
Tasya dan Alesya berada di dalam kamar mereka berdua. alesya mengajak adiknya untuk duduk di tepi ranjangnya dan Alesya merangkul sang adik.
"Tasya, kamu tahu tidak kalau papa sangat sayang kepadamu?" tanya Alesya dan Tasya mengangguk dengan cepat.
"aku sangat tahu kok kak. makanya aku juga tahu kalau papa pasti juga merindukan kita berdua dan kita juga tadi pagi sudah setuju untuk pergi menemui papa di kantor dan makan malam bertiga. memangnya ada apa kak?" Tasya berbalik bertanya.
"lain kali kamu kalau mau ketemu dengan papi. telepon papa atau mami dulu. biar mami atau papa saling memberi kabar." pesan Alesya.
"aku kan, tapi hanya berniat untuk memberikan kejutan. hanya saja aku tadi juga tidak tahu kalau papi datang sebelum pak supir menjemput aku. itupun karena aku pulang lebih awal dari biasanya. makanya aku memutuskan untuk ikut papi yang katanya mau pergi ke kantor papa. apa aku salah?" tanya tasya kepada alesya dengan wajah mengkerut.
"Kamu tidak salah sayang. hanya sepertinya papa agak sedikit cemburu karena kamu akhir-akhir ini terlihat lebih nyaman dengan papi mu. dan papa juga sepertinya merasa kalau lebih banyak kenangan manis kamu dengan papi mu." Alesya memberikan penjelasan.
"jadi papa cemburu kalau aku terlalu dekat dengan papi? papa tidak perlu cemburu. karena aku kan pergi dengan papi semata karena papa. aku sudah menjelaskannya juga tadi saat aku berada di ruangan papa." elak tasya.
"mungkin papa hanya takut kehilangan tasya dan rasa sayang tasya untuk papa." jelas alesya.
"kalau begitu aku harus memberitahukan papa kalau papa adalah yang terbaik dan aku tidak akan kehilangan rasa sayangku untuk papa." tasya langsung turun dari kasur dan berlari keluar kamarnya.
tasya langsung mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. " Masuk." teriak dinniar dari dalam kamar.
"papa." Tasya langsung memeluk jonathan yang sedang membuka dasinya.
"ada apa sayang?" tanya jonathan dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tasya.
"papa, maafin aku ya. yang enggak bilang ke papa atau mami kalau aku pergi ke kantor dengan papi. papi datang untuk menjemput aku. dan om adrian sudah meminta papa untuk menghubungi mami atau papa. aku melarangnya karena mau memberikan kejutan untuk papa. papa jangan marah sama mami atau papi ya. papa juga jangan khawatir, tasya kan selalu sayang sama papa sampai kapanpun. aku sangat menyayangi papa. papa adalah idolanya aku. meski aku dekat dengan papi lagi, tapi tidak akan mengurangi rasa sayang aku ke papa dan tidak akan membuat papa kesepian." Tasya memeluk kembali jonathan.
dengan perasaan terharu. dinniar dan juga jonathan menitikkan air mata. ada rasa bersalah juga di hati jonathan yang memikirkan dirinya sendiri. " maafkan papa juga ya sayang. papa terlalu egois memikirkan perasaan papa sendiri." jonathan menangkup wajah tasya dengan kedua tangannya.
Tasya menggeleng pelan. "Papa tidak salah. papa begitu karena papa sangat menyayangi tasya dan aku sangat menghargai itu. aku sangat menyayangi papa juga."
Jonathan kembali memeluk tasya dengan erat. "papa sangat sayang sama tasya." Jonathan menghapus air matanya dan melihat ke arah istrinya sambil tersenyum lembut.
Dinniar kini begitu lega. suaminya sudah kembali tersenyum kepadanya yang berarti suaminya sudah tidak lagi menyimpan kesal kepadanya. dinniar sangat bersyukur sekali. dia lihat di ambang pintu alesya sedang memandang ke arah kamarnya.
"terima kasih kakak alesya yang pintar dan baik hati." Dinniar berbisik di telinga putrinya.
Alesya tersenyum. Dinniar tahu kalau semua ini karena alesya yang memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi. sama seperti waktu dinniar gelisah dengan kaburnya cornelia. alesya yang meyakinkan nya untuk tenang dan jangan terpancing dengan situasi itu. Alesya meyakinkan kalau dia kan menjaga diri dan juga menjaga adiknya. hal itu membuat dinniar menjadi tenang dan percaya kepada anak-anaknya. dan hari ini dia juga yakin kalau alesya yang sudah bicara kepada tasya mengenai kegelisahan yang di rasakan oleh jonathan.
Memiliki anak yang sudah beranjak dewasa membuat Dinniar sangat beruntung dan juga sangat bersyukur. Alesya bukan hanya seorang anak kini bagi dirinya. Alesya bisa menjadi sahabat yang menjadi tempat dia berbagi cerita. Dinniar merangkul putrinya. mereka kini kembali bahagia.
Selepas kedua putrinya keluar dari kamar dan kembali ke kamar mereka masing-masing. Jonathan memeluk istrinya dari belakang saat Dinniar sedang merapihkan seprai.
"maafkan aku sayang. aku terlalu egois. aku akan lebih bijak lagi. Maaf sikapku yang kekanak-kanakan." bisik jonathan sambil mengecup tengkuk Dinniar.
"Aku mengerti mas. Kamu hanya takut perhatian dan sayang Tasya beralih kepada mas Darius. meski mereka anak dan ayah. aku tahu Tasya tidak bisa memposisikan Darius di dalam hatinya seperti dulu saat kami masih menjadi keluarga yang utuh. perasaan kecewanya kepada Darius mungkin lebih besar dari pada rasa kecewaku kepadanya. Dia saat ini sudah menerima keadaan yang tak baik saja antara aku dan mas Darius. dia sudah mulai menata kembali hatinya. namun, hati yang sudah hancur itu meski sudah tersusun rapih. tetap akan menyisakan bekas yang terlihat jelas."
Dinniar membalikkan badannya dan dia langsung membalas pelukan suaminya dengan penuh manja.
"terima kasih sudah mengerti." Jonathan tersenyum lebar.
"kamu tahu mas. aku sangat takut melihat perubahan sikapmu tadi." Dinniar memberitahukan perasannya kepada Jonathan.
"maafkan aku. aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi. aku tidak akan pernah bersikap dingin seperti itu lagi." janji Jonathan.
"Pantas saja mas kamu menjomblo sangat lama. mungkin karena sikap dingin mu yang seperti itu. membuat orang merasa tidak nyaman dan takut." Dinniar menggoda suaminya dan terkekeh.
Jonathan menggelitik punggal istrinya karena diledek oleh Dinniar. "kamu ya, udah berani ngeledek aku kayak begitu. awas ya kamu." Jonathan terus menggelitik sampai Dinniar tertawa keras.
"ampun mas, ampun. aku nyerah. aku udah lemes." kata Dinniar menyerah.
"Aku akan bikin kamu tambah lemes malam ini. ini hukuman buat kamu yang udah beraninya ngeledek suaminya dan bilang jomblo. kamu tahu enggak aku menjomblo karena menunggu jandamu, tapi kalau ada kehidupan selanjutnya. aku akan buat kamu menjadi milikku lebih awal dan tidak akan aku biarkan kamu mengalami sakit yang begitu dalam dan aku akan menjadi papa biologis dari Tasya." Jonathan bicara sambil menatap manik mata istrinya lekat. Dinniar kembali tersipu. dia sangat tersanjung dengan perkataan suaminya.
Jonathan dan Dinniar memulai kemesraan mereka malam ini.