Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 192 - Perasaan seorang ibu



Mengetahui kalau Cornelia belum juga di temukan membuat Dinniar begitu khawatir. dia sangat takut kalau sampai nanti anak-anaknya dalam bahaya lagi.


"Din, aku sudah dapat kabarnya. Kamu harus tenang ya. Kamu harus ingat kalau sedang menyusui. Stres bisa membuat produksi Asi terhambat dan ASI-nya juga kurang bagus untuk si bayi." Violin mengingatkan sahabatnya.


"Kenapa dia bisa kabur, Vi? Setelah hampir satu tahun aku merasa aman dan tenang karena dia tidak bisa mengusik keluargaku. lalu kenapa harus sekarang? disaat aku memiliki seorang bayi. Aku sangat takut, Vi." Kecemasan nampak jelas di mata Dinniar.


Violin memeluk sahabatnya dengan erat agar Dinniar jauh lebih tenang. Semua hal buruk yang menimpa keluarga Dinniar pasti menyisakan trauma untuk ibu tiga anak itu.


"Aku yakin Jonathan akan melindungi kalian. lagi pula Devano juga akan selalu di dalam pantauan mu. aku yakin kalian akan baik-baik saja." Violin menguatkan hati sahabatnya.


Dinniar masih belum bisa tenang sebelum diketahui kalau Cornelia sudah di tangkap dan di masukkan ke dalam sel tahanan kepolisian keagungan.


"Kita juga harus kerahkan anak buah untuk membantu polisi menemukan Cornelia. Aku takut anak-anakku menjadi incarannya lagi. wanita licik itu tidak mungkin hanya duduk manis dan menonton kebahagiaan keluarga kami." Jelas Jonathan.


"Tenang saja. aku sudah meminta beberapa anak buahku menyisir seluruh area dekat rumah sakit rehabilitasi jiwa." Info Samuel.


Kedua sahabat itu sedang menunggu informasi yang akurat mengenai keberadaan Cornelia dari kepolisian dan juga dari anak buah mereka.


"Pak, makan malamnya sudah siap." BI Imah datang memberi tahukan untuk makan malam.


"Panggil ibu dan Bu violin juga anak-anak untuk makan malam bersama." Perintah jonathan.


"Baik, pak." BI Imah langsung pergi ke kamar Dinniar dan juga kedua putri majikannya.


"Non Tasya. Non, non dimana?" BI Imah mencari Tasya di dalam kamarnya.


"Ada apa Bi?" tanya Alesya yang mendengar bi Imah memanggil-manggil nama adiknya.


"bibi mau kasih tahu kalau makan malam sudah siap. apa non Tasya sedang bersama non Alesya?" tanya bi Imah.


"Tidak, Bi. Aku sejak tadi di kamar karena banyak tugas. mungkin Tasya di kamar mandi." ujar Alesya.


"Tidak ada non. bibi baru saja dari sana." BI Imah jadi cemas.


"Kita coba cari bi." Alesya menutup pintu kamarnya dan langsung mencari Tasya di lantai atas.


"Non Tasya." teriak BI Imah meski masih terkontrol.


"Ade, Ade Tasya." Alesya mencari ke beberapa sudut ruangan di lantai dua rumahnya.


"Enggak ada BI di sini." kata Alesya.


"Kita coba cari di bawah non." ujar BI Imah dan langsung menuruni tangga menuju lantai dasar.


Alesya mencari adiknya ke bagian belakang rumahnya. BI Imah juga mencarinya ke bagian depan rumah mereka sedangkan Surti yang melihat BI Imah langsung ikut membantu mencari Tasya ke bagian samping rumah.


Jonathan melihat Alesya yang berlarian ke arah belakang rumah mereka. dengan cepat jonathan segera mengejar putrinya.


"Alesya, kenapa kamu pergi ke sini? kenapa bukan pergi ruang makan?" tanya jonathan.


"Tasya enggak ada pah." Ujar Alesya yang membuat jonathan terbelalak.


"Apa kamu bilang? Tasya tidak ada? apa kamu sudah mencarinya di kamar?" tanya jonathan.


"BI Imah sudah mencarinya, Pah. Katanya tidak ada di kamar." Alesya menyampaikan apa yang dia dengar dari bi Imah asisten rumah tangga mereka.


"Jangan sampai mami kamu tahu. Papa akan periksa ke kamarnya lagi." Jonathan langsung pergi ke lantai atas untuk memastikan lagi.


"Ada apa ini Sam?" tanya Dinniar kepada Samuel.


"Aku juga tidak tahu. Jonathan tiba-tiba saja mengejar Alesya ke belakang dan sekarang dia pergi ke lantai atas." jelas Samuel dengan jujur.


Dinniar menjadi merasa ada sesuatu yang sedang di tutupi darinya. Dia langsung ikut naik ke atas dan saat dia berada di tangga terakhir. Dinniar mendengar suaminya menyebut-nyebut nama Tasya.


"sayang, ada apa? dimana Tasya?" tanya Dinniar.


"Tenang dulu. aku sedang mencarinya." Jonathan berusaha menenangkan Dinniar.


"Tasya." Dinniar langsung menyingkirkan tangan suaminya dan mencari keberadaan putrinya dengan sangat panik.


"Tasya kamu dimana sayang?" Dinniar hampir menangis.


Jonathan lalu teringat sesuatu tentang pembicaraannya dengan Tasya pagi tadi. Dia langsung memeriksanya. Dia buka seprai yang menjuntai ke bawah sampai menyentuh lantai.


"Ketemu." pekiknya.


"Tasya, bangun sayang. Tasya sayang." Jonathan menggoncang tubuh putrinya yang tertidur lelap di kolong tempat tidur.


"Papa." Tasya terbangun sambil menggosok-gosok mata dengan kedua tangannya.


Tasya keluar dari kolong tempat tidurnya dan dia mendapati maminya yang langsung berlari ke arahnya.


"Tasya. kenapa kamu tidur di kolong tempat tidur sayang? apa kamu tahu semua panik mencarimu." Dinniar bicara dengan sedikit keras.


"Sayang, hentikan jangan membuatnya takut." pinta jonathan.


"Tasya. sini peluk papa." Jonathan merentangkan tangannya.


dengan cepat putri kecilnya berlari ke arahnya dan mereka berpelukan. "Tasya lain kali jangan tidur di kolong meja. nanti tidak terlihat orang sayang." Jonathan bicara sambil merapihkan rambut Tasya yang acak-acakan.


"Aku hanya sedang main, pah. dan ceritanya sedang di kejar penjahat jadi ngumpet di kolong tempat tidur." Ucap Tasya.


Itulah yang membuat Jonathan menyadari keberadaan Tasya. putrinya tadi sempat mengajaknya bermain, tapi Samuel dan violin terlanjur sudah datang. Tasya mengajak jonathan bermain pekat umpet seakan Tasya sedang di kejar penjahat. Tasya juga bilang dia akan mengumpat di kamar.


"Sayang. maafkan mami. bukan maksud mami ingin marah. mami hanya khawatir. Tasya ingatkan kalau Tasya pernah hilang. mami masih sangat takut." Dinniar meminta maaf kepada putrinya.


"Mami tenang ya. kan Tante Cornelia sudah di dalam kantor polisi di tahan. jadi aku tidak akan hilang lagi." celetuk Tasya.


"itulah mengapa mami sangat takut sayang ketika tahu kamu dicari-cari oleh orang-orang. Mami sangat takut kehilangan kamu lagi. mami tidak sanggup nak." Dinniar lalu memeluk tasya.


Mereka semua langsung pergi ke ruang makan untuk makan siang bersama. violin dan Samuel juga ikut bergabung bersama mereka.


"Tante, dimana adik Kenzo?" tanya Tasya kepada violin.


"Adik Kenzo sedang di rumah sama Oma dan opanya." jawab violin.


"Kapan-kapan kita boleh ya main dengan Kenzo. pasti menyenangkan." tutur Alesya.


"Boleh dong. Tante dan om akan menantikan kedatangan kalian ke rumah." Samuel ikut menimpali.


Mereka makan siang bersama dengan membicarakan hal-hal yang menyenangkan agar tidak terlalu memikirkan keberadaan Cornelia dan takut akan ada hal buruk yang terjadi menimpa mereka.