Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
327 - Tamu Hotel



Alesya dan Alvi selesai makan siang dan ketika mereka kembali ke ruangan khusus housekeeping. Manajer sudah menunggu mereka bersama dengan seseorang yang bukan bagian dari mereka.


tersebut adalah salah satu pengunjung hotel dan salah satu penghuni kamar tamu yang dibersihkan oleh Alesya dan Alvi.


"Alesya, Alvi. Kalian kan yang membersihkan kamar anggrek? Apa kalian melihat jam tangan yang tertinggal di kamar anggrek?" tanya manajer housekeeping.


"Jam tangan?" Alvi dan Alesya saling berpandangan.


"Kami memang membersihkannya, tapi tidak menemukan ada satupun barang yang tertinggal di sana." ujar Alesya dan dibenarkan oleh Alvi.


Alvi mengangguk untuk membenarkan pernyataan Alesya. Mereka berdua memang tidak menemukan barang milik penghuni kamar tamu.


"Apa kalian berkata jujur?" desak seorang wanita yang setiap hari selalu memarahi mereka.


Nisa adalah salah satu karyawan hotel yang menjabat menjadi kepala housekeeping. dia memang memiliki perangai yang sangat menyebalkan. sudah dua hari mereka berdua selalu terkena semprot dari Nisa. apa permasalahan Nisa sehingga mereka selalu menjadi lalapan kemarahan.


"benar Bu saya tidak menemukan benda apapun milik penghuni kamar. jikalau memang kami menemukannya pasti kami akan menyerahkan barang tersebut kepada kepala housekeeping." ujar Alvi yang membersihkan kamar tamu.


"kalau sampai ditemukan kalian menemukan dan mengambil barang tamu. kami akan menindak tegas dan kami tidak akan mempekerjakan kalian sebagai pekerja magang." ujar ibu Tuti yang bekerja di bagian management housekeeping.


Ibu putih adalah manajer bagian housekeeping. Dia memiliki kepribadian yang ramah dan juga selalu bertindak sesuai dengan aturan.


"saya akan memeriksa rekaman CCTV terlebih dahulu baru setelah itu saya bisa memastikan mereka mengambilnya atau tidak." ujar Bu Tuti.


"untuk apa kalian memeriksa rekaman CCTV. sudah jelas mereka mengambil barang saya. saya akan menuntut hotel ini karena mempekerjakan orang-orang yang tidak becus dalam bekerja." sewotnya sambil melototi Alesya dan Alvi.


"maaf Bu, tapi prosedur hotel memang harus seperti itu. manajer akan memeriksa rekaman CCTV setelah itu manajer akan memutuskan apakah benar pekerjaannya mengambil barang milik tamu atau tidak. di dalam rekaman CCTV juga akan terlihat apakah barang tersebut sudah dibawa oleh tamu atau memang tertinggal di dalam kamar." ketus Alesya yang tidak terima dituduh mengambil barang milik tamu.


"hei kalian di sini hanya bekerja ya! kamu ini masih anak bawang aja belaga seperti orang yang sudah mengenal seluk beluk hotel dan juga seperti pemilik hotel ini. orang kecil seperti kalian ini tidak pantas berbicara seenaknya kepada kami orang-orang yang memiliki uang." cerocos dengan sangat sombong.


Alvi tidak tahan mendengar ucapan tamu tersebut Dan hampir saja ingin mengungkapkan identitas mereka yang sebenarnya.


"tahan Alvi. kita tidak bisa bertindak semaunya di sini." Alesya menahan sahabatnya itu.


"sya, tapi orang itu tuh semena-mena. seenak aja bilang kita orang kecil. dia nggak tahu apa siapa gue dan siapa lo." bisiknya.


"mereka semua di sini kan emang nggak tahu siapa kita sebenarnya. makanya dia bicara seperti itu. udah biarin aja jadinya kan kita tahu gimana enak dan gak enaknya jadi housekeeper." Alesya tersenyum kaku.


"Sya. lo kok bisa sih sesabar itu ngadepin orang semena-mena kayak gitu." Alvi kagum kepada sahabatnya.


"saya akan memeriksa rekaman CCTV terlebih dahulu. apakah ibu mau ikut?" tanya manajer housekeeping.


wanita yang menjadi tamu hotel tersebut akhirnya mengikuti langkah manajer housekeeping menuju ke ruangan CCTV. di sana mereka akan melihat siapa yang salah dan siapa yang benar. Alesya dan juga Alvi turut ikut bersama mereka untuk mengetahui kebenarannya.


sesampainya di ruangan CCTV mereka meminta petugas membuka video rekaman yang mengarah ke kamar hotel anggrek.


rekaman dibuka pada jam dan hari yang sama lalu mereka memperhatikan rekaman CCTV tersebut. Alesya dan Alvi mengetahui mengapa bisa kamar itu sangat berantakan dan kotor. mereka berdua menahan tawa.


"kalau terlihat dari rekaman CCTV di sini anda telah memasukkan jam tangan ke dalam tas. apa bisa tas Anda diperiksa lebih dahulu?" kata Bu Tuti.


rambut tersebut celingukan. lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


"apa perlu saya yang memeriksa?" Alesya menawarkan diri.


"tidak perlu. nanti saja di rumah saya akan memeriksanya."


kamu itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata maaf dan memeriksa kembali tasnya.


"Alesya, Alvi. kalian memang jujur dalam bekerja, tapi kalian juga tidak boleh malas-malasan. setelah selesai merapikan kamar tamu kalian harus segera merapikan kamar tamu lainnya. lihat kalian tadi duduk di lantai kamar hotel. itu artinya kalian malas." kata Bu Tuti kepada mereka berdua.


"kita cuma istirahat sebentar kok Bu itu pun cuma 5 menit." tandasnya.


"Alfi lima menit itu kamu yang berbaring di lantai kamar bukan kamu yang sedang duduk. kalian telah membuang waktu 15 menit hanya untuk duduk di lantai kamar hotel." tegas Bu Tuti kepada mereka berdua.


"baik Bu kami akan bekerja lebih giat lagi dan lebih rajin lagi." janji Alesya sambil menyikut lengan Alvi.


"be-benar Bu. kamu akan bekerja dengan giat lagi dan lebih maksimal lagi." kata Alvi dengan terbata-bata.


Bu Tuti memandang mereka lalu tersenyum. "sudah sebaiknya kalian bersiap untuk pulang. ini sudah waktunya kalian jam pulang kan?" tanya Bu Tuti kepada Alesya dan juga Alvi.


"baik bu terima kasih." mereka berdua sedikit membungkukkan badan untuk mengucapkan terima kasih.


Bu Tuti alesya dan Alvi keluar dari ruangan petugas CCTV. mereka berdua bersiap-siap untuk pulang ke rumah karena memang jam bekerja mereka telah selesai. tamu yang datang untuk protes membuat mereka tidak bisa menyambut para tamu yang datang ke hotel.


Nisa tiba-tiba menghampiri mereka berdua. "enak banget jam segini udah pulang aja padahal tadi kerjaannya belum selesai. kalian itu dihukum karena lalai dalam bekerja." sewot Nisa lagi.


"ini orang sebenarnya makan apa sih? sewot terus kerjaannya." bisik Alvi lagi dan Alesya mencubitnya.


"maaf Bu Nisa. kami berdua terbukti tidak bersalah. jam tangan milik tamu tersebut sudah dimasukkan ke dalam tas sebelum dia pergi meninggalkan kamar hotel. kami sudah memeriksanya bersama dengan Bu Tuti selaku manager housekeeping. apa kami boleh pulang sekarang?" Alesya kini bertindak tegas.


lelah selalu dimarahi oleh Nisa membuat Alesya sedikit geram dengan sikap kepala housekeeping tersebut. konon menurut yang lain dia memang selalu seperti itu kepada anak baru atau kepada anak magang.


"marah-marah mulu cepet tua tuh orang." celetuk alvi ketika mereka sudah meninggalkan ruangan housekeeping.


dalam perjalanan menuju lobby mereka berdua bertemu dengan Dinniar. Dinniar membuat isyarat kepada mereka untuk mengikutinya.


Alesya dan Alvi mengikuti Dinniar dengan diam-diam. mereka masuk ke dalam ruangan manager promosi ternyata maminya sudah menyiapkan beberapa menu makanan yang enak.


"wah Mami keren banget." alvi mengacungkan kedua jempolnya.


"tentu saja dong. Mami ingin kalian makan makanan yang bergizi. pasti tadi kalian makan mie ayam kan?" todong Dinniar.


keduanya hanya bisa saling berpandangan Dan tersenyum. ternyata mereka ketahuan lagi oleh maminya makan mie ayam di seberang hotel.


"kami tidak melarang kalian untuk makan jajanan. akan tetapi kalian juga harus menjaga kesehatan. bekerja sebagai housekeeping itu bukanlah hal yang mudah." tutur Dinniar.


"ehhm. bener banget kata mami. bahkan tadi kita dituduh mencuri barang milik tamu." cerita Alvi.


Alesya langsung menginjak kaki Alvi. Dan Alvi berteriak.


"apaan sih Sya kenapa harus nginjak kaki gue sih." Alvi yang sedang asik makan paha ayam menjadi kesal.


"apa benar itu Alesya?" tanya Dinniar.


"itu hanya kesalahpahaman saja mami. dan semuanya sudah terselesaikan. mungkin tamunya lupa kalau dia sudah memasukkan jam tangannya ke dalam tas." jelas Alesya.


Dinniar mengerti. Banyak sekali orang-orang di luar sana yang bertingkah seperti tamu yang menginap di hotel. akan tetapi sebenarnya mereka hanya ingin menjatuhkan hotel. karena mereka adalah salah satu pemilik hotel dari saingan Big hotel.


Big hotel sangat terkenal sehingga membuat banyak tamu lebih memilih untuk menginap di sana. fasilitas dan juga pelayanan yang disajikan oleh big hotel begitu memuaskan mereka semua. mereka datang dan diberikan kenyamanan lalu pulang diberikan senyuman.


sebaik dan ceramah itu pelayanan dari big hotel. keluarga Jonathan memang selalu mengajarkan para karyawannya untuk bersikap jujur, baik dan juga ramah kepada tamu yang datang untuk menginap atau sekedar berkunjung .