
salsa diancam oleh Cornelia rahasianya akan di bongkar. salsa menjadi ketakutan. dia takut jika suaminya tahu kalau dia bukanlah salsa yang sebenarnya. dia adalah boneka yang disimpan oleh Cornelia di rumah Darius untuk memuluskan rencana balas dendamnya.
"aku tidak mau kehilangan mas Darius. aku sangat mencintainya." salsa beranjak dari tempat duduknya dan lekas pergi keluar rumah.
Salsa menggunakan mobil yang dia beli dari hasil jerih payahnya selama menjadi seorang model di perusahaan agency milik Darius. salsa sangat bekerja keras hingga dia bisa membeli mobil. namun, sayangnya sang ibu tak lama penyakitnya kambuh lagi meski tidak separah dulu. biaya untuk rumah sakit ibunya di tanggung oleh Cornelia meski dia sudah menikah dengan Darius. karena Darius tidak tahu kalau sebenarnya salsa yang hidup bersamanya kini masih memiliki seorang ibu.
salsa pergi ke suatu tempat dan dia menabrak trotoar. dia meminta tolong seseorang untuk menolongnya. dan perutnya terasa nyeri. dia benar-benar kalut dan takut menghubungi Darius.
"Halo, tolong aku. aku mengalami kecelakaan. dan perutku terasa keram. aku takut terjadi sesuatu kepada janinku." dia bicara sambil menahan sakit dan meringis.
salsa menunggu orang itu untuk datang menemui dirinya. dia menunggu dengan rasa sakit di kepalanya. dia menjaga kandungannya dengan benda yang bisa melindungi perutnya dari benturan keras.
"Apa aku benar-benar harus melakukan ini? aku benar-benar putus asa. aku sangat takut." lirihnya sambil berlinang air mata.
tidak lama setelah dia bergumam seorang diri di dalam mobil. seseorang mengetuk jendela mobil. salsa pun menoleh dan membuka kaca mobilnya.
"Aku tunggu kalian di gedung itu. ingat jangan macam-macam atau aku akan bongkar rahasia mu."
Cornelia mengetahui kalau wanita yang dia jadikan pengganti dirinya sudah jatuh cinta kepada pria yang dia pernah nikahi. Cornelia mengancam salsa dengan hal itu. karena dia tahu bagaimana perasaan cinta yang sedang bersemi. pasti tidak akan pernah ingin terpisahkan. perasaan cinta yang sedang menggebu-gebu itu akan membuat orang salah arah.
salsa hanya bisa mengangguk perlahan. dia berusaha tenang di depan Cornelia agar tidak dicurigai. Cornelia berjalan menuju sebuah gedung ruko kosong yang dia sulap menjadi klinik.
"salsa." Dinniar sampai di tempat salsa mengalami kecelakaan.
"Dinniar, tolong aku. aku takut dan kesakitan. mas Darius tidak bisa di hubungi. aku takut sekali." salsa menangis.
tangisannya bukanlah air mata buaya. dia benar-benar dalam rasa ketakutan dan kesakitan. dia dibantu Dinniar untuk keluar dari dalam mobil. dan dia berhasil diselamatkan.
"Bawa aku ke klinik di gang sana. setahuku ada klinik di sana. kalau ke rumah sakit. akan memakan waktu. aku takut terjadi hal buruk kepada janinku." salsa memohon kepada Dinniar.
"kamu yakin di sana ada klinik?" tanya Dinniar.
salsa pun mengangguk. Dinniar yang datang sendirian memapahnya menuju ke gang yang sedikit terpencil itu. di sana terdapat beberapa ruko yang jarang berpenghuni.
"Perlahan saja jalannya. jangan terlalu cepat." pinta Dinniar yang khawatir dengan kondisi salsa.
"Salsa, kenapa kamu menyetir sendiri? memangnya kamu mau ke mana? kalau sedang hamil jangan pergi sendirian. aku terkejut mendengar kamu hamil, tapi sekaligus senang karena Tasya akan punya adik dari pihak papanya." Dinniar tersenyum kepada salsa.
melihat senyuman Dinniar membuat salsa semakin merasa bersalah dan perasaannya tak karuan. sebelum mendekati arah ruko yang menjadi tempatnya janjian dengan Cornelia. salsa menghentikan langkahnya.
"Dinniar, kita berhenti di sini. kamu pergilah. aku akan masuk sendirian." salsa melepaskan tangannya dan meminta Dinniar pergi.
"Tidak perlu. aku bisa sendiri. aku mohon pergilah dari sini." salsa mendorong tubuh Dinniar hingga mantan istri suaminya itu mundur tiga langkah dari hadapannya.
"aku mohon, pergilah." salsa menitikkan air matanya.
Dinniar hanya bisa mengikuti apa yang menjadi kemauan salsa. dia langsung pergi dan keluar dari gang. saat melihat Dinniar tak ada. dia berjalan menuju pintu dan terdiam sejenak di sana.
perlahan dia buka pintu dengan perasaan takutnya. lalu tak berapa lama dia melangkahkan satu kakinya masuk. di dalam sana ternyata Cornelia sudah menunggu.
"Kamu datang juga. di mana Dinniar?" tanya Cornelia sambil memeriksa apa ada yang datang selain salsa.
"Dia sudah pergi." jawab salsa sambil wajahnya tertunduk.
"Pergi? apa maksudmu?" tanya Cornelia yang kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Salsa.
"Aku menyuruhnya pergi." ujarnya sambil mengepalkan kedua tangannya mengumpulkan keberanian.
"Dasar perempuan bodoh! kenapa kamu menyuruhnya pergi!" teriak Cornelia dengan sangat lantangnya.
"maafkan aku. aku tidak bisa membuat dia masuk dalam jebakan ini. aku merasa bersalah kepadanya. dia adalah wanita yang sangat baik." jelas salsa.
"wanita yang baik? apa aku tidak salah dengar? dia itu jahat! dia membiarkan aku yang sedang mengandung mendekam di penjara. padahal aku sudah memohon kepadanya." jelas Cornelia yang menyimpan dendam kepada Dinniar.
Cornelia mendekati salsa dan mencengkram rahangnya dengan kuat. salsa terlihat kesakitan dan pemandangan itu menyenangkan bagi Cornelia.
"karena kamu yang telah menggagalkan rencana ini. maka kamu yang akan menggantikan wanita itu. aku tidak suka kepada pengkhianatan. kamu sudah membuat aku marah dan kecewa. aku juga tidak suka kamu mencintai mas Darius." ucapnya.
salsa terkejut. dia benar-benar semakin ketakutan. Cornelia lalu menghempaskan salsa dengan kuat hingga wanita itu tersungkur dan terjatuh. entah mengapa dia terlihat begitu sangat lemas sekali.
Cornelia menyalakan obor yang sudah dia siapkan. lalu membuang obor yang sudah berapi itu ke lantai basah yang sudah dia siram dengan minyak tanah. api seketika menyala di dalam ruangan itu.
"Silahkan nikmati panasnya kobaran api ini!" Cornelia melewati salsa yang sudah tergeletak lemah lalu keluar dan mengunci pintu dari luar.
"selamat tinggal wanita bodoh! setelah ini aku akan menggantikan posisimu menjadi salsa. aku akan melakukan operasi wajah yang sudah di jadwalkan oleh dokter." tawanya dengan sangat senang.
Cornelia memang berniat untuk menjebak salsa dan Dinniar masuk ke dalam ruko dan membakarnya. sedangkan dia akan menggunakan hal itu untuk menjadi alasan kalau dia merubah tampilan wajahnya karena rusak akibat terkena api yang panas.
Cornelia berjalan meninggalkan ruko yang apinya sudah mulai menyebar. sedangkan salsa yang terjebak berusaha bangkit untuk bisa keluar dari tempat berbahaya itu. salsa berjalan tertatih-tatih menuju pintu dan berusaha membukanya, tapi naas pintu itu sudah terkunci dari luar. Cornelia menyegel pintu itu dari luar dengan sebatang kayu. karena memang ruko itu terbengkalai dan beberapa properti sudah mulai rusak termasuk pintu.
akankah salsa selamat?