Adrian memang seorang pemilik yang tidak pelit akan materi. Dia juga sering membantu beberapa guru yang sedang kesulitan. Dinniar kagum dengan sikap Adrian, tapi tidak pernah bisa membuat dirinya jatuh cinta.


"Kita bicarakan lagi nanti. Aku ada keperluan mendesak. Kamu untuk dulu beberapa kriterianya. Setelah itu kirimkan kepadaku." Adrian bangun dari duduknya.


"Baiklah. aku akan mengaturnya. ingat pesanku untuk melepaskannya dari dalam hatimu. Jangan menunggu atau berharap lagi kepadanya. karena itu hanya akan membuatmu semakin jauh dari jodohmu." Pesan Dinniar lagi kepada Adrian sebelum sahabatnya itu keluar ruangannya.


Adrian melangkah keluar dengan perasaan yang sedih. Dia mendengar dari mulut wanita yang dia cintai tentang bagaimana harus melepaskan. Adrian sadar dia tidak mungkin mudah melepaskan atau membuang perasaan itu begitu saja. Perasaan yang dia miliki bukanlah perasaan sepele atau perasaan biasa. Cinta itu sudah sangat melekat dihatinya. bahkan dirinya sempat berpikir untuk menantikan jada sahabatnya sendiri. Namun, sayangnya setelah sahabatnya menjanda. dia masih harus terus menyembunyikan perasaannya.


Adrian sangat tidak beruntung karena dua kali sudah dia di serobot oleh pria asing yang hadir di hidup sahabatnya. sedangkan dia yang selalu setia menemani malah tidak bisa sedikitpun mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Dinniar.


Adrian dengan mengendarai mobilnya keluar dari halaman sekolah. Dia pergi menuju suatu tempat yang akan dia kunjungi.


"Aku akan segera sampai. tunggulah di sana." Adrian menerima telepon dari seseorang.


Adrian menginjak pedal gas mobil sehingga mobilnya melaju dengan cepat menerobos jalan tol yang masih sepi.


Adrian memarkir mobilnya di sebuah halaman parkir sebuah restoran besar. Dia keluar dari mobilnya dan tak sengaja menabrak seorang wanita muda yang berpakaian sederhana.


"Maaf, aku tidak sengaja. Ini kunci mobilmu." Adrian sempat membungkuk setelah menabrak wanita muda itu, untuk mengambilkan kunci mobil.


"Terima kasih. maaf aku tidak hati-hati saat keluar dari mobil. sekali lagi aku minta maaf." katanya sambil terus membungkuk.


Adrian lalu tersenyum karena lucu melihat tingkah wanita itu. "Tidak perlu meminta maaf. karena aku juga tidak hati-hati tadi. Ah, aku permisi dulu karena ada urusan." Adrian berpamitan dan berjalan mendahului wanita itu.


Wanita muda itu tersenyum. "Baru kali ini aku lihat pria sesantun itu. dia bahkan tidak marah karena kelalaianku." gumamnya setelah Adrian menghilang dari pandangannya.


setelah beberapa lama dia melamun karena terlalu fokus kepada Adrian. Wanita muda itu mendengar dering ponselnya.


"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon dan berlari menuju ke dalam restoran.


Dia berlari hingga nafasnya tidak beraturan dan berhenti di salah satu meja yang sudah di pesan oleh ayahnya.


"Maafkan aku terlambat ayah." Ujarnya dengan nafas yang masih turun naik.


"Sudah kamu duduk dan atur napas dulu. setelah itu perkenalkan anak dari teman ayah ini." Ujar pria paruh baya itu.


Setelah napasnya normal dan degup jantungnya sudah tidak berdetak begitu cepat. Wanita itu menatap pria yang ada di hadapannya.


"Kamu?" ucapnya.


"Hem ... ternyata kamu anak om Batara?" tanyanya.


"Ya, aku Adelia." ucapnya memperkenalkan diri.


"Aku Adrian."


mereka berkenalan dan berbincang bertiga dengan sangat seru.