
Dinniar sangat membenci saat-saat seperti ini. Saat-saat dia tidak berdaya untuk mencegah semua perbuatan suaminya.
Dinniar menangis sendirian di dalam kamarnya. Dia sengaja mengunci kamarnya agar putrinya tidak melihatnya sedang menangis.
Kondisi hati Dinniar benar-benar terluka saat ini. Suaminya bahkan tidak memberitahukan keberangkatannya.
Hati dan tubuhnya terasa letih sekali. Dia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya. Berjuang sendirian demi keutuhan rumah tangga. Namun, ternyata suaminya tidak kunjung sadar diri.
Dinniar membuka kembali beberapa foto yang tersimpan di galeri ponsel miliknya. Dia berusaha untuk membenci suaminya, tapi ternyata cintanya masih lebih besar dari rasa bencinya.
"Mas, apa alasanmu sampai bisa berpaling dari ku? Apa salahku sehingga kamu membagi hati? Apa kurangnya rumah tangga kita sehingga kamu ingin membersamainya."
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Dinniar sambil terus memandangi gambar suaminya.
Dinniar nangis sesenggukan sambil menggenggam ponselnya. Air mata tumpah ruah membanjiri pipinya yang tirus.
Apa kurangnya aku? Apa salahnya aku? Pertanyaan itu terus dia ulang-ulang dalam hatinya.
Perasaan wanita yang begitu lembut langsung hancur kali ini. Meski sudah bertahan sekuat tenaga.
"Hancur sudah Mas semua impian kita. Kamu sendiri yang telah menghancurkannya." Dinniar merebahkan tubuhnya dan meringkuk diatas tempat tidur.
.
.
Darius dan Cornelia sudah sampai di Bali. Mereka langsung mencari beberapa keperluan mereka di Mall terdekat bandara.
"Sayang, boleh enggak kali ini kita enggak pakai itu?" Cornelia menunjuk kardus kecil di rak.
"Kalau kita enggak pakai. Kamu bisa hamil?" kata Darius.
"Sayang, kita bersama'kan karena mau punya keturunan. Berarti enggak masalah dong kalau aku hamil lebih cepat?"
"Sayang." Darius menghela napas.
"Jangan-jangan kamu enggak mau enggak mau punya anak dari aku dan enggak mau nikahin aku?" Cornelia memasang wajah kesal.
"Bukan ... Bukan begitu sayang, ini karena kamu masih punya banyak kontrak kerja yang belum selesai. Kalau kamu hamil mereka bisa batalkan kontraknya." Darius membujuk Cornelia.
"Baiklah, aku akan menunggu. Jadi sekarang kita beli itu?" Tunjuknya.
"Benar sayang satu kotak untuk kita selama di Bali." Darius membeli kotak kecil itu dan membayar belanjaan mereka di kasir.
.
.
Sinar matahari menyinari kamar Dinniar yang jendela kamarnya tidak tertutup.
Dinniar membuka matanya perlahan karena sinarnya menusuk mata. Dinniar bangun dengan terburu. Dia terkejut karena matahari sudah sangat tinggi.
Dinniar langsung mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Dia sudah sangat terlambat hari ini.
"Bi, Tasya." Dinniar memanggil putrinya dan juga baby sitter putrinya.
Tasya yang sudah cantik dan baby sitternya yang mendengar panggilan Dinniar langsung menghampiri.
"Sayang, maafin Mami." Dinniar langsung memeluk putrinya.
"Mami terlambat bangun dan terlambat untuk membuat sarapan." Dinniar sungguh menyesal.
"Mih, enggak apa-apa. Kan sudah ada Bibi yang bikinin aku sarapan. Pasti Mami semalam cape banget jadi terlambat bangun." Senyuman Tasya menenangkan hati Dinniar.
Dinniar mendapat notifikasi dari ponselnya. Dia langsung membukanya dan ternyata itu dari sekolah.
"Ya Allah. Ada apa ini?" Dinniar menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ada apa Mih?" tanya Tasya.
"Hati-hati Mami." Tasya mengecup pipi Dinniar dan itu sangat berharga baginya.
.
.
Dinniar yang pergi dengan motornya, langsung mempercepat laju kendaraannya.
Dinniar mengklakson mobil yang menghambat laju motornya. Jalan memang sedikit macet, tapi seharusnya motor masih bisa lewat dari pinggir.
"Aduh, kenapa sih mobil ini enggak mau kasih jalan sedikit ajah?"
Dinniar berusaha menyalip, tapi tidak berhasil. Alhasil dia harus menunggu sampai mobil itu berlalu.
"Aku sudah terlambat. Ada masalah di sekolah. Sungguh hari yang berat." Dinniar bicara sambil terus memperhatikan jalan dan kendaraan lainnya.
Saat macet sudah mulai longgar. Dengan cepat Dinniar kembali menjalankan kembali laju motornya.
Dinniar akhirnya bisa sampai di sekolah tempatnya bekerja sebagai kepala sekolah.
Dinniar langsung menuju ruangan pertemuan antara wali murid, murid dan juga pihak sekolah yang berkepentingan.
"Maaf, saya terlambat. Apa bisa di jelaskan dulu permasalahannya?" tanya Dinniar.
Dia orang siswi langsung saling mendahului ingin bicara. Dinniar menjadi pusing karena tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Tolong, satu persatu bicaranya. Mulai dari kamu Mika." Dinniar menunjuk salah satu siswi yang terlibat.
"Bu saya hanya bilang kalau dia tidak punya ibu dan ayah. Itu saja, tapi dia langsung ngegas gitu ke saya." Jelas Mika.
"Bohong Bu, dia bukan hanya mengatakan hal itu. Dia bilang saya anak yatim-piatu dari keluarga yang tidak jelas. Saya bukan kalangan dari mereka dan saya tidak berhak sekolah di sekolah bagus seperti ini." Jelas Alesya sambil menitikkan air matanya.
"Benar begitu Mika?" tanya Dinniar.
"Pasti itu bohong Bu Dinniar. Maaf saya ikut bicara. Saya bukan ingin membela putri saya, tapi saya tahu sifat putri saya," ujar salah seorang wanita yang merupakan ibu dari Mika.
"Bu, mohon maaf. Saat ini saya sedang mengintrogasi kedua murid terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita bisa berdiskusi mengenai permasalahan ini."
Dinniar mencoba agar situasi kondusif.
"Permisi." Seorang pria dengan tubuh atletisnya membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Dinniar.
"Perkenalkan, saya Jonathan. Saya Om dari Alesya."
Mendengar penuturan pria itu. Semua orang yang ada di ruangan terbelalak. Hanya ada Alesya yang mengembangkan senyumannya.
"Om." Alesya memeluk omnya.
"Perkenalkan. Beliau adalah Adik dari ayah Nona Alesya. Beliau salah satu donatur di sekolah ini. Pak Jonathan adalah pemilik stasiun televisi swasta." Adrian menjelaskan identitas Om dari salah satu siswanya.
"Mami dan Papi memang tidak pernah bisa hadir di sini. Karena mereka harus mengurus bisnis di Amerika." Alesya memberanikan diri untuk bicara.
"Saya dengar, keponakan saya di mengalami bullying di sekolah. Saya menyekolahkannya di sekolah terbaik, berharap hal-hal seperti ini tidak terjadi. Ternyata kualitas sekolahnya tidak terbukti." Jonathan mengedarkan pandangannya kepada Dinniar.
"Maaf, maksud Pak Jonathan?" tanya Adrian.
"Ya. Ternyata muridnya masih ada yang tidak memiliki sikap yang baik. Seharusnya jika memang sekolah ini memiliki kualitas. Seharusnya bisa mencetak generasi yang memiliki Budi pekerti." Jonathan meluapkan kekesalannya.
"Maaf, Pak. Mungkin kami masih lalai dalam mendidik anak murid kami. Sekali lagi saya mohon maaf." Dinniar mengajukan permohonan maafnya.
"Pak Jonathan. Saya kira permasalahan ini bukan hanya berhubungan dengan sekolah. Karena sekolah sudah berusaha yang terbaik. Banyak faktor lain yang membuat anak-anak kurang berprilaku baik. Karena mereka tidak hanya bergaul di sekolah." Adrian yang merasa sekolah miliknya di jelek-jelekan mulai tersulit.
"Jadi maksud anda, anak saya bergaul yang tidak baik di luar lingkungan sekolah?" Ibu dari Mika tidak terima dengan penuturan Adrian.
Apa yang akan dilakukan oleh Dinniar di situasi yang mulai memanas?