Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 6 - Mulai Berubah



Dinniar berhenti bicara, dia tidak mau meneruskan perdebatan kecil ini, perkataannya ternyata tidak diterima oleh suaminya, memilih diam adalah jalan terbaik, menunggu emosi reda dan suasana hati kembali membaik baru dibicarakan lagi, saat ini mungkin dalam benak wanita ini, suamiku sedang lelah, banyak pekerjaan yang diurus dan juga pulang malam, tapikenyataannya berbeda.


Kenyataan yang sebenarnya,


Setelah melakukan panggilan telepon dengan Caroline di dalam mobil, Darius segera menancap gas mobilnya dan menuju apartemen kekasih gelapnya, tongkatnya yang sudah mengeras sudah tidak sabar ingin menikmati segitiga yang membuatnya tidak bisa berpikir normal.


Ting Tong


Bel di bunyikan oleh Darius dan seorang gadis muda yang begitu dia gilai, membuka pintu kamar Appartemen dengan lenggunakan Lingerie, sungguh pemandangan yang begitu dinantikan oleh Darius.


Caroline menarik lengan kekasihnya yang sudah menjadi suami orang dan juga punya satu orang putri, dengan cepat Caroline memberikan servis plus-plus demi memuaskan kekasihnya.


******* mulai terdengar dari bibir Darius, membuat Caroline semalin aktip mengulum, Darius mengangkat tubuh Caroline keatas peraduan mereka, dengan cepat dia melucuti pakaiannya, kini Darius siap mendapatkan goyangan erotis dari sang kekasih.


"Bagaimana? Apa goyangan istrimu seperti punyaku?" tanya Caroline sambil terus menari diatas tubuh Darius.


"Tarianmu yang terbaik, aku suka," bisiknya ditelinga Caroline.


Mereka berdua sungguh tidak tahu aturan, belum menikah, baru berpacaran tapi sudah berbuat hal yang tidak seharusnya dilakukan, terlebih Darius mengkhianati istrinya, dia benar-benar tidak memikirkan konsekuensi apa yang akan dia dapat jika perselingkuhannya terbongkar.


Selasai melakukan penyatuan yang sangat sengit. Darius dan Caroline memberishkan diri mereka dan lanjut sarapan pagi, Darius sampai di Appartemen Caroline pukul delapan pagi, butuh waktu satu jam untuk dirinya sampai, sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Dua jam sudah permainan mereka lalukan dan membuat perut keroncongan.


"Hari ini, kamu seharian bersamaku, kan Mas?" tanya Caroline.


"Siap Ratuku, aku akan menemanimu hari ini, aku sangat rindu, sehari tidak bertemu membuat hatiku sesak dan tidak fokus bekerja." Darius menyentil kecil kening Caroline.


.


.


Darius memeluk Dinniar dari belakang ketika sedang membereskan jas dan kemeja yang dipakainya, dia mengandarkan kepalanya di bahu istrinya yang lebih pendek darinya.


"Maafkan aku, aku terlalu lelah sehingga berbicara seperti tadi, aku akan mengatur ulang jadwalku dan lebih memperhatikan dirimu dan juga Tasya."


Hanya dengan mendengar perkataan itu, hati Dinniar kembali melembut, dia sudah tidak lagi merasa sakit, dia kembali memberi pengertian.


Dinniar membalikkan badannya dna mereka saling berpelukan. "Aku mengerti."


"Terima kasih, kamu selalu menjadi perempuan yang pengertian, aku tidak akan menegcewakan dirimu." Janjinya yang sudah pasti tidak akan ditepati.


"Besok aku ada pekerjaan ke luar kota lagi, kali ini pemilik produk kecantikan ingin aku mengawasi langsung sesi pemotretan dan juga penyuntingan video promosi." Darius mengurai pelukannya.


Dinniar hanya bisa tersenyum, seharusnya dia sudah sadar sejaka awal menerima cinta Darius yang berbisnis dibidang periklanan dan modeling, sudah pasti akan keluar kota dan sudah pasti akan dikelilingi wanita.


"Aku lelah, aku tidur duluan." Darius mengecup kening istrinya.


Dinniar sekali lagi hanya mengulum senyuman, senyuman yang begitu getir, masih ada keraguan, sebab baru akhir-akhir ini suaminya terjun langsung ke lapangan dan selalu pulang terlambat.


"Aku yang khawatir atau memang sikapmu yang mulai berubah? Biasanya jika aku membahas tentang keinginan Tasya, kamu selalu menyambut dengan senyuman dan meluangkan waktumu ditengah-tengah kesibukan kerjamu. Maaf jika aku merasa begini, semua karena aku takut rumah tanggaku hancur karena kehadiran orang ketiga." Dinniar keluar kamar.


.


.


Dinniar menjumpai anaknya di dalam kamar, dia menatap wajah lembut putri cantiknya.


"Bagaimana jika perkataan mereka benar? Bagaimana nasib putriku?" Ketakutan kembali menyerang hati wanita berusia tiga puluh tahun.


Waktu bergulir dengan cepat, suara Adzah subuh sudah berkumandang, Dinniar langsung terbangun dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai hamba ALLAH SWT yang baik.


Setelah mengambil air wudhu dan masuk ke dalam mushala kecil yang di bangun di rumahnya, ternyata Darius sudah menunggunya di sana untuk shalat subuh berjamaah.


"Kita Shalat berjamaah." Darius bersiap menjadi imam.


Mereka berdua dan terkadang bertiga dengan Tasya Selalu Shalat Subuh, Maghrib dan Isya berjamaah, tapi sekarang jangankan shalat berjamaah, makan malam bersamapun sudah mulai jarang.


"Assalammualaikum," Salam setelah tahiyat akhir terdengar, mereka selesai shalat subuh.


Dinniar meraih tangan suaminya dan mengecupnya, sedangkan Darius mengusap kepala belakang Dinniar, pemandangan yang begitu harmonis andai Darius tidak main serong.


Matahari semakin memancarkan cahayanya, keluarga kecil ini menikmati sarapan pagi mereka bersama, Dinniar begitu bahagia melihat suaminya kembali bercanda tawa bersama malaikat kecil mereka.


"Semoga pemandangan ini, selalu bisa terlihat setiap harinya, tawa putriku begitu bahagia, Tuhan jangan ambil kebahagiaan ini dari kami." Do'a Dinniar.


.


.


"Din ... Dinniar." Seseorang memanggil namanya dari kejauhan ketika dia hendak memanrkirkan motornya.


Dinniar mencari sumber suara. "Violin."


Dinniar langsung menghampiri sahabatnya, mereka duduk bersama di kantin sekolah harapan, sepertinya Violin ada sesuatu yang ingin diberitahukan kepada Dinniar.


"Din, pulang sekolah nanti, temenin aku ke dokter kandungan yuk." Ajak Violin dengan wajah sedihnya.


"Ada apa Vi? Kenapa enggak pergi sama Sam ajah?" tanya Dinniar.


"Aku takut Din, aku takut mengecewakan suamiku lagi, sudah satu tahun pernikahan, kami tidak kunjung dikaruniai momongan." Violin menangis.


Sebagai sahabat, dirinya tidak tega melihat ujian yang menghampiri rumah tangga sahabatnya, Dinniar memeluk sahabatnya.


Pelukan adalah cara terbaik untuk menghibur. "Aku akan menemanimu, semoga kali ini keberuntungan memihak kepadamu."


Violin mengusap air matanya. " Terima kasih, kamu selalu mengerti kondisiku."


"Aku pergi ke ruanganku dulu, istirahat nanti aku akan menemuimu." Dinniar bergegas.


Violin ssalah satu pemilik toko di dalam kantin sekolah, sesekali saat dia sedang suntuk, dirinya akan pergi ketoko untuk sekedar berbincang denga sahabatnya atau melihat anak-anak jajan di tokonya.


.


.


Setiap rumah tangga, memiliki permasahalahannya masing-masing, tidak ada yang sempurna, ketika kita melihat rumah tangga orang lain yang begitu sempurna, janganlah merasa rumah tangga kita jauh dari kata sempurna, kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dengan hidup wajar, memiliki prasangka baik dan menciptakan suasana bahagia versi kita masing-masig, karena bahagia bukan didapat tapi diciptakan, ketika kita menciptakannya bukan hanya kebahagian saja yang kita rasakan tapi juga merasa sempurna berada ditengah-tengah orang yang kita sayangi.


.


.


.