Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 111 - Ratu dihatiku



Di hari pertama istrinya yang akan pergi bekerja setelah cuti untuk beberapa hari. Jonathan membuatkan sarapan dan bekal makanan untuk di bawa oleh Alesya dan juga Tasya.


Dinniar turun dari tangga dan mencium bau sedap masakan. Dinniar dan Tasya menuju ruang makan dan dia melihat sarapan sudah tersedia dan juga ada dua kotak makan yang tersedia di sana.


"Selamat pagi ratu dihatiku dan anak-anak ku. hari ini papa buatkan masakan spesial untuk kalian semua. Silahkan dinikmati hidangannya." Jonathan membungkukkan tubuhnya.


Dinniar semakin cinta dengan Jonathan jika caranya seperti ini. Selalu memberikan kejutan. Dinniar hanya bisa mengembangkan senyumannya.


"Ayo kita sarapan pagi dulu. Setelah itu papa akan antar kalian pergi ke sekolah. Kebetulan sekolah Alesya juga searah dengan kantor papa." Jonathan duduk bersama keluarganya.


Alesya semakin kagum dengan sikap dewasa om nya yang kini resmi menjadi papanya. Jonathan juga sedang mempersiapkan kartu keluarga untuk mereka berempat. Dia berharap setahun kemudian bisa kembali memperbaharui kartu keluarganya dengan bertambahnya anggota baru juga di dalam keluarganya.


"Papa kapan mau ajak Mami berbulan madu?" tanya Alesya sambil mengaduk spaghetti carbonara miliknya.


"Hmmm. Papa tidak tahu. tergantung mama saja. karena Mami pasti akan khawatir dengan kalian berdua." Jonathan melirik istrinya.


"Mami dan papa pergi saja. Tasya kan di rumah bisa bersama nenek atau Oma dan kak Alesya. Iyah kan kak Alesya?" Tasya menatap kakaknya.


"Iyah benar apa kata Tasya. lagi pula ada banyak penjaga yang akan menjaga kita di rumah dan juga di luar rumah." Sahut Alesya.


"Nanti papa dan mami akan pikirkan dan diskusikan. sekarang ayo kita bersiap berangkat sekolah." Dinniar mengajak anak-anak untuk pergi ke sekolah.


"Let's go. kita berangkat sekarang."


Alesya dan Tasya menggendong tas ranselnya dan tak lupa membawa tas kotak makan yang sudah di siapkan oleh papa mereka.


Setelah duduk di bangku mobil. Jonathan dengan semangat mengendarai mobilnya mengantar para kesayangannya untuk pergi beraktivitas.


"Nanti pak supir yang akan menjemput ya. papa hari ini mungkin akan pulang agak malam. Ada beberapa berkas yang harus di urus." Jonathan bicara sambil menyetir.


"Sya, ada kegiatan belajar kelompok. Nanti akan pergi ke rumah Cherry bersama teman-teman." Alesya memberitahukan rencananya sepulang sekolah.


"Kalian ke sana naik apa?" tanya Dinniar


"Kita akan di jemput supir Cherry, jadi mami dan papa tidak perlu khawatir." Alesya membuat senyuman meyakinkan.


"Kalau begitu kamu hati-hati. jangan lengah, papa tidak mau kamu kenapa-kenapa. kamu mengerti Alesya?" Jonathan mantap sendu ke arah keponakannya.


"Iyah, Sya mengerti papa." jawabnya kepada sang om yang telah dipanggil papa olehnya.


"Tasya, ayo bersiap sebentar lagi kita sampai di sekolah. jangan lupa kotak makannya di bawa." Dinniar bersiap untuk turun dan Jonathan memasukkan mobilnya ke dalam gerbang sekolah.


setelah Jonathan memarkir mobilnya. Dinniar dan Tasya menyalami Jonathan dan Alesya sebelum mereka berpisah sementara.


"Dadah papa, dadah kak Alesya." Tasya melambaikan tangannya.


Alesya duduk di bangku sebelah pengemudi. Dia akan diantar oleh Jonathan ke sekolah.


"Terima kasih sudah mau menjadi papaku dan mengizinkan aku masuk ke dalam keluarga bahagia om. Aku sangat menantikan hal ini. memiliki keluarga utuh meski bukan orang tua kandungku sendiri." kata Alesya lirih.


Jonathan langsung menyentuh kepala keponakannya dengan mengelusnya penuh kasih sayang. Baginya Alesya bukan hanya sekedar keponakan. dia berharga seperti anaknya sendiri. sejak kecil dia yang menjaga dan merawat Alesya. Sudah tentu dia begitu mencintai dan menyayanginya.


Begitu hangat pelukan omnya. dia semakin bahagia mendengar semua ucapan omnya. Dia semakin yakin untuk memanggil Jonathan dan Dinniar dengan sebutan Papa dan Mami.


"Alesya sayang papa." kata Alesya sambil melepas pelukan mereka berdua.


"Papa juga Sayang sama Alesya. Belajar yang rajin dan fokus. papa mau Alesya menjadi anak yang berhasil dan bisa meneruskan perusahaan keluarga kita. oh ya. papa akan memasukkan kamu ke sekolah bela diri. ini penting untukmu menjaga diri sendiri. karena papa tidak bisa selalu berada di dekatmu."


Alesya mengangguk tanda mengerti maksud Jonathan. Jonathan selalu memprioritaskan dirinya sejak dulu. banyak penjaga yang ketat untuk melindungi dirinya sejak kecil.


kini Alesya sudah beranjak dewasa dan tidak mungkin selalu di awasi dan di jaga oleh bodyguard. pasti akan risih perasaan Alesya. belajar bela diri adalah satu-satunya cara agar Alesya bisa melindungi dirinya sendiri silakan Jonathan dan penjaga tidak ada di sisinya.


Jonathan kembali melajukan mobilnya dan pergi menuju kantor. Banyak hal yang harus dia kerjakan. Rendy juga sudah memberi kabar kalau ada beberapa acara yang ingin di siarkan melalui stasiun televisi perusahaan mereka.


"Rendy kamu bawa semua permintaan kontrak kerja sama ke ruangan saya." kata Jonathan saat berpapasan dengan Rendy di depan ruangannya.


"baik pak. saya akan segera antarkan." Rendy pergi ke ruangannya dan membawa beberapa berkas yang diminta oleh bosnya.


Rendy adalah asisten pribadi yang sangat cerdas dan cekatan. bagi Rendy bekerja adalah salah satu hobinya.


"Ini berkas-berkas yang bapak minta tadi. Ada tiga acara yang akan di masuk di beberapa jam kosong untuk menggantikan beberapa film yang sudah selesai kontrak." Rendy sedikit menjelaskan.


"Kalau begitu saya pelajari dulu semuanya. Oh ya untuk acara kita segera di persiapkan tiga hari lagi akan kita mulai promosinya. kebetulan istri saya sudah masuk bekerja kembali hari ini. Saya juga minta kamu memberikan keamanan yang sangat ketat di sana. model kita juga harus standby di sana jangan sampai terlambat. kita syuting di lingkungan sekolah jadi harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anak." Pinta Jonathan kepada Rendy.


"Siap, pak. saya akan mengatur semuanya agar berjalan lancar dan sesuai keinginan bapak. Saya pamit ke ruangan lagi."


Rendy keluar dari ruangan kerja Jonathan dan kembali ke ruangan kerjanya. Rendy mendapatkan ruangan pribadi sendiri. sedangkan sekertaris kantor Jonathan hanya memiliki meja yang terletak tidak jauh dari ruangan Jonathan.


Jonathan segera memeriksa beberapa berkasnya dan dia mulai mempelajarinya. Sebagai seorang pemimpin Jonathan tidak hanya menerima hasil kerja anak buahnya saja. dia juga harus memeriksa semua berkas perjanjian dan juga dana. dia tidak mau menjadi pemimpin yang hanya terima beres dan tidak mengetahui bagaimana berjalannya perusahaan.


...****************...


Bel sekolah berbunyi. Dinniar dan Tasya bersiap untuk pulang ke rumah. Setelah mobil jemputan mereka datang. Dinniar dan Tasya masuk ke dalam dan pulang ke rumah.


"Pak, nanti saya akan pergi ke perusahaan pak Jonathan. jadi saya mau minta di antar." kata Dinniar.


"Baik, Bu. saya siap." ujar sang supir.


Dinniar dan Tasya pulang lebih awal sebelum jam makan siang. Karena memang satu Minggu ini hanya ada evaluasi pembelajaran saja. Sehingga tidak lama berada di sekolah.


Dinniar mencari beberapa menu masakan. dia ingin membuat makan siang untuk suaminya. Dia ingin membalas apa yang telah Jonathan berikan untuknya hari ini.


Dinniar dengar dari bi Imah bahwa Jonathan yang memasak sarapan saat Dinniar sedang sibuk mengurus Alesya dan Tasya yang akan pergi ke sekolah.


Dinniar ingin menjadi istri yang berbakti kepada suami. Setelah sampai di rumah Dinniar segera mengganti bajunya dengan baju dinas alias daster. Dia segera memainkan jari jemarinya untuk membuat olahan masakan. dipotongnya paprika, tomat, bawah merah dan bawah putih. dia juga menyiapkan merica instan sebagai tambahan bumbu.


Setelah memotong bahan untuk di olah. Dinniar menaruh wajan di atas kompor yang di taksir harganya mencapai seratus juta. Dia memasukkan bahan-bahan ke dalam wajan setelah mengatur temperatur dan waktu memasak. Dia tinggal memasukkan daging sapi ke dalam wajan dan menunggunya hingga matang. kompor akan mati sendiri sesuai waktu yang diatur untuk memasak.


Dinniar sambil menunggu masakannya matang dia mencetak nasi dengan cetakan berbentuk hati. Dia juga dengan cepat mempersiapkan semuanya sebelum jam makan siang tiba.


Dinniar selesai membuat masakan dan menaruhnya di dalam kotak makan. Dia mencuci tangan dan langsung mengganti pakaian serta merias diri.