
mati lampu membuat semua orang merasa khawatir. karena padamnya lampu menandakan mereka sudah bersiap untuk beraksi. Surti berhasil membuat Tasya tertidur pulas sehingga tidak menggangu aktifitas mereka semua.
Alesya yang berada di kamar sebelah pun tidak hanya duduk diam diatas kasur. dia mencoba ikut mencari keberadaan kamera dan juga alat penyadap yang terpasang di setiap sudut.
Mereka mencari terlebih dahulu kedua alat tersebut agar bisa leluasa mencari tikus yang menyusup ke dalam rumah mereka.
Alesya menyentuh sesuatu yang janggal di bawah dipan kasurnya. dia menariknya dan memberikannya kepada seseorang yang menyusup ke dalam kamarnya.
setiap kamar akan ada dua sampai tiga orang yang masuk untuk mencari kedua alat tersebut. besarnya kamar dan banyaknya barang membuat mereka harus membawa lebih banyak anggota.
Di dalam kamar Dinniar dan Jonathan juga ikut membantu anak buah Rendy yang sedang mencari benda yang membuat hidup mereka menjadi rusak.
Dinniar meraba setiap sudut yang tidak membuat dirinya harus. berjongkok dan merunduk. Jonathan melarangnya melakukan itu. dia takut istrinya menjadi kelelahan.
"Di sini aku sudah menemukannya satu. Menurut Alesya mereka hanya menayangkan di sekitar ruangan dekat kasur saja." bisik Jonathan kepada salah satu anak buah Rendy.
Mereka yang menyusup ke dalam rumah adalah orang-orang inti dari anak buah Jonathan dan Rendy. mereka yang sudah bekerja sekitar sepuluh tahun ke atas adalah orang-orang yang sangat bisa di percaya.
Tiga puluh orang dikerahkan untuk menyusup lewat pintu belakang yang sudah di siapkan oleh BI Imah.
BI Imah juga di dalam kamarnya berusaha membantu untuk menemukan setiap alat yang membuat tidak nyaman setiap orang yang ada di dalam rumah.
Mereka semua selesai mengumpulkan beberapa kamera dan alat penyadap suara. Mereka kembali berkumpul sebelum lampu kembali di nyalakan.
Jonathan yang memegang kendali untuk menyala dan matikan lampu seluruh rumah termasuk lampu yang ada di luar rumah. dia kembali menyalakan lampunya setelah mereka semua aman.
Lampu yang telah menyala menandakan semua orang dan juga rumah yang mereka tempati telah aman.
dunia dan Jonathan langsung keluar dari kamarnya dan menemui Alesya di kamar.
"sayang sepertinya semuanya sudah berlalu. semua ini berkat dirimu. Kalau kamu tidak bercerita apapun kepada kami berdua Pasti mami dan Papa tidak akan pernah tahu kondisi yang sedang terjadi di rumah ini." Dinniar tersenyum kepada Alesya.
Alesya menjadi tersipu malu karena dipuji oleh maminya dan papanya.
"kalau begitu kita semua sudah aman sekarang?"tanyanya kepada Jonathan.
"kita semua sudah aman, tapi ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan." ujar jonathan.
"apa?" tanya Alesya.
"maka itu akan terhubung ke ponsel milik papa. anak buah Papa sudah mengatur semuanya. kamu tidak perlu takut. Kamu bicara seolah-olah kamu benci kami berdua. apa berharap kamu bisa memancing ya untuk keluar dari persembunyiannya agar kita tahu siapa yang melakukan ini kepada keluarga kita." kata Jonathan.
"baik kalau misalkan wanita misterius itu menghubungi aku aku akan mengangkatnya dan berusaha semaksimal mungkin tidak membuatnya curiga." jawab Alesya.
"ya sudah sekarang kamu tidur dulu besok kamu akan kembali sekolah." Jonathan menutup pintu kamar Alesya dan kembali ke dalam kamarnya bersama dengan Dinniar.
"Sayang apakah kita perlu memeriksa sekali lagi apakah masih ada yang tertinggal?" tanya Dinniar.
"kamu tenang saja semuanya sudah beres semuanya sudah dipastikan aman. alat-alat itu tidak mungkin berbohong mereka bisa melacak jadi Sudah dipastikan kita aman." Jonathan meyakinkan istrinya yang sedang mengandung.
itu adalah alasan mengapa Jonathan ingin istri lebih santai dan Jonathan juga berusaha agar istrinya menjadi sangat nyaman dimanapun dia berada.
ada kehamilan di awal-awal tidak akan banyak hal yang berubah mungkin yang cukup menonjol adalah ibu yang sedang hamil akan mengalami mual-mual di pagi hari dan hal itu tidak terjadi kepada Dinniar. Dinniar sama sekali tidak merasakan morning sickness. dia bahkan terlihat lebih energi dari biasanya. hanya saja diniat begitu sedikit sensitif dengan kondisi putrinya apalagi setelah kejadian belakangan hari.
"sekarang sebaiknya kamu tidur Jangan berpikir apa-apa lagi karena mereka semua sudah dijaga dan dalam pengawasan ku. jadi kamu harus percaya kepadaku. semua akan baik-baik saja."
Dinniar mempercayai Semua ucapan dari suaminya. Dia sangat tahu seperti apa sifat dan sikap suaminya. sebagai seorang pria Jonathan saat bertanggung jawab dan juga sangat melindungi keluarganya.
dinia dan Jonathan naik ke atas ranjang dan mereka tertidur lelap bersama sambil berpelukan mesra.
...****************...
ayam jantan terdengar kokokannya. ketika ayam berkokok di pagi hari itu menandakan pagi sudah datang.
pada hari ini mereka semua kembali hidup normal. tidak ada lagi ke pura-puraan di dalam rumah.
"halo adik kakak yang cantik. sepertinya hari ini tidak seceria hari kemarin?" Tanya Alesya kepada adiknya Tasya.
"Aku nggak suka sama kakak. kakak udah cuekin aku dan nggak mau main sama aku lagi." Tasya langsung cemberut dan menekuk wajahnya.
"baiklah kakak minta maaf ya Tasya adik kakak yang sangat cantik. kakak tidak akan bersikap seperti itu lagi. sekarang kamu senyum ya." Alesya benar-benar sangat menyayangi Tasya.
dengan cepat adiknya tersenyum lebar. mereka berdua juga saling berpelukan. Alesya semakin lega karena sudah bisa melakukan hal apapun sesuka hatinya. dia tidak perlu lagi berpura-pura membenci keluarganya sendiri.
Tasya juga menjadi senang karena kakaknya kembali seperti dulu lagi.
"Kakak jangan sibuk lagi ya. kalau kakak sibuk aku jadi sedih. karena kakak adalah temanku juga." celetuk Tasya dengan sangat polosnya.
Semua berjalan sesuai dengan rencana mereka semua. Jonathan dan Dinniar hanya perlu menunggu siapa tikus pertama yang akan mereka tangkap. tikus itu pasti akan melaporkan semua yang terjadi di rumah ini.
Dinniar mencoba mencari tahu juga siapa yang beraninya merusak jalan pikiran putrinya. dia tidak terima kalau anaknya dirusak oleh orang lain.
"Kita harus melihat gerak-gerik siapa yang mencurigakan. jangan sampai lengah dengan kalian bertiga." tanya Jonathan kepada ketiga asisten rumah tangganya.
Mereka semua mengerti apa yang di bicarakan oleh Jonathan. mereka kini yang akan mengintai orang yang keluar dan masuk pintu rumah besar. mereka semua tidak ingin orang tersebut lolos lagi.
Jonathan dan Dinniar mengantar putri mereka pergi ke sekolah. Dinniar sudah mengambil sebuah keputusan yang cukup rumit dan cukup berat untuk dirinya sendiri.
"Kamu jadi menemui Adrian?" tanya. Jonathan dalam perjalanan menuju ke sekolah.
"Ya, aku jadi akan menemui dia dan membicarakannya. meski ini adalah keputusan yang sangat berat, tapi aku harus mengatakannya. aku tidak bisa membiarkan mereka terluka lagi." kata Dinniar.
"kalau memang keputusan ini sudah bulat dan kamu sudah yakin untuk bisa melepasnya. aku harap ini akan menjadi awal untuk kita semua. dan aku juga ingin kamu lebih fokus kepada mereka berdua dan juga calon anak kita." kata Jonathan sambil memegang perut Dinniar yang masih datar.
Dinniar sudah mengambil keputusan. dia tidak akan mundur dan dia tidak akan juga menyesali apa yang sudah dia putuskan.