Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 132 - Papa idolaku



Jonathan masuk ke sebuah toko donat yang menjadi kesukaan anak-anaknya. Dia membeli lima box donat untuk sekalian dibagikan kepada beberapa pekerja yang ada di rumahnya.


Jonathan membawa dua kantong donat besar di kedua tangannya. Dia senang sekali bisa membelikan apa yang menjadi kesukaan anak-anaknya.


Dia masuk ke dalam mobil dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Dia juga dengan segera mengendarai mobil agar cepat sampai di rumah.


"Semoga mereka semua suka." Jonathan semakin kencang mengendarai mobilnya di kondisi jalan yang sepi.


...****************...


Dinniar masuk ke dalam kamar kedua putri cantiknya. "sayang, kalian sudah selesai belajarnya?" tanya Dinniar sambil melihat ke dalam kamar.


"Sudah Mami. aku sudah mengerjakan tugas rumah yang diberikan Bu guru. Aku di bantu Kakak Alesya. aku sangat senang punya kakak. andaikan sejak dulu aku punya kakaknya." Lagi-lagi Tasya mengeluh begitu.


"Eh, Tasya. enggak boleh begitu. papa dan mami memang jodohnya baru sekarang. benarkan mami?" tanya Alesya sambil menatap wajah cantik maminya.


"Benar kata kak Alesya. kita semua hidup sesuai takdir dari Allah. jadi kalau belum waktunya ya tidak bisa diburu-buru. SMA haknya seperti Tasya yang kuliah. kalau belum waktunya naik ke kelas dua, ya belum naik. karena naik kelas sudah ada waktunya sesuai yang ditentukan." Jelas Dinniar dengan menggambarkan keadaan.


"Oke Mamih dan kak Alesya. Tasya tidak akan mengeluh lagi karena kita sudah hidup bersama saat ini." Tasya melingkarkan tangannya di leher Dinniar dan memeluknya.


Memiliki anak yang aktif dan juga sangat peka terhadap keadaan. membuat Dinniar harus selalu siap memberikan jawaban dan tindakan agar anaknya bisa mengerti. Dinniar akan menggambarkan situasi dengan istilah atau persamaan kondisi. sehingga membuat anak lebih cepat mengerti.


"Kita turun ke bawah. karena sebentar lagi papa sampai di rumah. pasang wajah senang saat menyambut papa pulang. supaya papa hilang rasa lelahnya sehabis pulang bekerja." pinta Dinniar sambil mencubit kecil kedua pangkal hidung putrinya bergantian.


Kedua putrinya mengangguk dan bersiap untuk ikut turun ke lantai bawah. Mereka akan berkumpul di sana sampai waktu tidur tiba. Ada ruangan spesial yang di buat oleh Jonathan. ruangan itu dibuat untuk mereka berkumpul bersama.


Dinniar membuka ruangan itu dan menyalakan pendingin ruangan. Di sana terletak televisi beserta teman-temannya. bangku pijat, sofa, karpet lantai, bantal, perosotan kecil untuk Tasya bermain, ada juga kulkas kecil. Ruangan itu isinya sederhana. dan memang di buat untuk mereka bercengkrama membuat ikatan cinta di hati.


Setelah menyalakan pendingin ruangan. Dinniar kembali keluar dan menunggu suaminya pulang dengan menyetel televisi di ruang tengah bersama anak-anak.


Mertua dan ibunya sudah pulang saat Dinniar dan Jonathan pulang ke Jakarta. karena kedua ibu itu bukan hanya berperan sebagai seorang istri. mereka berdua juga seorang pengusaha.


"Assalamualaikum."


yang ditunggu akhirnya datang dengan satu plastik di tangannya.


"Papa." seru kedua anak cantik itu.


"Ini donat untuk kita satu box sisanya untuk asisten rumah tangga." kata jonatan memberikan plastik kepada istrinya setelah mengecup lembut kening Dinniar.


"untuk para pekerja yang menjaga di luar bagaimana?" tanya Dinniar.


"Mereka sudah aku kasih tiga box. kamu tenang saja." Jonathan tersenyum.


"Yasudah kamu bersihkan badan dulu. pakaian sudah aku siapkan di atas meja ya.


"Kita tunggu papa dulu ya. baru nanti kita makan bersama."


...****************...


Darius dan Cornelia sedang asik di kamar mereka dengan beberapa ******* yang lolos dari bibir keduanya.


Cornelia yang perutnya sudah terlihat buncit masih sangat agresif melayani suaminya.


"Ahh ... yes sayang." ucapnya sanbil ******* nafas terdengar.


Darius tidak bisa menolak hasratnya lagi. kini dia merasa hubungan ini sama-sama butuh sentuhan bukan cinta lagi.


Setelah puas dengan aksi panas di atas ranjang. Darius dan Cornelia merebahkan tubuh mereka di kasur dengan penuh peluh ditubuh mereka.


"Besok aku akan pergi ke psikolog yang mengobati Tasya. mereka sudah mengatur jadwal untukku dan tasya bertemu." Darius memberitahukan jadwalnya besok.


"Ya sudah kalau begitu kamu harus semangat. aku akan membantu tugas lainnya. besok aku bisa ke kantor agencymu untuk memantau pekerjaan di sana." Cornelia bangun dari tidurnya.


Dia masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Darius masih beristirahat karena begitu lelah.


...****************...


Keluarga Jonathan begitu bahagia. mereka sedang asik tertawa lepas sambil berbincang-bincang ringan.


"Tadi itu lucu banget Pah. temen aku bisa-bisanya menggelinding saat sedang memasang bendera. dia itu awalnya mundur-mundur eh terinjak kakinya sendiri jadi dia jatuh." tutur Alesya sambil terus tertawa.


"Masa sekolah itu memang sangat menyenangkan. jadi nikmati masa-masa sekolah kalian. sekolah yang rajin dan belajar yang giat. papa akan mendukung penuh pendidikan kalian berdua." Jonathan sangat senang saat bersama dengan putri-putrinya.


"Papa juga harus menikmati peran papa sebagai orang tua. karena papa itu idolanya Tasya. Tasya bangga sekali punya papa yang hebat." puji Tasya.


mendengar pujian dari putrinya Jonathan semakin bahagia menjadi orang tua. perannya menjadi papa memang sangat apik. dia itu sangat hebat sebagai seorang papa sehingga Tasya menjadikan dia sebagai idolanya.


Tasya memeluk Jonathan erat-erat. dia sangat sayang dengan papanya itu. Alesya dan Dinniar juga ikut berpelukan bersama.


benar kata orang. siapa yang memiliki ketulusan di dalam hatinya akan berkumpul dengan orang-orang sebangsanya atau bisa disebut akan bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang tulus juga.


Dinniar dan Jonathan sangat percaya akan hal itu. mereka percaya orang baik akan bersama dengan orang baik juga.


Menjadi idola kedua putrinya membuat Jonathan semakin bahagia dan semakin semangat untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya. dia semakin yakin kalau keputusannya menikah dengan dinniar dan mengangkat Alesya menjadi putrinya bukan hanya keponakannya adalah keputusan yang sangat tepat baginya.


Gadis remaja yang memiliki alis tegas, mata yang indah, hidung yang mancung, pipi yang gembul dan wajah oval itu menunjukkan rona wajah yang sangat bahagia. Jonathan menatap wajah keponakannya yang sudah sah menjadi putrinya karena surat adopsi Alesya sudah keluar. meski dia adalah anak kakaknya dan kakak serta kakak iparnya sudah tiada. Jonathan tetap melakukan prosedur adopsi. Karena keluarga kakak iparnya masih ada. dia takut suatu hari nanti keluarga kakak iparnya menginginkan Alesya ikut dan tinggal bersama mereka.


Jonathan tidak mau Alesya tinggal dengan keluarga kakak iparnya. keluarga kakak iparnya memang baik, tapi Jonathan tidak bisa percaya orang lain untuk mengurus Alesya. Alesya adalah malaikat kecil yang hadir di dalam hidupnya. malaikat yang mengubah dirinya menjadi sosok yang lembut dan bahkan sekarang dia mampu menjadi sosok seorang ayah yang sempurna bagi Alesya dan Tasya.