Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 37 - Tersangka



Jonathan yang sudah rapih pagi-pagi sekali. Bersiap untuk pergi menemui Dinniar.


dia akan kembali menunggu di niat seperti kemarin dia menunggunya di depan pagar sekolah.


Jonathan benar-benar tidak ingin ada lagi wanita yang tersakiti ya ia kenal.


Jonatan lalu langsung bersiap menuju mobilnya dan ia mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang sopir menemani.


"ke mana Om Jonathan akan pergi?" tanya Alessia yang melihat mobil omnya sudah melesat keluar pagar rumah.


"ke kantor mungkin non" kata sopir alesha


"iya sih'kan hari ini hari kerja. pasti Om Jonathan ke kantor. ayo Pak kita berangkat ke sekolah." Alesya masuk ke dalam mobil.


.


.


Dinniar yang sudah selesai menyiapkan semua keperluan kerjanya. Langsung keluar kamar, tapi Darius menahannya.


"Aku akan antar kamu ke tempat kerja," kata.


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri." Tolak Dinniar.


"Din, aku mohon. Jangan terus bersikap dingin seperti ini sama aku. Aku enggak sanggup kamu perlakukan seperti ini. Aku kangen sama kamu, sayang." Darius menyentuh pipi lembut Dinniar.


"Seharusnya sebelum kamu memutuskan untuk selingkuh. Kamu harus pikirkan dulu konsekuensinya." Dinniar menepis tangan suaminya.


Dia keluar dari kamar dan langsung menuju lantai dasar rumahnya.


Di ruang makan putri dan ibu mertuanya sudah menunggu dirinya dan Darius untuk sarapan pagi bersama.


"Darius nama, Din?" tanya Susi saat melihat menantunya datang sendirian.


"Lagi siap-siap, sebentar lagi turun."


Benar saja kata Dinniar, Darius langsung menyusulnya ke ruang makan dan ikut sarapan bersama mereka.


"Sayang, hari ini aku yang anter kamu kerja."


Dinniar menoleh ke arah suaminya yang mengulangi pertanyaan yang sudah dia jawab tadi di kamar.


"Iya, Terima kasih, Mas." Dinniar terpaksa menerima tawaran suaminya. Dia tidak mungkin menolak di hadapan ibu mertuanya.


"Begitu dong. Masa istrinya di suruh pergi naik motor terus. Kalau bisa setiap pulang juga kamu jemput. Kamu'kan bis. masa enggak bisa sih kerja setengah hari ajah." Cecar Susi.


"Bu. Kerjaan aku juga banyak. Tidak bisa seenaknya saja." Darius menjawab sambil menyantap rotinya.


"Ibu lihat, di sinetron. Semua Bos itu kerjanya ya sempatnya saja. Tidak harus full berada di kantor." Susi kembali bicara.


"Bu, itu'kan sinetron. Bukan kehidupan nyata." Darius berusaha meyakinkan ibunya.


Sebenarnya pekerjaan Darius tidaklah berat. Dia seorang pemilik bisnis itu sendiri dan semua modelnya sudah memiliki manager masing-masing. dia juga memiliki banyak pekerja profesional. seharusnya tidak perlu bekerja dan selama ini juga dia sebenarnya tidak bekerja. hanya menemani istri keduanya.


"Bagaimana kamu bisa pulang setengah hari dan lebih mementingkan keluarga. Kalau masih ada dia yang menempel terus di dekatmu." batin Dinniar.


"Bu, aku berangkat sekarang ya. Tasya jagain Nenek ya sayang," ujar Dinniar.


"Siap Ratu." Tasya menjawab dengan penuh semangat.


"Wah." Susi tertawa gemas melihat tingkah cucunya.


Dinniar dan Darius pergi bersama. Darius akhirnya berhasil untuk mengantarkan istrinya pergi bekerja.


"Kamu ini kenapa sih, Mas? Kenapa maksa mau anter aku?" tanya Dinniar.


Pagi-pagi Darius sudah menaikkan tensi darah istrinya saja. Dia sangat tidak mengerti kalau istrinya masih kurang nyaman berdekatan dengannya.


"Aku ingin saja. Kamu'kan tahu aku tidak bisa terus didiamkan begini. Kamu sudah tahu kalau aku tidak mau hubungan kita tambah merenggang," kata Darius.


"Jadi, Karena alasan itu salah satunya yang membuat kamu memutuskan untuk mendua?" tanya Dinniar.


"Sayang, Please. Jangan terus memojokkan aku." Darius memohon.


"Sudah sampai. Turunkan saja aku di sini." Dinniar bersiap untuk turun dari mobil suaminya.


"Kenapa enggak sampai gerbang sekolah?" tanya Darius.


"Enggak apa. Enggak enak dilihat orang." Dinniar membuka seat belt yang dia pakai.


Darius menatap istrinya yang turun dari mobilnya setelah menyalami dirinya.


Hati wanita yang sudah tersakiti. tidak akan pernah bisa sembuh dalam waktu cepat. Butuh waktu untuk melupakan, memaafkan dan menyembuhkan luka itu.


Darius masih memperhatikan istrinya yang berjalan ke arah gerbang sekolah. Saat dia memperhatikan wanita yang bekerja sebagai kepala sekolah itu. muncul pria berjas dari dalam mobil mewah. Pria itu berjalan ke arah Dinniar dan mereka saling berjabat tangan.


"Aku seperti tidak asing dengan pria itu. Siapa dia? kenapa terlihat cukup akrab dengan istriku?" tanyanya sambil terus memperhatikan.


.


.


Dinniar yang bertemu dengan Jonathan di depan pintu gerbang sekolah menyapa pria itu.


"Pak Nathan." Sapa Dinniar.


"Bu Dinniar." Jonathan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dinniar.


"Ada apa Pak?" tanya Dinniar yang heran kenapa wali dari Alesya datang ke sekolah.


Jonathan ingin bicara dengan Dinniar mengenai Darius suaminya. Namun, Alesya datang dan menghampiri mereka berdua.


"Om." Alesya menyalami Dinniar dan juga omnya.


"Alesya, Kamu tidak bareng dengan Pak Jonathan?" tanyanya.


"Enggak, Aku kita om sudah ke kantor sejak pagi. Sebab om pagi-pagi sekali sudah pergi." ujar remaja cantik itu.


Alesya sungguh tumbuh menjadi remaja yang cantik dan santun. Meski semua orang tahu identitasnya. Alesya tetap low Profile. Dia tidak sombong dan tidak menggunakan barang-barang branded.


"Alesya, Masuk. Om ada perlu dengan Bu Dinniar." Jonathan meminta Alesya masuk ke kelasnya.


"Ada apa, Pak? Apa kita bicara di ruangan saya saja?" tanya Dinniar.


Saat Jonathan ingin menjawab pertanyaan Dinniar, tapi seorang pria mendekati mereka berdua.


"Sayang, kamu kenapa masih di luar?" tanya Darius yang menghampiri istrinya.


"Mas, kamu belum pergi?" tanya Dinniar.


"Belum. Tadi aku lihat kamu di sini. Jadi aku menghampirimu." Darius menatap Dinniar mesra.


Melihat tatapan itu, membuat Jonathan ingin sekali menonjok wajah pria yang sedang bermain sandiwara.


"Kamu, dengan mudahnya menebar wajah penuh cinta. Padahal pria yang mahir mendua." Jonathan begitu jijik melihat tatapan yang ditunjukkan oleh Darius.


Berharap istrinya akan membalas pertanyaannya yang begitu penuh perhatian itu, tapi ternyata sikap Dinniar tetap dingin


"Saya masuk dulu. Jika ada perlu mengenai Alesya. Bapak bisa ke ruangan saya," ujar Dinniar.


Dinniar masuk ke dalam halaman sekolah. Dia langsung menuju ruang kerjanya.


.


.


Saat Dinniar sudah pergi, kedua pria itu masih tetap berdiri di posisi mereka.


Jonathan menatap lekat wajah pria yang menjadi tersangka dalam percintaan.


"Kamu salah wali murid di sekolah ini?" tanya Darius.


"Benar. Apa kamu tidak dengar nama anak yang disebutkan oleh Bu Dinniar?" tanya Jonathan.


"Kalau sudah memiliki anak. Jangan dekati istri orang lain." pungkasnya.


"Apa aku tidak salah dengar? Bukannya pesan itu lebih cocok diajukan kepadamu?" Jonathan bertolak pinggang.


Jonathan membuang sedikit wajahnya karena tidak percaya pria yang berselingkuh bisa-bisa memberi nasehat untuk pria murni seperti dirinya.


"Apa maksudmu?" tanya Darius tak mengerti.


"Pak Darius yang terhormat. Kartu As anda sudah saya pegang. Tinggal bagaimana anda bisa bersikap. Jika anda meninggalkan pelakor itu saya tidak akan memberitahukan hal yang begitu mengejutkan kepada istri anda." Ancam Jonathan sambil membalikkan badannya.


"Hei! Apa maksud kata-kata mu?" teriak Darius memanggil.


"Pak! Jangan teriak-teriak di dekat pintu gerbang sekolah. Nanti anak yang lain terganggu."


Seorang satpam yang menjadi penjaga sekolah meneriaki Darius.