
Jonathan dan Dinniar membawa keluarga mereka pergi ke tempat yang sangat indah. Mereka pergi ke sebuah tempat wisata yang mengelola sebuah resort.
Di sana mereka akan membuang kenangan pahit yang terjadi akhir-akhir ini karena ulang wanita pembawa sial dalam kehidupan mereka semua. Baik Dinniar, Tasya, Jonathan dan Alesya sudah menjadi korban dari tindakan tidak bertanggung jawab Cornelia.
"Ayo kita berenang." ajak jonathan kepada kedua putrinya yang cantik dan menggemaskan.
Dinniar hanya memperhatikan ketiga orang yang begitu berharga dalam hidupnya. Dia sangat amat bahagia melihat Jonathan begitu tulus kepada Tasya. Senyuman yang disunggingkan oleh Jonathan sangatlah natural tanpa dibuat-buat.
"Mamih, ayo cepat ikut berenang." Ajak Alesya kepada Dinniar.
"Ayo, sayang. kita berenang bersama." Jonathan ikut mengajak Dinniar untuk masuk ke dalam kolam renang.
Dinniar berdiri dan membuka handuk yang melekat di tubuhnya. Dia menyelipkan kakinya perlahan karena dia sedang mengandung. tubuh Dinniar lama-lama masuk ke dalam air dan Jonathan memeganginya dengan penuh kasih sayang.
"Siram Mamih." Tasya berteriak sambil memercikkan air ke arah Dinniar.
mereka akhirnya saling menyirami air dan tertawa riang. Hari ini kini terasa lebih ringan dari hari kemarin. Beban yang ada di pundak Dinniar terasa sudah mulai terangkat perlahan-lahan. Dia sudah mulai bisa menikmati hari-harinya bersama dengan keluarga. Dinniar dan Jonathan berjanji akan saling melindungi satu sama lain. mereka akan mulai kembali kehidupan manis bersama kedua putri cantiknya.
"Jangan berhenti tersenyum. Senyuman mu adalah kekuatan untukku. Dirimu adalah canduku." Jonathan membisikkan kata manis di telinga istrinya sambil memperhatikan kedua putri mereka.
"Udah mau punya anak tiga masih ajah suka menggombal." kata Dinniar sambil terkekeh.
"Mau punya anak sebelas pun aku akan tetap memberikan gombalan terdasyatku." Jonathan mencolek pangkal hidung istrinya dengan lembut.
"Kamu itu mas, emangnya dikira mau bikin tim sepak bola apa." Dinniar kembali tersipu.
Dinniar di kehamilan keduanya ini sedikit berbeda. dia lebih senang selalu bersama dengan Jonathan. tidak seperti saat mengandung Tasya. dia tidak suka ketika melihat Darius dekat dengannya. ada saja tingkah Dinniar jika Darius mulai mendekatinya. Namun, bayi yang ada di dalam kandungannya ini entah kenapa betah sekali dekat dengan papanya. Dinniar bahkan kerap kali manja kepada Jonathan ketika mereka berada di dalam kamar.
"Sayang ayo hari sudah mulai sore. kita sudahi dulu berenangnya. sekarang kalian mandi dan ingat jangan lupa pakai minyak
kayu putih untuk menghangatkan tubuh." Pesan Dinniar kepada kedua putrinya.
"Siap mami." keduanya serempak menjawab.
Dinniar dan jonathan ikut masuk ke dalam villa. mereka menginap tanpa asisten rumah tangga dan juga baby sitter. Hanya ada mereka dan beberapa bodyguard untuk melindungi dan siaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"sayang, hari ini aku bahagia sekali. aku sangat ingin kita pergi bersama seperti saat ini sejak lama. karena kejadian kemarin-kemarin aku sempat berpikir kalau mungkin kita tidak akan bisa berlibur bersama." Ujar Dinniar sambil memeluk tubuh suaminya.
Mereka setelah membersihkan diri langsung naik ke atas ranjang dan mereka langsung bermesraan sebelum makan malam tiba.
"Jangan pernah pesimis dalam kehidupan ini. Tidak ada penderitaan yang berlangsung lama dan tidak ada kebahagiaan yang abadi. semua akan tuhan berikan sesuai porsinya untuk menguji keimanan kita dan juga menguji diri kita apakah bisa melewatinya dengan baik dan memetik hikmah sesudah ujian itu selesai." Jonathan menanggapi kegelisahan hati yang pernah istrinya rasakan dengan sangat bijak.
"Aku tahu kamu akan selalu memiliki pemikiran yang tenang dan lurus. Makanya aku yakin sekali kamu bisa membawa kita semua keluar dari ujian dan kesulitan ini. terima kasih sudah menjadi pahlawan untuk keluarga." Dinniar mengecup salah satu pipi suaminya.
"Terima kasih juga sudah menjadi istri yang sangat baik dan tulus menyayangi Alesya sebagai putrimu. jika ada kehidupan yang akan datang. aku akan pastikan mencarimu agar kamu sejak awal menjadi milikku dan aku takkan menyakitimu." Jonathan merengkuh istrinya lebih dalam ke dalam pelukannya.
Hidup bagaikan roda yang terus berputar. Dia akan menaruh kita kadang di atas dan kadang di bawah. Bahkan kadang diantara keduanya.
.
.
.
di dalam kamar Alesya sedang sibuk membacakan kisah yang ada di dalam buku cerita.
Alya terpesona menatap wajah Nina yang cantik ini pertama kali sepupunya itu berlibur di Bukittinggi Sumatera Utara Nina sebaya dengan Alia Nina sangat suka melihat mata Alia yang berwarna hijau
Dan keluarganya tinggal di London ayahnya orang Inggris dan ibunya berdarah Minang mereka baru saja tiba di rumah atuk Gadis itu sangat lucu jika berbicara bahasa Indonesia
Alia menyambut Saudara sepupunya yang datang ke rumahnya dengan senyum yang sangat lebar
Lalu Aliya pun memeluk sepupunya itu dengan erat .
Nina membagikan oleh-oleh yang dibawanya dari London Alia mendapatkan sebuah miniatur jam Big Ben ciri khas ibukota Inggris sedangkan Alia segera memperingat pada salah satu keistimewaan kotanya
Nina Di sini juga ada yang seperti Big Ben lalu Nina tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Aliya
Aliya pun mengulangi kalimatnya dengan perlahan agar Nina mudah paham
Alia memberitahukan sebuah Jam Gadang Jam yang artinya besar lalu Nina mengganggu kepala matanya berminar menunjukkan kalau dia sangat tertarik dengan apa yang diceritakan oleh saudaranya Alia
Mesin Jam Gadang sama persis seperti yang digunakan pada Big Band di dunia hanya ada dua buah jamnya sendiri didatangkan khusus dari kota rotterda biar Alia kepada sepupunya itu
Aliya bercerita banyak tentang Jam Gadang lalu Nina mendengarkan dengan seksama meskipun dia tidak terlalu bisa membayangkan apa yang diceritakan oleh saudara sepupunya Alia
Keesokan harinya Nina diajak oleh Aliya dan ibunya untuk berkeliling kota Bukittinggi sementara ibu dan ayahnya Nina memilih tinggal di rumah atuk.
kota Bukittinggi selalu terjaga kebersihannya Nina sendiri mengakui betapa rapi dan indahnya kota Bukittinggi.
dulu kota itu sempat dijuluki dengan nama Faris Van Sumatera di sini juga ada tempat indah yang bernama ngarai Sianok.
Nina ingat ayahnya pernah menunjukkan beberapa gambar grand canyon di internet dan di buku. menurut Nina itu merupakan tempat yang sangat menakjubkan dan ternyata di Bukittinggi juga ada tempat yang sama seperti itu.