
Jonathan pergi ke perusahaannya pagi ini. Ada beberapa dokumen kerjasama yang harus dia tanda tangani.
Saat dia berada di ruangan. Sekertaris kantor mendatanginya.
"permisi, pak. Ada pak Broto yang ingin bertemu."
"Pak Broto? Apa saya ada janji dengan beliau?" tanya Jonathan sampai mengernyitkan dahinya.
"tidak, tapi beliau memaksa ingin bertemu." terangnya.
"baiklah. Suruh dia masuk ke ruangan saya saja." Jonathan mempersiapkan dirinya.
Jonathan sudah memprediksi bahwa semua ini akan terjadi. Beberapa orang yang akan bekerja sama dengannya pasti mendatanginya.
"Aku sampai berkorban seperti ini. Aku akan pastikan kau dipenjara Melinda. tunggu saja tanggal mainnya." gumam Jonathan sambil mengepalkan kedua tangannya.
om Syam dan Tante Kamelia membuat viral kelakuan Jonathan sehingga namanya menjadi buruk dimata para rekan bisnisnya. Untuk para rekan bisnis yang baru mau bergabung dengannya sudah pasti akan terkena dampaknya. Berbeda dengan mereka yang sudah menjadi rekan bisnis lama, mereka tidak sedikitpun terpengaruh.
Direktur utama dari PT. Jaya abadi mendatangi Jonathan. Dengan cepat Jonathan mempersilahkannya duduk.
"Pak Jonathan saya tidak bisa melanjutkan rencana bisnis kita. Banyak hal yang membuat beberapa investor kami menolak dan merasa akan mendapatkan kerugian besar. sepertinya tanda tangan kontrak akan kita batalkan." tutur pak Broto.
"saya mengerti sekali kegelisahan yang dirasakan oleh pak Broto. Namun, saya yakin kerja sama kita akan baik-baik saja. Bapak tunggu kabar saya dua hari ke depan. percayalah kepada saya." Jonathan dengan rendah hati meminta rekan bisnisnya itu menunggu.
"untuk apa saya menunggu? Tindakan pak Jonathan sebagai seorang pria sangatlah fatal. Apalagi perusahaan saya mengusung tema islami. Sudah pasti akan berdampak nantinya jika kerja sama ini terus dilanjutkan." tolak prak Broto.
"Beri saya dua hari saja. Akan ada angin segar yang berhembus." Jonathan menggunakan kiasan kali ini dalam pembicaraannya.
Pak Broto mengangkat satu alis matanya. Dia lalu mendengus.
"Baiklah, dua hari. Jika tidak ada titik terang maka saya akan membatalkannya secara sepihak." tegas pak Broto yang lalu langsung pergi keluar dari ruangan Jonathan.
Jonathan menghubungi Rendy asisten pribadinya. "ren, sepertinya rencana kita harus dipercepat. hal ini akan berdampak kepada perusahaan dan juga kepada hotel. Pak Broto sudah mengajukan permohonan pembatalan kerjasama. Jadi minta semua orang bergerak cepat." perintah Jonathan.
Jonathan kembali memeriksa beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani. Tidak lama istrinya menghubungi Jonathan.
"Halo sayang, di hotel banyak sekali wartawan. sepertinya Melinda mengundang mereka. Banyak wartawan yang mengajukan pertanyaan mengenai kejadian malam itu." terang Dinniar.
"Sayang, kita harus mempercepat rencana. tadi pak Broto juga mendatangiku terkait pembatalan kerjasama. Kalau kita mengulur waktu dipastikan akan berdampak kepada hotel dan perusahaan." cerita Jonathan.
"Kalau begitu aku harus bertanya dulu kepada Sonia. Perkiraan Evelin seharusnya siuman pada hari ini. Semoga saja prediksinya tidak meleset." ujarnya.
Kedua suami istri itu saling bekerjasama demi membuat efek jera kepada Melinda. Melinda memang harus diberi pelajaran berharga dalam hidupnya. Dia dengan mudahnya mempermainkan manusia dan mempermainkan nyawa. Melinda benar-benar tidak takut dengan hukuman dari Tuhan.
Berkali-kali dia membuat onar untuk mengacaukan kehidupan orang lain. Dinniar dan Jonathan juga baru mengetahui bahwa acara penyambutan menteri pariwisata di hotelnya adalah salah satu perbuatan curang dari Melinda.
Dinniar sedang membereskan permasalahan itu. Ditambah lagi mereka hampir saja tidak jadi menempati hotel karena kasus Melinda dengan Jonathan.
Baru kali ini dia meluapkan emosinya dengan begitu kasar. biasanya Dinniar selalu bersikap tenang dalam menghadapi permasalahan. Kali ini Melinda benar-benar membuatnya tidak bisa menahan emosi.
"Halo " Dinniar menghubungi Sonia sahabatnya.
"Hai, Dinniar. Ada apa kamu menghubungi aku?" tanya Sonia dari seberang telepon.
"Son, aku ingin tahu bagaimana kondisi Evelin?" tanya Dinniar.
"Dia sudah stabil. Kondisinya sudah membaik juga. Dia sudah memberikan respon ketika kami memeriksanya. Hanya saja dia belum siuman." jelas Sonia.
pagi tadi saat Sonia dan perawat mengetuk-ngetuk tangan Evelin ada respon. tangannya sedikit bergerak. Namun, dia belum sadarkan diri. Evelin masih dalam pengaruh obat yang menetralkan racun di dalam tubuhnya.
"Karena cukup banyak racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Jadi dia belum bisa dipastikan kapan siuman. Memangnya kenapa?" tanya Sonia.
"Tidak apa-apa. Aku membutuhkan dia untuk sadar. Karena aku harus membuat dia melaporkan kejadian yang telah menimpanya." jelas Dinniar ditelepon.
"Sebenarnya kami bisa membuat dia bangun dengan cepat. Hanya saja reaksi obat itu bisa membuat bahaya pada jaringan tubuh. Jadi kami tidak pernah menggunakannya. Efek sampingnya memang tidak langsung. namun, dapat membahayakan dikemudian hari."
"Tidak, jangan lakukan itu. itu sama saja kita membuatnya mati perlahan. Aku menyelamatkannya agar dia bisa hidup dengan normal." Dinniar menghela nafasnya.
Dia bukan berputus asa dengan evelin. Hanya saja dia ingin kesadaran Evelin cepat kembali. Dinniar ingin semuanya segera selesai. Dia kasihan kepada suaminya yang banyak mengalami dampak buruk dari rencana besar ini.
Di rumah sakit Sonia kembali memeriksa kondisi Evelin sesuai permintaan dari Dinniar.
"gimana son?" tanya Selvia yang masih setia menemani temannya itu.
"Aku belum bisa memastikan kapan dia sadarkan diri. Cuma, aku yakin dia akan sadar segera." jelas Sonia sambil meneguk bahu Selvia.
Selvia terlihat sangat lelah. Dia menjaga Evelin sepanjang hari. Sonia melihat wajah lelah sahabatnya itu.
"Kita ke kantin dulu. Kamu pasti butuh kopi." tawa Sonia dan Selvia juga ikut tertawa.
"Baiklah ayo kita pergi ke kantin. Aku butuh amunisi. Suamiku untung sedang berada di rumah anaknya. Jadi aku bisa ikut menjaga Evelin." tuturnya.
"Untung juga kamu mengenal Evelin. Kalau tidak apa jadinya dengan Dinniar dan rumah tangganya. Meski aku tahu Dinniar tidak akan semudah itu percaya, tapi tetap saja pasti ada sakit yang menjalar ke hatinya."
Kedua sahabat Dinniar masuk ke dalam kantin. Mereka memesan kopi dan berbincang mengenai sikap Melinda yang benar-benar tidak berprikemanusiaan.
"Dia sungguh kejam. Wanita yang tidak patut dijadikan pasangan. Kalau aku jadi pria. Aku pastinya tidak akan pernah memilihnya menjadi pasangan. menyimpan wanita seperti itu di sisi kita pasti menyeramkan sekali." tutur Sonia.
"Sudahlah. Membicarakan wanita ular itu tidak akan ada habisnya. yang ada kita dosa dan hanya menguras energi saja." Selvia tertawa.
Benar, menyimpan wanita jahat seperti itu akan sangat mengerikan sekali. Salah sedikit bisa menjadi sasarannya.