
Dua hari sudah Tasya menghilang entah kemana. Semua orang sibuk mencari Tasya ketempat yang mereka biasa datangi. Putri kecil itu hilang bak ditelan bumi.
"Haus ... Haus."
Sebuah teriakan lesu terus terdengar. Suara anak kecil yang berteriak haus itu semakin terdengar lemah.
"Kasih minum jangan? Kasian, nanti malahan mati lagi dia."
"Aah, nyusahin ajah'kan kalau menculik anak kecil. Udah gue bilang tolak ajah perintahnya. Pusing kalau anak kecil rewel." Sesal seorang penculik.
"Mau gimana lagi, Bang. kalau kita enggak culik dia. Kita enggak bisa dapetin duit buat makan. Lu tau sendiri'kan job kita lagi sepi."
Para penculik itu berdiskusi mengenai pemberian minum untuk anak kecil yang mereka culik atas perintah seseorang.
"Kasih ajah deh. Tuh di sana ada minuman botol yang belum di buka."
Akhirnya salah satu dari penculik bangun dari duduknya dan meraih satu botol minuman yang masih tersegel.
"Haus ... Haus ... Mamih tolong, aku mau pulang." Suara lirih itu terdengar lagi ditelinga sang penculik.
"Aaah!" Kesal penculik itu sambil mengorek lubang telinganya dengan jari.
Dia kesal mendengar rintihan anak kecil. Apalagi kalau sudah memanggil-manggil orang tuanya.
"Nih, minum. Abis itu diem ya. Jangan berisik, kalau berisik enggak gue kasih makan lu." Bentaknya sambil memberikan minuman dengan sedotan di dalamnya.
Penculik itu beranjak dari hadapan anak kecil itu. Dia melangkah ke arah pintu.
"Om, lepasin Tasya. Tasya mau ketemu Mami."
Suara anak kecil itu membuat dirinya semakin kesal dan membuat hatinya tersentuh entah kenapa.
"Jangan berisik! Minum saja, kami akan kembalikan kamu kalau orang yang memberi kami perintah mengatakannya. Jadi diam di sana dan jadilah anak manis."
Pria bertubuh kekar dan memakai rompi jeans itu keluar dari ruangan tempat dimana Tasya di kurung.
"Halo, Bos." Jawabnya.
"Siap, kami akan menjaga dan merawatnya."
Dia menutup telepon dan kembali ke sisi temannya yang dia panggil 'abang'.
"Kenapa?" tanya pria yang lain.
"Bos, dia suruh kita jaga anak itu. Bang Lo jagain dia ya. Gua beli nasi dulu buat kita makan."
Pria itu kembali beranjak dari duduknya. Dan segera pergi.
...****************...
Jonathan dan beberapa anak buahnya sudah menyusuri beberapa CCTV yang terpasang di sekitar. Mereka belum menemukan apapun terkait Tasya.
"Cari terus!" Teriak Jonathan.
Dia sudah sangat geregetan karena belum juga menemukan apa yang dicarinya. Sedangkan Alesya keponakannya terus mengontrol menanyakan tentang perkembangan pencarian Tasya.
"Kalian harus menemukan mereka segera. Aku mau hari ini juga ada titik terang."
Jonathan memberikan perintahnya sebelum pergi. Dia harus segera berangkat ke kantor untuk mengurus perusahaannya.
Jonathan adalah pria yang selalu menepati janjinya meski dia sibuk dengan perusahaan yang dia kelola.
Apalagi ini adalah permintaan keponakannya. Sudah pasti dia akan menurutinya dan segera melaksanakannya.
Sesampainya dia di kantor. Jonathan teringat akan Dinniar. Rasanya dia ingin menemui wanita itu dan menyampaikan kalau dia sedang membantunya. Namun, dia tidak mau terjadi ke salah pahaman seperti tempo hari.
Sebelum Dinniar dan Darius resmi bercerai. Jonathan sempat menjadi bual-bualan Darius yang menuduhnya mengompori Dinniar untuk bercerai. Padahal semua itu tidak benar. Dia hanya sekedar memberitahukan tentang perselingkuhan Darius yang dia ketahui saja. Bukan meminta Dinniar untuk bercerai meski sejujurnya dia senang karena Darius si pria brengsek itu mendapatkan pelajaran berharga