
Dinniar menghampiri Darius. dia bertanya tentang kenapa Tasya bisa begitu tidak ingin bertemu dengan dirinya. Darius menatap lekat wajah mantan istrinya itu. Dan dia duduk di kursi kerjanya
"Tempo hari ada hal yang Tasya bicarakan kepadaku. Dan menurutku itu hal yang tidak mungkin." ujar Darius
"Tentang apa itu?" Dinniar bertanya kepada Darius
Setelah Dinniar bertanya untuk kesekian kalinya. Terjadi keheningan sejenak di antara mereka berdua. Darius memijat keningnya lalu menatap kembali wanita yang berdiri di hadapannya.
"Dia berkata, bahwa istriku yang sekarang adalah Cornelia." Darius menaikkan satu alisnya.
"Tasya bicara seperti itu dan apa tanggapan darimu?" tanya Dinniar
"Tentu saja aku menolaknya. Apa itu menurutmu perkataan Tasya itu masuk akal? Cornelia sudah tidak pernah mengusik kehidupan kita berdua lagi. sejak aku menceraikannya Dan sejak dia kabur dari rumah sakit jiwa." Darius menekankan setiap kata-katanya.
"Pasti ada alasan kenapa Tasya bicara seperti itu. apa kamu langsung tidak percaya kepadanya?" Dinniar kembali bertanya.
"Come on Dinniar, itu sudah masa lalu kita. seharusnya kamu tahu betul anak-anak mungkin kerap kali salah mengartikan sesuatu dan aku yakin saat itu Tasya salah mendengar." Darius bicara dengan nada ngotot.
"Mendengar apa?" tanya diniar yang penasaran dengan percakapan mantan suami dan anaknya.
"Kamu ingat dia pernah pergi dengan Tasya ke taman hiburan. Tasya bilang dia mendengar kalau seseorang memanggil istriku dengan nama Cornelia dan kebetulan sekali istriku menoleh saat itu." cerita Darius.
"Tunggu, dia menoleh dipanggil dengan nama yang bukan namanya sendiri? menurutku Tasya masuk akal." Dinniar berusaha membela putrinya meski dia juga belum memastikannya.
"Ayolah Dinniar, jangan lagi membawa-bawa Cornelia dalam kehidupan kita! terlebih lagi aku. Aku tahu. aku telah melakukan kesalahan dengan memilih dia daripada diri mu, tapi satu hal aku tidak mungkin dapat dibodohi untuk kedua kalinya oleh orang yang sama." Darius berusaha menegaskan kepada Dinniar bahwa dia tidak akan terkecoh.
"Aku rasa untuk saat ini kamu harus lebih memperhatikan lagi istrimu. Dan satu hal yang harus kamu ingat! jangan terlalu meremehkan apa yang didengar oleh anak kecil dan apa yang telah disimpulkan oleh anak kecil. mungkin kedengarannya itu hanyalah bualan mereka,tapi kita harus memeriksanya itu bualan atau kenyataan." Tegas Dinniar dengan sedikit melebarkan kelopak matanya.
Dinniar langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Darius dengan langkah yang sangat kesal.
Setelah kepergian Dinniar. Darius menjadi geram. dia mondar-mandir di sekitar meja kerjanya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Apa karena ini Tasya tidak mau menemuiku? apa yang salah denganku? Aku hanya tidak mempercayai kata-kata anakku karena memang tidak mungkin istriku adalah Cornelia. itu hal yang sangat mustahil." gerutu Darius.
.
.
.
Saat di perjalanan menuju koridor perusahaan mantan suaminya tak sengaja Dinniar berpapasan dengan istri baru dari Darius.
"Apa benar kamu adalah Cornelia?" tiba-tiba Dinniar mendekatkan wajahnya dan menatap lekat wanita yang berstatus ibu sambung putrinya itu.
"Apa maksudmu? siapa Cornelia? aku tidak pernah mendengar nama itu. apa dia rekan bisnis atau mantannya mas Darius?" tanya gadis muda dengan terbata-bata.
"Kamu tidak perlu tahu siapa dia, yang jelas kalau kamu adalah Cornelia. aku tidak akan segan-segan membuka wajah aslinya!" Dinniar lalu melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan kantor mantan suami.
"Apa-apaan wanita? itu apa yang diketahui tentang aku?" seringainya.
.
.
Flashback kejadian sebelum Dinniar pergi ke kantor Darius.
Tasya yang sudah berada di rumah sedang asyik mewarnai dan diniar masuk ke dalam kamar sang Putri. dia melihat Tasya sedang sangat serius, memang Tasya sangat suka warnai sejak dulu. dia senang dengan menggambar dan juga mewarnai.
"Sayang kamu lagi mewarnai apa?" tanya Dinniar sambil mendekatkan diri kepada Putrinya.
"Hai Mami aku dapat tugas mewarnai lukisan. dan kalau gambarku bagus, akan dipilih untuk menjadi salah satu karya yang dipamerkan, lalu dijual di pameran minggu depan. aku berharap gambarku akan jadian yang terpilih." gumamnya.
"Tentu saja Tasya'kan mewarnainya sangat bagus. Mami yakin pasti gambarmu akan terpilih." Dinniar menyemangati putrinya.
Menjadi seorang ibu atau orang tua bertugas untuk memberikan support yang baik untuk anak-anak dan itulah yang dilakukan Dinniar saat ini.
"Tasya boleh Mami bertanya sedikit?"ujar Dinniar, lalu Tasya mengangguk.
"Tasya kapan mau bertemu dengan papi? katanya papi kangen sekali sama Tasya. Tasya juga pasti kangen kan sama papi?" Dinniar bertanya dengan hati-hati.
Hal yang tak terduga terjadi. Tasya menggelengkan kepalanya sambil terus fokus dengan gambarnya.
"Tasya kenapa tidak mau ketemu papi dan juga tidak mau bicara dengan papi?" tanya Dinniar yang penasaran dengan sikap putrinya yang acuh kepada Darius.
"Aku hanya sedang malas aja Mami. tidak ada hal yang lain." jawabnya
Sebagai anak kecil Tasya sangat pintar menyembunyikan perasaannya Namun, sebagai orang tua Dinniar paham seperti apa sifat dan perasaan anak-anaknya.
"Kalau begitu Tasya teruskan belajarnya dan bersemangat. Mami mau pergi dulu sebentar oke." Dinniar menepuk bahu putrinya dan keluar dari kamar itu.