Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
290 - Sosial Media



ketiga sahabat itu akhirnya bertemu. mereka berkumpul di restoran yang dulu sering didatangi. Selvia dan sefya memandang dinniar lekat.


"lagi ngapain sih?" tanya selvia.


"tau serius banget liatin ponselnya. awas nanti malahan masuk ke dalam ponsel lagi." ledek sefya.


"lagi penasaran ajah. pengen tahu siapa wanita yang dulu di sukai sama mas jonathan." ujar dinniar dengan pandangan yang masih terpaku di layar ponselnya.


"Jadi ucapan wanita itu mempengaruhi kamu?" tanya selvia.


"bukan terpengaruh. aku hanya penasaran seperti apa dia. aku tidak pernah juga mendengar cerita itu." tutur dinniar dengan meletakkan ponselnya dan fokus dengan kedua sahabatnya.


"jangan terlalu termakan dengan ucapannya. bisa jadi dia hanya ingin menempelkan parasit di dalam hatinya hingga menggerogoti kepercayaanmu kepada suamimu." tegas selvia.


"benar, aku tidak perlu penasaran. siapapun dia. wanita itu hanyalah masa lalunya. dan aku adalah masa depannya." dinniar berusaha menetralkan hati dan pikirannya.


"gitu dong. sahabatku dinniar pasti bisa membedakan mana perkataan yang benar dan mana perkataan yang hanya bualan saja. jonathan dan darius adalah sosok yang berbeda. tidak mungkin jonathan memiliki sifat seperti darius." tutur selvia seakan takut sahabatnya berpikir kalau jonathan sama seperti darius.


"tenang saja. aku tidak berpikir sampai ke sana. aku hanya ingin tahu siapa wanita itu. sebatas itu." dinniar tersenyum dan kedua sahabatnya memberikan pelukan untuk menguatkan.


"kali ini aku yakin kalau Jonathan bukan tipe orang yang mudah berpaling dan berkhianat. Dia pria yang beruntung mendapatkan kamu istri yang sempurna."


Sefya dan Selvia memang sangat yakin kalau Jonathan buka tipe pria hidung belang. dari sifat dan sikap Jonathan menunjukkan dia pria yang setia hanya kepada satu pasangan saja.


.


.


.


"Kayaknya tadi cewek itu ke butik Dinniar deh." ujar Samuel sambil memperhatikan sosok perempuan yang duduk di deretannya


"Maksud Lu Melinda?" tanya Jonathan yang memang di ruangan ini karyawan wanita baru ada Melinda saja.


"Ya, pokoknya cewek itu. Dia keluar butik pas tadi Lo telepon gue. Pas gue anter Sefya ke butik Dinniar." tegas Samuel sambil terus menatap Melinda.


"Ngapain lagi dia ketemu Dinniar. Dia itu cewek yang dulu pernah gue ceritain ke Lo. Yang anak angkat om syam." jelas Jonathan.


"Jadi cewek itu yang mau om syam jodohkan sama Lo? Wah jangan-jangan dia masih ngarep lo tuh. bisa gawat ini." Samuel geleng-geleng kepala.


"Udahlah, enggak usah dipikirin. Gue yakin Dinniar lebih bijak dan tidak akan terusik dengannya."


"ya, emang sih. Cewek kayak dia mana bisa dibandingkan dengan cewek kaya Dinniar yang sangat bijak, cantik dan juga terhormat." puji Samuel.


"bener banget. Istri gue emang enggak ada tandingannya." Jonathan pun ikut membanggakan istrinya.


Rapat kerja sama pun dimulai setelah semua yang berkepentingan dalam hal ini hadir. Samuel dan rekannya menjelaskan konsep taman yang akan mereka buat letaknya di sisi belakang hotel. Para dewan direksi yang hadir setuju dengan apa yang di rencanakan oleh Samuel. Samuel memang paling hebat dalam penataan dan peletakkan. Maka dari itu Jonathan selalu memakai jasa perusahaan sahabatnya. Mereka bekerjasama bukan berdasarkan kenal dan dekat. Namun, mereka bekerja sama karena memang saling mengetahui kelebihan perusahaan masing-masing dan bekerja dengan sangat profesional.